Thursday , November 23 2017
Home / Kolom / BERSAUDARA WALAU BERBEDA
sumber: www.ldiilampung.com

BERSAUDARA WALAU BERBEDA

Manusia diciptakan berbeda-beda, baik jenis kelamin, bangsa, suku bahkan kualitas intelektual dan segala sifat yang melekat padanya. Demikianlah titah Pencipta, Allah Yang Maha Kuasa. Mengingkari keberadaan manusia yang beragam dan berbeda-beda tersebut sama halnya dengan mengingkari iradah dan kekuasaan-Nya. Perbedaan untuk hal yang tampak, seperti jenis kelamin dan kebangsaan memang sudah kemestian yang sudah bisa diterima secara umum, tapi untuk kualitas diri bahkan kepribadian, tampaknya sesuatu yang masih butuh proses untuk diyakini sebagai kehendak-Nya, buktinya masih banyak orang tua yang memaksa anaknya untuk memiliki prestasi di bidang yang tidak menjadi passion anaknya. Termasuk dalam kurangnya kesadaran tentang keberagaman ini adalah kemestian adanya perbedaan dalam keyakinan keberagamaan. Bukan hanya antar umat beragama, tapi juga internal umat beragama sendiri. Bahkan yang kedua ini tampaknya lebih sulit.

Tentu tidak ada manusia yang bisa mengatur dan menentukan secara pasti kelahiran seseorang. Dari rahim siapa dan dari orang berkebangsaan apa juga bukan urusan manusia. Seperti kita yang ada di sini saat ini, dengan segala kualitas diri dan status yang melekat atau dilekatkan orang pada kita. Banyak hal yang tidak bisa kita ketahui secara pasti apa sebabnya. Bukankah sebagian besar dari kita lahir dengan keyakinan keagamaan tertentu lebih karena faktor lingkungan. Orang tua dan lingkungan yang beragama Islam, kemungkinan besar akan melahirkan anak dan generasi muslim. Demikian juga orang tua dan lingkungan dengan keyakinan lain, hampir bisa dipastikan akan menjadikan anak dengan keyakinan keagamaan yang sama.

Seolah mau menagih kesadaran keberimanan yang meyakini bahwa Allah menakdirkan manusia berbeda, penulis ingin mendiskusikan persaudaraan dalam konteks kehidupan kebangsaan kita. Tema persaudaraan selalu aktual, terlebih di saat sedang terancam oleh berbagai  kepentingan termasuk yang konon karena agama. Tetapi tampaknya bukan karena agama, hanya tema ini lebih “seksi” sebab bisa menarik urat nadi semua orang.

Persaudaraan, secara semantik akar katanya saudara,  yang berasal dari kata akhun (Arab). Kata ini masdarnya ukhuwwah, yang artinya persaudaraan. Kata persaudaraan dalam kehidupan sosial menjadi penyemangat karena darinya terlahir komunitas yang menjadi cikal bakal terwujudnya masyarakat dan lahirnya semangat kebangsaan, nasionalisme. Tanpa persaudaraan, mustahil bisa terwujud suatu bangsa. Keberhasilan imperialisme barat klasik mencabik-cabik kekuatan timur karena persoalan kurangnya kesadaran nasionalisme ini. Tidak dipungkiri, pada semangat yang tersimbol dari kata ini pula kita akan hancur, bila tidak mampu menterjemahkannya dalam tindakan keseharian.

Persaudaraan yang dalam bahasa Arab ukhuwwah ini pada mulanya diambil dari kata yang berarti ‘memperhatikan’. Kata ini memberi kesan bahwa persaudaraan meniscayakan adanya perhatian antara satu dengan yang lain. Mungkin saja rasa persaudaraan itu pertama kali muncul karena adanya persamaan satu orang dengan yang lain. Baik persamaan suku, bangsa, bahasa, hobi bahkan bisa juga hanya karena persamaan kepemilikan merek property tertentu, seperti yang marak akhir-akhir ini. misalnya saja dalam sebuah stiker yang tertulis, “karena vespa kita bersaudara”, menandakan adanya persaudaraan karena kepemilikan barang yang sama berupa kendaraan. Lebih sempit lagi, mungkin bukan karena kepemilikan, tapi hanya karena sedang dikendarai. Artinya, ketika sama kendaraannya muncul perhatian yang menggiring pada rasa persaudaraan.

Islam sebagai dasar kehidupan sosial dan keberagamaan manusia sangat menekankan persaudaraan kepada umatnya. Islam tidak menyukai umat manusia satru dan bermusuhan. Kelemahan umat di level manapun seringkali disebabkan oleh rasa persaudaraan yang mulai kendur. Bukan hanya karena faktor eksternal yang menyebabkan robohnya tatanan kehidupan kemasyarakatan, tapi bisa jadi karena aspek internal sendiri yang kurang solid dalam menjalin kekuatan. Seumpama tim sepak bola yang sedang bertanding, kekalahannya bukan saja karena lawannya tangguh, tapi bisa jadi karena pertahanannya rapuh dan kesolidannya kurang. Analogi demikian tepat karena kebiasaan lama kita selalu menyalahkan orang lain bila mengalami kegagalan.

Namun pada kenyataannya, Islam sebagai sistem nilai dan norma bagi umat manusia memang tidak bebas dari masalah. Fenomena yang kerap muncul saat ini, seperti kekerasan yang mengatasnamakan Islam dengan dalih demi keyakinan yang benar. bahkan klaim sesat atas keyakinan yang berbeda justru menjadikan Islam seolah-olah melegitimasi tindakan-tindakan yang tidak pada tempatnya. Hal tersebut  sebenarnya mengingkari keberagaman pikiran dan kebudayaan yang menjadi takdir Allah Swt. Kemajemukan adalah fakta yang tidak bisa ditolak, naum bisa saja dirubah. Masyarakat yang berperadaban harus mengakui dan menghargai adanya berbagai macam tradisi keagamaan dan moral, dengan catatan tradisi tersebut memiliki kontribusi dalam membentuk jalinan sosial yang inklusif dan berpotensi mewujudkan kemaslahatan, bukan yang tertutup dan merusak.

Islam yang diturunkan lewat Kanjeng Nabi merupakan bentuk kasih-sayang Allah Swt. kepada umat manusia. Ia juga menjadi bukti atas ketidak-dewasaan manusia dalam persepsi dan motivasi etis dalam beragama. Memang ada kaitan yang erat antara  Islam dengan kasih-sayang Allah di satu pihak, dan Islam dengan kelemahan manusia di pihak yang lain. Dengan ungkapan lain, manusia adalah makhluk yang memiliki kemampuan terbatas, karena itu manusia membutuhkan bimbingan dan peringatan agar tidak menyimpang dari jalan yang benar. Karena itulah Allah mengutus para rasul sekaligus kitab suci sebagai pedoman dalam berperilaku. Dengan tindakan yang tidak ramah, bagaimana sifat kasih-sayang Allah itu diimplementasikan. Bukankah Rasul melarang kekerasan, bahkan kepada orang yang belum beriman sekalipun.

Hilang atau menipisnya rasa persaudaraan terhadap orang atau kelompok lain kemungkinan karena kurangnya pemahaman mengenai orang atau kelompok lain tersebut. Bahwa kelompok lain itu kemungkinan membawa nilai kebenaran juga diabaikan. Padahal para Imam Mujtahid, Muhammad bin Idris yang lebih dikenal dengan Imam Syafi’i misalnya, mengakui kemungkinan adanya kebenaran pada hasil ijtitihad Imam lain. Dengan rendah hati beliau juga mengakui kemungkinan salah hasil ijtihadnya. Dalam hal ini, perlu adanya kesaling-pahaman mengenai pikiran dan orientasi yang dimiliki masing-masing.

Peradaban manusia selalu berkembang, demikian juga pemikiran seseorang atau kelompok yang berhubungan dengan  keagamaan. Berkembangnya pemikiran meniscayakan perubahan pandangan dan penilaian terhadap obyek tertentu. Upaya menciptakan suasana kesaling-pahaman menjadi hal yang penting dalam situasi yang hampir merusak persaudaraan ini. Tidak menutup kemungkinan kondisi demikian pada gilirannya akan memperlemah kekuatan yang dimiliki umat Islam.

Untuk mendorong terciptanya persaudaraan, beberapa hal perlu diketahui menyangkut perbedaan dan perkembangan pemikiran yang selalu mewarnai kehidupan manusia. Pertama, setiap madzhab atau kelompok pemikiran keagamaan memiliki pandangan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Kelompok Syafi’iyah misalnya, ada perbedaan pendapat dengan pendirinya, Imam al-Syafi’i. Kaum sunny juga memiliki beberapa perbedaan antara As’ariyah dan Maturidiyah. Bahkan Imam Syafi’i mengalami perubahan pandangan ketika masih di Irak dengan sesudah beliau ke Mesir. Perubahan pemikiran dan pandangan ini dikenal dengan istilah qaul qadim dan qaul jadid.

Sementara itu, contoh lain di Syi’ah, yang sering menjadi bahan empuk untuk meracuni kesatuan  umat Islam ada beberapa sekte yang masing-masing memiliki perbedaan pandangan. Karena adanya perbedaan tersebut, ada di kelompok syi’ah sendiri yang menganggap sesat syi’ah yang lain. Penisbahan pendapat mengenai hal tertentu yang tidak tepat bisa menyebabkan kekeliruan. Misalnya kelompok yang tidak ramah budaya  dianggap sebagai pendapat kaum sunni secara umum. Padahal sikap demikian juga memang ada pada kaum yang menyebut dirinya sebagai ahli sunnah. Hal demikian menurut Prof. Dr. Quraish Shihab adalah karena faktor kekeliruan mengutip pendapat kelompok lain yang dianggap sebagai pendapat kelompok tersebut.

Kedua, dalam sejarah ditunjukkan bahwa pemikiran apapun, termasuk pemikiran keagamaan selalu dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor tersebut berupa perkembangan ilmu/teknologi, sistem sosial kemasyarakatan, kecendrungan dan tendensi tertentu, bahkan situasi sosial politik dan budaya juga ikut andil dalam mempengaruhi pemikiran seseorang. Semua pemikiran pasti terjadi perubahan-perubahan yang menyangkut keyakinan dan madzhabnya. Dalam situasi demikian, mestinya kemaslahatan menjadi orientasi yang perlu dikedepankan. Namun perlu diingat agar dengan orientasi tersebut tidak kemudian membolehkan semua cara.

Kemaslahatan menjadi topik yang sangat penting saat ini, sehingga menggugah banyak tokoh untuk berupaya menyatukan atau paling tidak mendekatkan sebagai implementasi persaudaraan dari bermacam-macam latar keimanan atau madzhab. Upaya tersebut tentu saja dengan pertimbangan-pertimbangan baru yang up to date, termasuk mengenai sumber (referensi) dan fakta empirik di lapangan. Kalau peng-uptodate- an tersebut tidak dilakukan, itu sama halnya dengan meninggalkan kaidah yang menegaskan bahwa ”Islam itu tepat di jaman manapun”-shalihun li kulli zaman wa makan. Ketidak-tepatan dalam pengambilan sumber juga akan mengakibatkan saur manuk (debat kusir) yang bisa dikatakan ada pangkal tapi tidak tahu ujungnya.

Ketiga, dari golongan atau madzhab apapun harus bisa dibedakan antara pendapat ulama dan orang awamnya. Seringkali ketika komentar yang tidak elok muncul atas suatu kejadian lansung menyebar dan membuat panas suasana. Pengalaman penulis, ketika arah kiblat masjid dibetulkan sesuai pedoman yang valid, sains berupa google map dan ahlinya, tersebar berita di masyarakat bahwa arah kiblat akan dipindah ke kota Qom Iran. Ini terjadi karena santernya isu Syi’ah yang dianggap mengancam Islam bahkan NKRI. Sudah tentu pendapat ulama dan cendekiawan berbeda dengan orang awam. Ketika suatu golongan dinilai tidak dari ulama atau cendekiawannya, misalnya orang NU (nahdiyyin) atau Muhammadiyah dinilai dari masyarakat yang tinggal di pedesaan, akan banyak menemukan kekeliruan dalam masalah keagamaan, karena lebih banyak berdasarkan teks di lapangan daripada sumber di kitab.

Umat ini akan mudah mengukir keindahan persaudaraan jika bisa menemukan kesepahaman dalam perbedaan. Namun hal tersebut mustahil terwujud jika para ulama dan cendekiawannya tidak menjalankan fungsinya dengan benar. Kegagalan menjalankan fungsinya dengan benar tersebut di antaranya dengan ikut-ikutan menghembuskan rasa permusuhan kepada pihak yang berbeda. Bila hal itu yang terjadi, umat Islam tidak perlu lawan untuk keok bahkan di kandangnya sendiri.

Tidak boleh dilupakan, kita ini bersudara, ”jadilah hamba Allah yang senantiasa diliputi rasa persaudaraan”, begitu sebuah Hadits mengatakan. Agama dengan madzhab tertentu yang diyakini seseorang, adalah persoalan keyakinan akan suatu yang mendatangkan ketenangan. Ketenangan diri membawa pada kenyamanan jiwa. Agama bukan hanya persoalan benar atau salah, apalagi hanya dengan melihat pendapat orang lain. Seseorang boleh nyaman dengan suatu keyakinan, tapi orang lain belum tentu. Dengan mempertimbangan kenyamanan orang lain, terlebih dalam kehidupan sosial yang beragam, barangkali tidak salah bila sebuah ayat diartikan bahwa agama yang benar itu adalah agama yang dilandasi kepasrahan kepada Tuhan.

Akhirnya, penulis menutup tulisan ini dengan mengutip pesan dari orang kecil yang berada pinggiran arus besar struktur keagamaan. Ia guru ngaji, yang boleh dikata hanya mengajarkan alif, ba, ta di kampung. Pesan tersebut disampaikan untuk muridnya yang juga bukan orang besar, tapi hanya seorang tukang potong kaca di sebuah toko bangunan. “Pahamilah agama sebagai organisasi, akan kau dapati enam agama di Republik ini. Pahamilah agama sebagai jalan menuju Dia, akan kau dapati jumlah agama yang sama dengan jumlah penduduknya’. Bukankah ini spirit dari sebuah ayat yang artinya “Bagimu agamamu, bagiku agamaku”.

Malang, 21 April 2017

Penulis: A. Kholil
Penyelia Bahasa : Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Meluruskan Klaim HTI tentang Kesamaan dengan NU

Artikel ini sebenarnya sudah saya tulis sekitar satu tahun yang lalu dan sudah dimuat di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *