Monday , September 25 2017
Home / Kyaiku / KH. Abdul Adzim Aminullah Yahya (1938-2003)
Sumber: penulis

KH. Abdul Adzim Aminullah Yahya (1938-2003)

Di Kabupaten Malang, tepatnya di daerah Karangploso, terdapat seorang kiai sekaligus mursyid toriqoh yang dikenal sangat kharismatik dan memiliki karomah. Kiai ini, berdakwah sampai ke plosok-plosok terpencil di sekitar Malang. Selain itu, kiai ini sangat istiqomah dalam membumikan toriqoh di bumi Arema. namanya adalah KH. Abdul Abdul Adzim Aminullah Yahya. Kiai dilahirkan di Malang pada tahun 1357 H atau 1938 M, tepatnya di Jl. Diponegoro Kec. Karangploso Kab. Malang. Dari pernikahan seorang Kiai besar yang Kharismatik yaitu Kiai Yahya dan Ibu Nyai Khodijah Yahya yang telah dikaruniai sebelas putra dan putri dimana Kiai Abdul Adzim Aminullah sendiri merupakan anak kedua. Berturut-turut nama-nama saudara beliau antara lain: A. Dimyati Ayatullah Yahya (1936-1971), Abdullah (lahir 1940 dan meninggal waktu kecil), Abdur Rochim Amrullah Yahya (1942-2010), Abdur Rohman Yahya (lahir 1945), Ahmad Arif Yahya (lahir 1948), Khodijah (lahir 1950), Muhammad Ghozali Yahya (lahir 1952), Fatimah (lahir 1955), Maryam Mashrifiyah (lahir 1958), dan yang terakhir Dewi Aisyah (lahir 1962). Semuanya telah menjadi tokoh pada masanya sebagaimana kedua orang tuanya.
Kiai Abdul Adzim Aminullah mempunyai satu istri yang bernama Nyai Fatimatuz Zahroh, yang mana beliau berdua dikaruniai satu putra bernama Lutfi Hakim dan dua orang putri bernama Khoirotun Nisa dan Shofa. Kiai Abdul Adzim Aminullah diberi ijazah (mandat) oleh ayahandanya yakni Kiai Yahya untuk menjadi khalifah dan mursyid (guru) Thoriqoh Mu’tabaroh Qodiriyah wan Naqsabandiyah yang bertugas membina dan membaiat thoriqoh di daerah Malang. Ijazah ini beliau terima setelah pemegang mandat sebelumnya wafat yakni Kiai Dimyati.
Kiai Abdul Adzim kemudian mendirikan Pondok Pesantren di Jalan Diponegoro Karangploso sekitar tahun 1970-an yang diberi nama Pondok Pesantren Mamba’ul Huda. Konon, masyarakat di Karangploso saat itu masih awam dengan pendidikan agama Islam dan dari itulah gerbang pengabdian Kiai Abdul Adzim Aminulah dimulai dengan mengajarkan ilmu agama kepada masyarakat sekitar Karangploso tentunya dengan berbagai rintangan sebagaimana pendakwah yang mengawali “babat alas”. Dengan kesabaran dan kasih sayang beliau kepada masyarakat Karangploso, sehingga jadilah Karangploso itu seperti sekarang ini daerah maju dalam agamanya dan banyak santrinya.
Sejak kecil, Kiai Abdul Adzim Aminullah sudah diperkenalkan oleh ayahandanya Kiai Yahya tentang ilmu agama melalui pendidikan keluarga dengan tradisi santri yang kuat. Pada umur 15 tahun beliau modok di Pesantren Jampes Kediri, didirikan oleh ulama sufi terkemuka bernama Syaikh Muhammad Ihsan Jampes.
Kiai Abdul Adzim Aminullah terkenal sekali dengan kesabarannya, baik kepada santri maupun kepada orang sekitar. Beliau tidak pernah membanding-bandingkan antara santri yang mampu dengan yang kurang mampu, santri yang pintar dengan yang kurang pintar. Sikap adil terhadap keluarga, santri-santrinya dan masyarakat menjadi perilaku dan tauladan yang dikenang masyarakat.
Suatu ketika, dikisahkan ada seorang pencuri yang mondok di pesantren asuhan Kiai Abdul Adzim Aminullah. Pencuri tersebut hanya menjadikan pesantren sebagai tempat pelarian atau persembunyian dari kejaran aparat kepolisian, karena ia memang diketahui sebagai buron. Mengetahui hal tersebut, kiai tidak serta merta menolak si pencuri padahal kiai sudah mengetahui semua itu sejak awal. Kiai malah memberikan bimbingan dan menyadarkannya sehingga si pencuri sadar dan bertanggungjawab serta menyerahkan dirinya kepada pihak kepolisian.
Kiai juga dikenal sebagai sosok yang penyabar, termasuk kepada para santri. Ketika santri-santrinya yang kurang mampu, kiai tidak pernah meminta syahriyah (iuran bulanan) untuk pesantrennya, bahkan santri tersebut diberi bekal untuk mondok berupa makanan maupun pakaian. Ada juga yang sampai dinikahkan.
Sudah menjadi kebiasaan santri zaman dahulu (bahkan beberapa pesantren sekarang), mengurus dirinya seperti mencuci dan masak di dapur secara bersama. Suatu ketika santri itu kehabisan bahan bakar kayu, kemudian santri tersebut mengambil kayu bakar milik Kiai Abdul Adzim Aminullah dengan alasan dan keyakinan bahwa “ilmunya kiai saja diberikan, apalagi kayunya”, maka santri tersebut langsung memakai kayu itu tanpa izin untuk memasak nasi. Tiba-tiba Kiai Abdul Adzim Aminullah mengetahui kalau santri tersebut memakai kayu itu, tapi kiai tidak marah malah disuruh mengambil lauk pauk yang ada di ndalem (rumah kiai).
Kiai Abdul Adzim Aminullah juga telaten membimbing murid-murid Thoriqoh Qodiriyah wan Naqsabandiyah di wilsayah Kabupaten Malang. Beliau seorang guru mursyid yang telaten memba’iat setiap orang yang mau masuk di toriqoh tersebut. Bahkan, beliau tidak segan-segan untuk mendatangi daerah-daerah yang terpencil seperti Pujon, Jabung, dan daerah-daerah plosok-plosok lainnya untuk datang memberikan arahan-arahan tentang ilmu pembersih hati tersebut.
Mengenai karomah Kiai Abdul Adzim Aminullah, dikisahkan oleh salah satu warga sekitar pondok, suatu hari ada penduduk kampung yang sedang mengejar kawanan burung liar yang terbang di langit. Ketika itu Kiai Abdul Adzim Aminullah mengetahuinya dan beliau merasa kasian kepada penduduk kampung tersebut. Tak lama kemudian kiai meminta beberapa santrinya menangkap burung-burung liar tersebut dengan cara yang unik. Kiai Abdul Adzim Aminullah pada waktu itu menggambar sebuah lingkaran di tanah, kemudian kiai kembali meminta santri-santrinya tetap berdiri di situ sambil menunggu burung yang datang. Dan, tak lama kemudian burung-burung yang di langit itu satu persatu mulai berjatuhan di garis lingkaran tersebut dan tidak bisa keluar lagi. Setelah burung-burung tadi berkumpul di garis lingkaran, diambillah burung-burung itu oleh santri-santri dan dibagikan kepada warga penduduk.
Tak hanya itu, dikisahkan pula oleh seorang santri bahwa Kiai Abdul Adzim Aminullah bisa melihat jin-jin yang ikut mengaji kepadanya di pesantren. Suatu ketika ada pengajian rutinan setelah sholat subuh, tiba-tiba kiai menegur jin yang sedang bergurai di bawah bedug karena mengganggu jama’ah yang lain.
Kisah lain, pada zaman dahulu banyak tentara dari arhanud yang kebetulan lokasinya dekat dari pondok yang berdatangan ke pesantren minta didoakan agar diberikan keselamatan karena akan bertugas ke Timor-timor. Diantara sumber ceritanya yang dikatakan oleh Kapten Rahmat. Suatu ketika kapten Rahmat ditugaskan ke Timor-timor dalam misi perdamaian, kemudian dia mengalami kontak senjata dan dia mengucapkan do’a-do’a (wirid) yang diberikan Kiai Abdul Adzim Aminullah, seketika itu peluru-peluru yang ditembakkan tidak satupun yang mengenai sasaran, bahkan ada granat yang tidak bisa berbunyi alias busung. Diantara wirid-wiridnya sangat lucu sekali, sepeti menyebut “ya Ibnu Alwan” yang dibaca terus-menerus. Apabila kita meneliti wirid-wirid tersebut bias jadi tidak masuk akal, semua itu dapat terjadi karena mustajabah.
Diceritakan juga oleh seorang penduduk yang tinggal tak jauh dari pondok tersebut bahwa suatu hari ada kesenian Reog yang kebetulan berada di sebelah pondok pesantren. Tiba-tiba dukun dari Reog tersebut memperlihatkan kesaktiannya yakni menggiring awan yang akan turun hujan dengan cemetinya dan seketika itu pula tidak jadi hujan. Yang semula mendung tiba-tiba menjadi panas. Melihat situasi tersebut sehingga Kiai Abdul Adzim Aminllah sempat menyaksikannya, karena pertunjukan tersebut tidak pantas ditonton oleh santri, seketika itu Kiai Abdul Adzim Aminullah melarang santri-santrinya untuk melihatnya. Dan, ketika udaranya panas tiba-tiba hujan turun lebat dan akhirnya dukun Reog tersebut sowan kepada kiai untuk da minta maaf sekiranya hujan tersebut bisa reda.
Kiai Abdul Adzim Aminullah dipilih sebagai Rois dalam Idaroh Syu’biyah Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh An-Nahdliyah Malang. Sebelum wafat, kiai sempat mengarang beberapa kitab Fadhoilul Tarawih, Miftahul Jannah dan kupulan-kumpulan doa munjiat. Dalam kitab Fadhoilul Tarawih dibahas secara tuntas tentang fadhilah-fadhilah sholat tarawih.
Pada tahun 2003, Kiai Abdul Adzim Aminullah wafat setelah kurang lebih selama dua tahun menderita sakit darah tinggi dan struck. Kiai meninggalkan dua orang putri dan satu putra. Yang meneruskan perjuangan di pondok saat ini ialah putra kiai yang bernama Gus Lutfi Hakim sekaligus menjadi penerus toriqoh.

Penulis: Nur Rizqi Amalia
Penyelia Bahasa: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *