Friday , December 14 2018
Home / Buku / Cerita Santri tentang Pesona Pesantren

Cerita Santri tentang Pesona Pesantren

Pesantren memiliki segudang kisah dan sejarah dalam perjalanan serta pejuangan bangsa Indonesia. Pesantren juga menjadi pusat pendidikan yang paling tua di bumi nusantara dengan berbagai pola dan dinamika yang ada di dalamnya. Hingga saat ini, pesantren mampu bertahan dengan kondisi dan situasi yang terus berubah-rubah. Para pakar sudah banyak yang telah melakukan penelitian tentang cara bertahan (survival mechanism) dan upaya-upaya perubahan yang bersifat proaktif dan secara sengaja dilakukan (procative and purposeful change) ala pesantren. Zaman yang terus berganti, kompleksitas kehidupan yang semakin tak terkendali, serta kehidupan yang semakin instan dan dinamis dapat dihadapi oleh pesantren dengan terus bertahan dan berkembang mengikuti arah zaman dengan tetap menjaga prinsip-prinsip yang ada. Pesantren mampu beradaptasi dengan ruang dan lingkup yang bermacam-macam. Pesantren sudah terasah dengan keadaan dan situasi.

Sebagai lembaga yang sudah lama keberadaannya, banyak teori yang bersimpangan tentang munculnya pondok pesantren di Indonesia. Ada yang menyebut kedatangannya bersamaan dengan datangnya Islam di bumi nusantara. Namun ada pula yang menyebut, keberadaannya muncul setelah Islam masuk ke nusantara dan secara mapan menjalankan misi dakwahnya. Dan, ada pula yang mengatakan jauh setelah Islam masuk ke Indonesia, barulah pesantren muncul dan berkembang.

Dengan keunikannya, pesantren identik dengan tradisi dan budaya yang melekat di dalamnya. Dikatakan oleh Eisenstadt bahwa intelektual timur dikaitkan dengan santri dan kiai beserta tradisi dan budayanya. Karena mengacu pada pendapatnya di dalam bukunya, bahwa intelektual adalah para pemikir dan aktor sosial di dunia barat (hal. vi).

Santri dan kiai adalah aktor sosial yang  mempunyai pengaruh signifikan dalam kehidupan masyarakat, serta menjadi panutan dan penuntun menuju masyarakat yang lebih baik. Melalui perilaku dan sikap yang ditanamkan dalam jiwa-jiwa pesantren, maka pesantren menjadi kawahcandradimuka bagi seluruh lapisan masyarakat.

Tentu, di dalam buku yang berjudul “Kitab Santri,  Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren” yang disunting oleh Achmad Tohe ini tidak hanya membahas pesantren dari segi isinya belaka, melainkan lebih kepada  menceritakan tentang pengalaman-pengalaman di pesantren dengan dari berbagai sudut pandang masing-masing penulisnya yang rata-rata adalah kaum santri.

Banyak cerita dari para penulis buku Kitab Santri ini. Mulai dari cerita sedih akan meninggalkan rumah dan keluarga karena harus mondok di pesantren dengan berbagai paradigma dan cerita dari para temannya yang telah duluan di pondok. Ada yang merasa bahagia karena saking cintanya terhadap ilmu agama dan sukanya terhadap dunia pesantren dengan tradisi dan keunikannya. Ada yang merasa bimbang atas keputusannya untuk pergi mengaji ke pondok pesantren dengan pola dan sistem yang terngiang di alam pikirannya hingga berbagai proses pengalaman spiritual dan rohani. Karamah para kiai tidak luput dari cerita para santri penulis buku ini dengan khas pesantrennya memberikan motivasi dan inspirasi untuk kehidupan yang lebih bermanfaat dan barakah. Amalan-amalan di pesantren juga tidak lepas dari sebuah cerita kecil dalam buku ini, memberikan pembelajaran menarik untuk dijadikan sebagai uswah dan teladan.

Keputusan nyantri juga menjadi bagian yang tidak luput dari cerita di dalam buku ini, ada yang karena keingin “abahnya”, dirinya sendiri, lingkungan yang memaksa ia untuk ikut pergi nyantri ke pondok, atau bahkan karena kondisi keluarga yang menjadi alasan utama mondok. Di dalam buku ini sangat luas sekali bahasan yang diulas oleh para penulisnya. Cerita-cerita yang menginspirasi menjadi sajian yang menarik untuk ditalaah dan dianalisis, sehingga bisa ditarik benang merahnya bahwa kehidupan di pondok itu sungguh sangat menarik dan unik.

Misalnay seperti aturan-aturan yang tidak tertulis di pondok pesantren menjadikan  santri terbiasa, seperti puasa senin kamis yang seolah menjadi wajib bagi santri. Hal itu menjadi pembiasaan dan terus istikamah dilakukan. Salat berjamaan yang tidak pernah putus. Jika tidak dipaksa memang sulit untuk dilakukan, sementara di pondok pesantren dengang lingkungan yang mendukung dan dorongan serta motivasi menjadi lebih baik adalah sebuah spirit menggapai pencapaian yang diinginkan. Meminimalkan tidur juga salah satu pembiasaan di pondok, karena banyak tidur menyebabkan kemalasan dan sedikit masuknya ilmu. Sedikit makan bagian dari usaha untuk mengatur dan memanajemen pola kehidupan di pondok pesantren. Serta mengamalkan kebersamaan dan kegotongroyongan adalah hal yang niscaya di pesantren (hal, 301-302).

Buku ini menarik untuk dibaca dan ditalaah secara mendalam. Isinya sangat luar biasa, menjadi inspirasi, motivasi, dan preferensi untuk mengetahui dan memahami lika liku kehidupan di pesantren. Selain itu, menariknya, para penulisnya menyajikan dengan karakter dan gayanya masing-masing. Isinya unik dan menarik karena berbicara tentang pengalaman selama hidup di pondok pesantren. Mengingat pondok pesantren, sampai sekarang masih terkenal karena keunikan, kemenarikan, tradisi dan budaya di dalamnya. Ditambah para penulisnya yang mayoritas santri mempunyai keunikan dan gaya menulis yang meanrik pula.

Buku ini memberikan sumbangsih eksplorasi kehidupan di pesantren. Lebih dari itu, pesan-pesan moral dari kehidupan pesantren akan menjadi bekal bacaan yang baik untuk pengembangan pendidikan di tanah air. Semoga bermanfaat dan selalu barakah. Keberkahan dan kemanfaatan sebagai simbol dari output pesantren.

Judul                      : Kitab Santri: Antologi Pengalaman dan Pendidikan Moral di Pesantren
Penyunting            : Achmad Tohe
Penerbit                 : Dialektika, Halaqah Literasi, dan Pusat Studi Pesantren
Cetakan                  : Pertama, Mei 2018
Tebal                       : xviii + 328 Halaman
ISBN                        : 978-602-5841-00-2
Peresensi                 : Hayat (Dosen FIA UNISMA/Peneliti Lakpesdam Kota Malang)
Penyelia Aksara     : Abdur Rahim

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Meneladani Kehidupan Para Ulama

“Ulama adalah pewaris para nabi”. Itulah bunyi hadits yang sangat pupuler dan aering kita dengar.  ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *