Monday , September 25 2017
Home / Buku / Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Teladan Ulama Islam-Indonesia

Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, Teladan Ulama Islam-Indonesia

Membincang sejarah bangsa Indonesia tidak bisa dipisahkan dengan perbincangan kita tentang perjuangan melawan imperialisme dalam berbagai bentuknya. Untuk mencapai sebuah kemerdekaan tidaklah gratis atau semudah membalik telapak tangan. Dari pelbagai lapisan masyarakat pun telah tercatat turut ambil bagian dalam perjuangan kemerdekaan. Dan tak kalah pentingnya adalah masyarakat pesantren. Pada umumnya, dalam buku-buku sejarah yang beredar—terutama yang masuk dalam kurikulum pendidikan ”formal”—perjuangan kaum pesantren sangat jarang dibahas. Padahal, pesantren adalah salah satu media pengkaderan yang sangat berarti bagi para pejuang. Dan pesantren lah yang sebenarnya lebih mengerti akan permasalahan-permasalahan masyarakat, sebab bersinggungan langsung dengan kompleksitas permasalahan. Buku Fajar Kebangunan Ulama, Biografi K.H. Hasyim Asy’ari ini hadir, salah satunya adalah untuk melengkapi serta sedikit ”mengklarivikasi” pemahaman kita atas sejarah bangsa Indonesia. Lewat biografi seorang tokoh karismatik, hadrotussyaikh Hasyim Asy’ari, penulis ingin menyampaikan betapa berartinya perjuangan para Ulama (baca: kaum pesantren) dalam mewujudkan kemerdekaan.

Dalam buku ”kecil” ini dijelaskan hal-hal ihwal K.H. Hasyim Asy’ari; mulai dari biografi ringkas beliau (Bab I); pemikiran keagamaan (Bab II); dan aktivitas politik mbah Hasyim. Beliau adalah figur yang sangat akrab sekali dengan dunia pesantren. Lahir dan dibesarkan dari keluarga elit kiai Jawa. Dijelaskan dalam buku ini, bahwa trah (silsilah) beliau sampai pada raja muslim Jawa, Jaka Tingkir dan raja Hindu Majapahit, Brawijaya VI (hal.17).

Tak kalah menariknya adalah pemikiran-pemikiran atau ijtihad dari mbah Hasyim. Pemikiran keagamaan beliau dapat kita ketahui melalui karya-karya tulis beliau, yang sebagian besar ditulis dalam bahasa Arab dalam berbagai ilmu seperti tasawuf, fiqih, dan hadist. Sebagai seorang ulama, beliau termasuk penulis yang sangat produkif.
Dalam hal tauhid (teologi), dengan merujuk pada kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah, mbah Hasyim berpendapat bahwa ada tiga tingkatan dalam mengartikan tauhid; tingkatan pertama adalah pujian akan keesaan Tuhan;

Tingkatan kedua meliputi pengetahuan dan pengertian mengenai keesaan Tuhan; dan tingkatan ketiga tumbuh dari perasaan terdalam (dzawq) mengenai Tuhan (al-Haqq). Menurut beliau, tauhid tingkat pertama dimiliki oleh orang-orang awam; tingkat kedua oleh ulama biasa (ahl az zahir); sedangkan yang tertinggi hanya dimiliki oleh para sufi yang sudah sampai pada tingkatan ma’rifah dan juga haqiqah. Kang Lathiful Khuluq kemudian juga menjelaskan bahwa bagi hadrotus syaikh Hasyim Asy’ari, Islam sebagai agama tidak hanya bertugas membebaskan manusia dari menyembah lebih dari satu Tuhan (as syirk) dan membimbing mereka untuk bertauhid (monotheism), tetapi yang tak kalah penting lagi adalah memajukan aspek-aspek sosial, politik, dan ekonomi mereka yang terbelakang (mustadl’afiin). Kemudian, Islam bagi beliau juga harus berusaha memupuk semangat persaudaraan dengan menghilangkan perbedaan yang disebabkan oleh keturunan, posisi, kekayaan, atau kebangsaan.

Teologi ala mbah Hasyim adalah suatu bentuk perpaduan antara al-Asy’ari dan al-Maturidi, yang kemudian lebih dikenal dengan teologi ahlus sunnah wal jama’ah (aswaja) atau Sunisme. Teologi ini dianggap mampu mensintesiskan antarberbagai sekte (firqah) teologi, terutama dengan cara mengombinasikan pikiran (aqli) dan wahyu (naqli) dalam menyelesaikan masalah-masalah teologi.

Selain seorang teolog, mbah Hasyim juga seorang sufi yang sangat sederhana, dan patut diteladani. Dijelaskan dalam buku “mungil” ini, bahwa pemikiran sufistik beliau pada dasarnya bertujuan memperbaiki perilaku umat Islam secara umum, dan dalam banyak hal merupakan perulangan prinsip-prinsip sufisme al-Ghazali. Beliau berkeyakinan bahwa sekurang-kurangnya ada empat syarat yang harus dipenuhi jika seorang muslim ingin disebut sebagai ahl at-tariqah; pertama menghindari penguasa yang tidak melaksanakan keadilan; kedua menghormati mereka yang berusaha dengan sungguh-sungguh meraih kebahagiaan di akhirat; ketiga menolong orang miskin, dan; yang keempat melaksanakan shalat berjama’ah.

Pada intinya, beliau ingin menekankan bahwa untuk menjadi seorang sufi—baik murid atau terlebih mursyid—sangatlah ketat dan berat persyaratannya. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab-kitab tasawuf karya beliau, seperti Ad-Durar al-Muntathirah fi al-Masaa’il at-Tis’ ‘Asyarah. Oleh karena itu, mbah Hasyim menganjurkan dan menyontohkan perilaku (suluk) yang biasa dan sederhana (moderat); seperti halnya tidak berlebih-lebihan mengagungkan guru (baca: kyai atau mursyid).

Pandangan beliau yang terkenal adalah mengenai anjuran bermadzhab pada salah satu dari empat imam madzhab; al-Maliki, al-Hanbali, as-Syafi’i, dan al-Hanafi. Lebih jelasnya, bisa kita baca dalam salah satu karya beliau Muqaddimat al-Qanuun as-Asasi al-Nahdlat al-’Ulama’. Dari keterangan-keterangan di atas, dapat disimpulkan bahwa pengaruh pemikiran keagamaan K.H. Hasyim Asy’ari tidak dapat diragukan.

Dan, disamping sebagai agamawan (Kyai), beliau juga sangat dikenal sebagai seorang pejuang tangguh. Keikut sertaan beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan adalah salah satu bukti bahwa pesantren adalah elemen masyarakat yang sangat berarti. Dan, aktivitas berpolitik dan perjuangan beliau pun dibahas lumayan jelas oleh kang Khuluq, dalam bab terakhir buku ini.

Meskipun tipis, buku biografi ini mampu menjelaskan hal ihwal K.H. Hasyim Asy’ari. Tak kalah menariknya dengan buku-buku biografi lainnya. Sehingga, buku ”mungil” ini patut dibaca, terutama oleh warga Nahdliyin.

Selamat membaca……..

Judul: Fajar Kebangunan Ulama; Biografi K. H. Hasyim Asy’ari
Penulis: Drs. Lathiful Khuluq, M.A
Penerbit: LKiS Yogyakarta
Cetakan III: Januari 2008
Tebal: xx + 198 halaman: 12 x 18 cm
Peresensi: Winartono

About winartono

Lihat Juga

MEMBANGUN KESADARAN BERLITERASI

Menulis itu membutuhkan keterampilan dan ketekunan. Tidak hanya menuangkan ide atau gagasan saja, tetapi memberikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *