Monday , September 25 2017
Home / Kyaiku / KH. HISYAM ISMAIL JENU TUBAN (1908-1994)

KH. HISYAM ISMAIL JENU TUBAN (1908-1994)

KH. Hisyam Ismail lahir pada tahun 1908 M di Kampung Kauman yang terletak di sekitar makam Sunan Bonang, tepatnya di wilayah Kelurahan Kutorejo Tuban. Beliau adalah putra ke-10 dari 12 bersaudara dari pasangan H. Ismail dan Ibu Masyfi’ah.

Mbah Hisyam, begitu para santri memanggilnya, menghabiskan waktu kecilnya untuk belajar (sekolah) di Hollandsch-Inlandsche School (HIS) mulai pagi hingga siang. Sedangkan di waktu sore, dihabiskan dengan mengaji Al-Qur’an kepada Kiai Murtadlo yang dikenal dengan panggilan Mbah Yai Tolo. Mbah Yai Tolo tinggal di Pesantren Makamagung Tuban yang berjarak sekitar satu kilo meter dari rumah Mbah Hisyam Ismail. Terkadang, waktu sore juga digunakan untuk latihan (semacam kursus) menulis halus.

Namun, di tengah perjuangannya menuntut ilmu di HIS, Hisyam muda harus berhenti dari sekolahnya tepat ketika masuk di tahun kelima. Salah satu alasannya karena ayahnya meninggal dunia sementara saudara-saudaranya tidak mampu untuk membiayai sekolahnya tersebut. Akhirnya, beliau hanya mengikuti sekolah diniyah di Madrasah Ulum yang berada di sebelah utara Masjid Agung Tuban yang juga dekat dengan rumahnya.

Baru satu tahun di Madrasah Ulum, Hisyam muda tidak krasan karena merasa umurnya paling tua sendiri. Kemudian, beliau diajak tinggal bersama kakak sulungnya yang bernama H Syamsul Hadi di Babat Lamongan. Ketika di Babat inilah beliau berkesempatan untuk mengaji pada Kiai Hamid dan Kiai Syu’aib.

Setelah tiga tahun tinggal di Babat, beliau pindah lagi untuk ikut kakaknya yang bernama H Masyhudi yang waktu itu menjadi naib di Jenu Tuban. Waktu di Jenu, beliau berkesempatan untuk mengaji pada Mbah Kiai Fathurrahman Abu Said di Pondok Beji Lor (sekarang Pondok Pesantren Manbail Futuh).

Setelah tiga tahun ikut mengaji di Pondok Beji Lor, oleh Mbah Kiai Fathurrahman disarankan untuk pergi ke Sarang Rembang untuk menimba ilmu kepada Kiai Syu’aib dan Kiai Dahlan (kakek Kiai Maimoen Zubair). Baru satu tahun di Sarang, beliau diajak oleh Kiai Zubair Dahlan untuk mendirikan madrasah sekaligus membantu mengajar di madrasah yang sekarang bernama Madrasah Ghazaliyah Syafiiyyah (MGS).

Karena masih merasa kurang ilmunya, beliau pamit untuk melanjutkan pengembaraannya ke Pesantren Tebuireng Jombang di bawah asuhan Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.

Setelah beberapa tahun di Tebuireng, beliau boyong dan ikut kakaknya yang ada di Jenu sambil melanjutkan mengaji pada KH. Fathurrahman Abu Said dan seminggu sekali ikut mengaji pada KH. Murtadlo (Mbah Yai Tolo) Makamagung Tuban.

Tidak lama kemudian, beliau diambil menantu oleh KH. Fathurrahman dan dinikahkan dengan putrinya yang bernama Hamnah. Sejak saat itu beliau membantu Mbah Kiai Fathurrahman (ayah mertua) untuk mengajar di pondok dan madrasah. Bahkan tidak lama kemudian diberi amanat untuk memimpin madrasah.

Selain di pesantren dan madrasah, beliau juga aktif di Nahdlatul Ulama sebagai pengurus cabang pertama bersama dengan KH. Husein Hasan (Pengasuh Pondok Huffadh Jenu) pada tahun 1928. Bahkan di Kabupaten Tuban ini Pengurus Cabang NU yang pertama adalah di Jenu. Maka, kemudian muncullah anekdot JeNU, Jelas NU.

Setelah Mbah KH. Fathurrahman Abu Said wafat pada tahun 1944, kepengasuhan Pondok dipegang oleh beliau. Selang beberapa tahun kemudian, beliau mengembangkan madrasah dengan mendirikan Madrasah Tsanawiyah pada sekitar tahun 1960-an untuk melanjutkan jenjang Madrasah Ibtidaiyah yang sudah ada. Sekitar tahun 1980-an, beliau juga mendirikan asrama untuk santri putri Pondok Pesantren Manbail Futuh.

Di bawah kepemimpinan Mbah Kiai Hisyam Ismail, pondok dan madrasah semakin maju baik secara kualitas maupun kuantitas. Di masyarakat pun beliau termasuk ulama sepuh yang disegani dan dihormati, karena pergaulan dan akhlaknya yang patut dijadikan tauladan.

Kiai Hisyam Ismail, pada tahun tahun 1994 dipanggil oleh Allah Azza wa Jalla dengan meninggalkan putra-putri, antara lain: KH. M. Hafash Hisyam (menikah dengan Hj. Fatimah), 2. Hj. Amimah (menikah dengan KH. Rowi Masyhuri), Hani’ah (menikah dengan KH. M.Masram Shofwan), KH. Abd.Hanan (menikah dengan Hj. Nur Fauziyah), Nadhiroh (menikah dengan KH. Luluk Farozi), dan Mun’imah (menikah dengan Ali Ihsan).

Semoga jasa-jasanya menjadi amal yang terus mengalir. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’afihi wa’fu anhu. Amin. Tuban, 26 Juli 2017

Penulis: Nurul Fahmi (asal Beli Jenu Tuban)
Penyelia Bahasa: Winartono

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *