Monday , September 25 2017
Home / Kyaiku / KH. Abdurrahman Syamsuri Paciran Lamongan (1925 – 1997)
sumber: Firdaus Imaduddin

KH. Abdurrahman Syamsuri Paciran Lamongan (1925 – 1997)

Mbah Yai Man, begitulah panggilan akrab seorang ulama’ kharismatik dengan nama lengkap KH. Abdurrahman Syamsuri bin Syamsuri bin Fadhil bin Sholeh bin Syahid bin KH. Idris bin Kasno. Yai Man dilahirkan pada 1 Oktober 1925 di Jalan Ponpes Karangasem Paciran Lamongan Jawa Timur. Sebuah daerah yang pernah menjadi tempat singgah Belanda tatkala melangsungkan aksi agresi militernya.

Yai Man sejak kecil diasuh oleh orang tua yang sangat sabar dan baik perangainya bernama Kiai Syamsuri dan Nyai Walidjah. Peran kedua orang tua beliau begitu besar dalam mendidik anak yang nantinya akan menjadi ulama hebat untuk agama dan negara. Yai Man sendiri tak lain adalah anak sulung dari enam bersaudara, yaitu Nyai Amimah, Nyai Musri’ah, KH. Muhammad Yasin Syamsuri, KH. Umar Faruq, dan KH. Abdurrohman Syamsuri sendiri.

Ayahnya, Kiai Syamsuri, adalah seorang yang sangat sederhana, sabar, ulet, dan tekun mengabdi sebagai petani, penggergaji kayu, dan penggergaji kapur. Sementara ibunya adalah seorang pedagang kecil di samping juga sebagai petani. Kiai Syamsuri dikenal aktif memberikan pengajian di desa. Sebab, pada tahun 1930 mertua Kiai Syamsuri yang bernama Kiai Idris membangunkan sebuah musahalla yang kenal dikenal dengan sebutan Langgar Dhuwur. Tempat inilah yang menjadi cikal bakal dibangunnya sarana dakwah untuk masyarakat paciran dan sekitarnya.

Langgar Dhuwur merupakan tempat pendidikan pertama bagi Kiai Abdurrahman Syamsuri. Sejak kecil, beliau dididik dan digembleng langsung oleh kakeknya sendiri, Kiai Idris. Kiai Idris sendiri merukapan salah satu ulama yang sangat tegas dan berani memerangi kemusyrikan di Paciran. Kiai Idris juga mendidik dan membimbing Abdurrahman Syamsuri muda hingga dapat menghafal Al-Qur’an dengan baik dan benar.

Dengan kecerdasaan yang hebat dan kesantunannya terhadap orang tua, menjadi bekal baginya untuk mendapatkan sanad hafalan Al-Qur’an pada Kiai Fattah di Tulungangung. Kesabaran dan ketekunannya membuatnya mampu menyelesaikan hafalanya secara sempurna tiga puluh juz dengan baik dalam waktu enam bulan yaitu tepat pada umurnya yang ke lima belas tahun.

Dalam perjalanan hidup beliau, tercatat bahwa Kiai Abdurrahman pernah menikah empat kali dan keturunan. Dari istri kedua, Nyai Muzayyanah, dikarunai anak bernama: Natsir (alm), Natsirah (alm), Zakiyah, Nadliroh, Muhyidin (alm), Abdul Hakam Mubarok, Mahfudho, Muhlis Ahmadi, M. Rifqi (alm), Mushtofa kamal (alm), Izzatik, dan Moh. Zuhal. Dari istri ketiga, Nyai Hasanah, dikaruniai anak bernama: Mufti Labib, Ummi Hanik, Khalisoh, Firdaus (alm), Mifdhol, Umi Hajar, Nihayatus Sa’adah, dan Imdadur Rohmah. Sedangkan dari istri keempat, Nyai Asmani, dikaruniai anak bernama: Qurrotul ‘aini, Zuhron Adlha, Ibnu Ziyad Thoriq, Wildan Aziz, Nur Hamami, Ari Mahmudah (alm), Imam Fahad, Azmil Irodah, dan Rahmawati.
 
Pengembaraan Intelektual
Di samping belajar kepada ayah dan kakeknya, Kiai Abdurraman Syamsuri mengenyam pendidikan lembaga formal di Madrasah Islam Paciran (MIP) pada tahun 1935. Kemudian melanjutkan ke Pondok Kranji yang diasuh KH. Mushtofa Abdul Karim sampai tahun 1938. Kiai Mushtofa Abdul Karim (1871-1950) merupakan pengasuh dan terlibat dalam mendirikan salah satu pondok tertua di Jawa Timur.

Setelah mennyelesaikan menuntut ilmu dari Kai Mushtofa, Kiai Abdurrahman Syamsuri melanjutkan belajarnya pada Kiai Amin di Pondok Tunggul, Paciran. Pondok yang diasuh oleh putra Kiai Mushtofa yaitu Kiai Mohammad Amin Mushtofa yang lebih dikenal dengan Kiai Haji Amin (1912-1949). Di pondok ini Kiai Abdurrahman mempelajari ilmu nahwu, sharaf, tafsir, musthalahul hadits, fiqih, dan aqidah berdasarkan ajaran yang murni. Beliau belajar di Tunggul dari tahun 1938 sampai dengan tahun 1940. Beberapa sahabat yang menemani beliau ketika menuntut ilmu di pondok Tunggul adalah; KH. Salamun (ahli ilmu Falaq), KH. Ali Manshur, KH. Ma’sum, KH. Mahbub (Tuban), KH. Showab (Godog), dan pak Tibyani. Sedangkan adik kelas yang nyantri bersama di Kyai Amin, diantaranya; KH. Anwar Mu’rob, H. Muntasib, H. Zaini Sholeh, H. Abdul Wahab, H. Nawawi, H. Khusen Fadlil, H. Tarmudzi (Gumeno), dan lain-lain.

Tahun 1938-1940 adalah fase pertama KH. Abdurrahman menimba ilmu di Tunggul sebagai santri Kyai Amin sekaligus pengajar untuk adik-adiknya. Sedangkan fase kedua adalah berselang enam tahun kemudian dari fase pertama. Setelah fase pertama selama dua tahun menimba ilmu ke KH. Amin di pondok Tunggul, Paciran, KH. Abdurrahman Syamsuri kembali mengokohkan niat untuk melanjutkan penggembalaan ilmu ke Tulungagung, tepatnya di Mangunsari menjadi santri Kiai Abdul Fattah (1290 H-1372 H). Kiai Abdul Fattah merupakan seorang ulama yang menguasai berbagai biidang ilmu agama Islam.

Kiai Abdurrahman Syamsuri berangkat dengan tekad dan perjuangan yang keras untuk mencari ilmu. Dengan harapan, do’a, dan kepercayaan yang besar, beliau tempuh perjalanan menimbah ilmu dengan berani, tanpa ada rasa lelah, takut, bahkan putus asa. Walaupun harus menempuh jarak yang terbentang jauh, menembus hutan belantara, tidak ada transportasi yang mengantarnya, beliau tetap yakin dan pantang menyerah untuk menuntut ilmu. Sungguh semangat juang beliau sangat besar dan kuat.

Diceritakan setiap sebelum subuh, di pondok Mangunsari, ada seorang santri yang selalu mengisi bak mandi rumah Kiai Fattah dan tempat wudhu. Semula Kiai Fattah tidak mengetahui siapa yang melakukan amal baik seperti itu, hingga akhirnya Kiai Fattah mendapati seorang santri yang sedang mengisi bak mandinya di kegelapan malam. Santri itu tidak lain adalah Kiai Abdurrahman Syamsuri. Kemudian Kiai Fattah berdo’a agar Kiai Abdurrahman mendapatkan sarung setiap tahun. Kiai Fattah tahu bahwa ada santrinya yang hanya memiliki selembar sarung ketika mondok di Tulungagung. Setiap kali sarung tersebut kotor, beliau mencucinya dan menunggu kering sambil berendam di sungai. Begitu kering, beliau segera mentas, keluar dan mengenakan kembali sarung tersebut.

Hubungan keakraban Kiai Fattah dengan Kiai Abdurrahman begitu erat dan kuat, hingga Kiai Abdurrahman menjadi santri kesayangan Kiai Fattah karena pengasuh pondok itu tahu kalau Kiai Abdurrahman adalah anak yang cerdas. Hanya dalam kurun empat tahun Kiai Abdurrahman berhasil menguasai ilmu-ilmu Kiai Fattah yang dipelajari selama 24 tahun. Spesifikasi ilmu yang menancap pada pribadi Kiai Abdurrahman dari Kiai Fattah adalah pendalaman ilmu-ilmu al-Qur’an dengan hafalan dan kefasihan bacaan al-Qur’an. Hal itu didukung oleh suara Kiai Abdurahman yang begitu indah dan merdu.

Setelah mendalami berbagai ilmu kepada Kiai Fattah di Tulungangung, beliau menuntut ilmu di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur hingga tahun 1945. Selama kurun waktu satu tahun, Kiai Abdurrahman menyempurnakan ilmu faraidh dan hafalan al-Qurannya.

Pada tahun 1945-1946, melanjutkan perjalanannya mencari ilmu ke Pondok Pesantren Kedung Lo Bandar Kidul, Kediri. Beliau mengaji pada Kiai Ma’roef (w. 1955 M). Kiai Ma’roef merupakan ulama yang diakui keilmuannya oleh kalangan para Kiai waktu itu. Terbukti pada muktamar NU beliau terpilih menjadi Mustasyar NU bersama para ulama lainnya.

Di Paciran, terdapat seorang kiai kharismatik sekaligus pelopor pemikiran Agama Islam Muhammadiyah bernama Kiai Mohammad Amin Mushtofa yang juga dikenal sebagai seorang pejuang. Beliau adalah komandan hizbullah. Ketika mendengar tantara Inggris akan mendarat di Surabaya pada 25 Oktober 1945 dengan misi mengembalikan Indonesia kepada tantara Belanda, sebagai sekutunya, Kiai Amin langsung menggelar rapat bersama para Kiai di daerah Blimbing, Paciran. Pertemuan tersebut memutuskan untuk mengirim anggota laskar Hizbullah Paciran ke Surabaya untuk menghadang pasukan Brigade 49 Divisi 23 yang dipimpin Brigadir Jenderal AWS Mallaby. Perisiwa besar itulah yang kemudian dikenal sebagai peristiwa 10 Nopember. Kiai Abdurrahman Syamsuri dengan semangat juangnya, ikut berjuang gigih bersama Kiai Amin, bahkan beliau adalah orang kepercayaan atau tangan kanan Kiai Amin.

Kepercayaan Kiai Amin begitu besar kepada Kiai Abdurrahman hingga Kiai Amin menjodohkannya dengan salah satu putri beliau bernama Rahimah, yang juga pernah nyantri di Pondok Kranji. Akan tetapi, pernikahan itu tidak berlangsung lama.

Setelah Kiai Mohammad Amin Mushtofa (1912-1949) wafat, Pondok Tunggul mengalami perubahan sebutan nama pondok yang diputuskan dalam musyawarah. Pondok Tunggul berubah nama dengan sebutan Pondok Pesantren Al-Amin. Meskipun pada tahun 1949 Kiai Amin telah meninggal dunia, hubungan kekerabatan kedua keluarga ini semakin erat karena pada tahun tersebut Kiai Abdurrahman menikahkan salah satu putrinya yang bernama Zakiyah Abdurrahman dengan putra Kiai Amin yang bernama Muhammad Sabiq.

Pendirian Al-Ma’had Al-Islamy Pondok Pesantren Karangasem
Setelah berkelana ke berbagai pondok pesantren untuk mengabdikan diri sebagai santri yang selalu haus akan ilmu, Kiai Abdurrahman telah menguasai berbagai disiplin ilmu keagamaan. Diantara ilmu-ilmu yang beliau kuasai antara lain; ilmu tata bahasa Arab seperti nahwu dan sharaf, ilmu al-Arudl wa al-Qowafi. Dalam bidang sastra ini, Kiai Abdurrahman telah menggubah kitab Nazham Asma’ al-Husna. Beliau menggabungkan kemampuannya di bidang Arudl dan pemahamannya yang mendalam mengenai Asma’ al-Husna.

Kekuatan hafalan al-Qur’an tiga puluh juz dengan bacaannya yang tartil, fasih, dan menguasai ulumul Qur’an beserta tafsirnya telah menjadi pondasi dirinya. Beliau juga memiliki pemahaman mendalam terhadap kitab-kitab hadits, terutama Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Bahkan beliau mendapatkan ijazah dalam silsilah dan sanad pengajaran atau yang berhak mengajarkan kedua kitab tersebut kepada masyarakat. Dalam konteks keilmuan tradisional, konsep silsilah dan sanad bagi ilmu dan guru sangat penting untuk menunjukkan kebabsahan dan penguasaan ilmu yang dimiliki oleh seseorang.
Perintisan, Pembangunan, dan Pengembangan
Setelah mendapatkan tanggungjawab untuk mengelola kepemimpinan Langgar Dhuwur dari ayahnya, Kiai Abdurrahman mengembangkan Langgar Dhuwur tersebut menjadi tidak hanya sebatas sebagai tempat belajar anak-anak membaca al-Qur’an, melainkan bercita-cita untuk membangun sebuah pondok. Kajiannya tidak hanya baca tulis al-Qur’an, tapi juga diperluas untuk mengkaji Tafsir Jalalain, kitab hadits Riyadlus Shalihin, kitab Nahwu Alfiyah karya ibn Malik dan ilmu Sharaf.

Belajar dari kegagalan yang pernah didirikan oleh beberapa ulama di Paciran, agar proses pembelajaran lebih efektif, dengan diiringi niat dan dukungan yang kuat dari teman-temannya, Kiai Abdurrahman berkeinginan untuk membangun pondok pesantren yang mampu menampung santri lebih banyak dan melengkapinya dengan madrasah sebagai tempat pendadaran dan pengkaderan umat. Gagasan dan usaha penggabungan dua lembaga waktu itu terbilang modern pada zamannya.

Akhirnya, dengan upaya dan usaha keras yang dilakukan, beliau berhasil meminjam tanah milik Pak Hadir. Tanah yang cukup rindang ditumbuhi pohon asam, yang kemudian menjadi cikal bakal Pondok Pesantren Karangasem. Pada tanggal 18 Oktober 1948/1367 H, dibangunlah asrama atau gota’an pertama yang bernama al-Hijrah dengan dukungan masyarakat Paciran. Mereka bergotong-royong dan saling bahu-membahu untuk membuat gota’an, sebuah bangunan rumah kayu berbentuk persegi panjang yang kemudian dibaut blok atau kotak-kotak untuk memisahkan kamar-kamar santri. Saat itulah ditandai sebagai peletakan batu pertama yang menjadi tonggak pndok yang kemudian dikenal dengan Al-Ma’had Al-Islamy Pondok Pesantren Karangasem Paciran. Pondok ini merupakan pondok pertama yang didirikan oleh ulama di Paciran.

Asal mula penamaan Pondok Pesantren Karangasem berasal dari sebuah pohon asem di pekarangan pondok yang dipakai untuk adzan setiap waktu sholat. Pondok yang di pekarangan atau di halaman asrama, gota’an al-Hijrah ternyata menarik perhatian masyarakat. Lama kelamaan Kiai menyebut pondok yang baru didirikan tersebut dengan nama “Karangasem” sebagai rujukan dari dua kenyataan yaitu adanya pekarangan yang luas (tempat pendirian pondok) dan pohon asam yang tumbuh di atasnya.

Setelah beberapa hari, bulan, dan tahun, pondok ini mengalami perkembangan yang begitu pesat seirama dengan harapan masyarakat dari berbagai daerah untuk belajar ilmu pengetahuan agama Islam. Tidak hanya masyarakat asli dari daerah Paciran, santri beliau datang dari berbagai daerah; mulai dari Gresik, Sembayat, Legowo, Bunga, dan lain-lain. Dengan bertambahnya jumah santri setiap tahun, gota’a al-Hijrah yang ada di samping barongan (sebutan dari kumpulan tanaman dari pohon pring ) itu penuh. Kemudian hal tersebut membuat KH. Abdurrahman membangun asrama lagi; al-Furqan, al-Hudaibiyah dan al-Anshar untuk menampung  banyaknya santri yang berdatangan.

Pondok Pesantren Karangasem semakin berkembang besar, keteguhan hati dan sikap Kiai Abdurrahman semakin kokoh sebagai pengasuh pondok pesantren. Setiap pagi hari sebelum shalat subuh, pengasuh berkeliling pondok untuk melihat langsung keadaan santrinya. Ketika adzan subuh berkumandang, maka Kiai Abdurrahman bergegas untuk membangunkan mereka. Begitu pula selepas subuh, Kiai Abdurrahman menyempatkan diri untuk berkeliling pondok kembali. Jika beliau menemui santrinya ada yang masih tidur, maka beliau mengambil kendi yang berisi asir dan menyiramkan kepada santrinya tersebut. Aktivitas pondok setelah shalat subuh adalah para santri mengaji di hadapan Kiai Abdurrahman untuk ngaji Tafsir Jalalain. Beliau menyimak bagaimana santrinya membaca dan memaknai teks bahasa Arab. Jika Beliau menemui santrinya ada yang salah ketika membaca maka beliau langsung membenarkannya.

Ulama yang Intelek dan Sederhana
Kiai Abdurrahman dikenal sebagai seorang kiai yang berkepribadian santun dan halus dalam berdakwah. Beliau menggunakan metode persuasif dan kontekstual. Sebelum memberikan ceramah di suatu tempat, beliau berdialog dulu dengan yang mengundang untuk menanyakan persoalan-persoalan yang aktual. Kiai Abdurrahman juga dikenal sebagai seorang penceramah yang militan. Dengan keluasan dan kedalaman ilmu, beliau memberi dan menjelaskan suatu permasalahan dengan sangat bijak, tertib, dan mudah dipahami dan menyentuh hati masyarakat.

Kiai Abdurrahman Syamsuri melihat bahwa pondok pesantren tidak hanya sekedar lembaga yang mendidik kader umat dalam memahami agama, tetapi juga mendidik untuk menjadi pejuang-pejuang bangsa yang tangguh, berfikiran baik dan ikhlas dalam perilaku amaliahnya. Pada saat bangsa Indonesia ditimpa malapetaka besar, yaitu adanya gerakan 30 September 1965 yang dipimpin oleh Partai Komunis Indonesia (PKI), Pondok Karangasem menjadi pusat mobilitas pejuang bangsa dalam menghadapi keganasan PKI di wilayah Pantura Jawa, yaitu antara Wilayah Tuban dan Gresik. Perintah dan Komando langsung dari Kiai Abdurrahman, bahkan Kiai Abdurrahman dijadikan sebagai ketua Komando Strategi untuk menghadapi PKI di kecamatan Kedungpring, Lamongan bagian selatan.

Gagasan besar Kiai Abdurrahman untuk gerakan sosial yang menjadi impian adalah amalan untuk membangunkan panti asuhan anak yatim. Dengan sabar sambil memperbincangkanknya dengan teman-teman seperjuangan beliau dari tahun 1987, impian untuk membeli tanah di komplek PAY tersebut akhirnya terwujud. Pondok membeli tanah tersebut pada tahun 1992, dan tidak lama kemudian dibangunlah gedung dan sarana belajar bagi anak yatim. Walaupun secara fisik dan spiritualnya kondisi pondok sudah sangat maju, tetapi Kiai Abdurrahman tetap tidak berubah sebagai pengasuh yang sederhana. Kiai Abdurrahman yang bertubuh sedang, mengenakan kopyah hitam, berbaju sederhana, kadang baju itu di-sampir-kan di bahu dan tampak baju singletnya, serta bersarung sebatas betis. Mulutnya melafalkan al-Qur’an dengan suara lirih. Cara berjalannya sedang, tidak cepat dan tidak lambat. Kadang memakai sarung dan kadang hanya memakai celana pendek selutut. Kadang bersandal jepit dan kadang bersepatu kets dan lebih sering beralas kaki. Seringkali Kiai Abdurrahman mencari santri untuk diajak makan bersama di ruang dapurnya, bahkan beliau sendiri melayani santrinya. Kadang mengajak santrinya ke sawah dengan membawa makanan yang cukup kemudian makan bersama setelah mengerjakan pekerjaan tertentu di sawah.
Guru Sekaligus Bapak Generasi Bangsa

Bukan hanya sebagai guru bagi murid-muridnya, Kiai Abdurrahman juga menjadi bapak yang begitu peduli dengan mereka dalam menuntut ilmi-ilmu agama. Tidak heran jika Kiai Abdurrahman mempunyai santri yang banyak yang tidak hanya datang dari Paciran melainkan datang dari berbagai daerah. Para santri pertama dari Paciran tersebut di antaranya; Ust. Ahmad Zaini, KH. Abdurrahim Syamsuri, KH. Anwar Mu’rob, Ust. Muntasib, Ust. Abdul Wahab, Ust. Husein dan lain sebagainya. Santri-santri yang datang dari luar daerah Paciran di antaranya; Abdul Majid dan Abdullah yang biasa dipanggil bang Dullah, H. Turmudzi, KH. Imam Nawawi, H. Khozin, Said dan lain sebagainya. Mereka bukan hanya mengkaji, belajar memahami agama Islam dengan deresan maupun sorogan. Lebih dari itu, mereka juga menghafalkan al-Qur’an. Seperti; Kyai Zaini, KH. Anwar Mu’rob, KH. Imam Nawawi, Abdurrahim (Gumeno), Muhbib (Legundi Paciran) dan santri-santri beliau lainnya.
Penggerak Teologi al-Ma’un yang Militan

Konsistensi, militansi, dan keteguhan pemimpin semakin memancarkan cahaya kharisma, yang secara universal keluar dari seorang ulama’ dan tokoh bangsa yang santun dan penuh istiqomah dalam mengamalkan ilmu dan menjalankan kepemimpinannya.  Bagi Kiai Abdurrahman mengamalkan ilmu yang dimiliki, memberikan pencerahan bagi masyarakat, dan menunjukkan suri tauladan sebagai panutan umat adalah dakwah fi sabilillah. Beliau tidak menolak undangan meskipun hanya berkendara cikar, kendaraan yang ditarik oleh sapi. Sehingga kadang kehujanan dalam perjalanan bahkan seringkali pula beliau tidak pulang agar berdakwah secara maksimal pada tempat yang jauh dari Paciran.
Pelopor Gerakan Bangsa

Kiai Abdurrahman mempunyai komitmen yang kuat untuk menyebarkan ajaran Islam berlandaskan al-Qur’an dan Hadits. Di antara tujuan pendirian Pondok Pesantren Karangasem adalah mencetak kader-kader Islam yang dapat menjadi da’I di seluruh penjuru nusantara. Oleh karena itu, beliau adakan kerja sama dengan lembaga-lembaga dakwah. Maka, beliau pun menjalin hubungan dan berteman akrab dengan mantan Perdana Menteri Muhammad Natsir yang menjadi pimpinan DDII (Dewan Dakwah Islam Indonesia). Kedekatan hubungan antara Kiai Abdurrahman Syamsuri dengan Pak Natsir seperti hubungan simsiosis mutualisme, sama-sama saling menguntungkan. DDII bergerak di bidang dakwah agama Islam yang memerlukan tenaga da’i, sedangkan pondok pesantren Karangasem memiliki alumni yang memerlukan lapangan dakwah untuk mengamalkan ilmunya. KH. Abdurrahman dinobatkan menjadi ketua bidang pendidikan pada Ittihad al-Ma’hadil Islami tahun 1968; anggota pimpinan Majelis Ulama Indonesia Daerah Tk. I Jawa Timur tahun 1971, dan anggota Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama Wilayah Provinsi Jawa Timur mulai tahun 1978 sampai 1992. Beliau juga aktif di gerakan dakwah diranah sosial dan kesehatan bagi masyarakat. Cita-cita memperjuangkan pembinaan anak-anak yatim itu terwujud dengan dibangunkan asrama, gedung Panti Asuhan Yatim (PAY) Pondok Pesantren Karangasem dan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah (MIM) beserta gedung pertemuan (aula KH. Yasin Syamsuri) di Brabuhan, Jetak, Paciran.

Karangasem Berduka
Pada tahun 1996, beliau genap berusia 70 tahun. Tanda-tanda kelemahan fisik begitu tampak ditambah penyakit diabetes yang semakin mereduksi daya tahan beliau. Namun semangatjuang dan kegigihan beliau tidak pernah pudar untuk menegakkan kalimat Allah, mendidik dan membekali para santri untuk menjadi peluru kebenaran dalam membina masyarakat agar hidup dengan benar sesuai dengan syariat Islam. Sesekali beliau harus membenarkan perban yang ada di kaki dan beliau tertatih-tatih menuju masjid yang berjarak dua puluh meter dari rumah beliau. Dokter mengusulkan agar kaki beliau diamputasi, namun KH. Abdurrahman menolak dengan alasan, “Kalau nanti aku meninggal, lantas bagaimana aku menjawab pertanyaan Allah bila kakiku sudah tidak ada lagi?!” Sedemikian besar tanggung jawab dan amanah beliau hingga persoalan yang dianggap sepele oleh beberapa orang, tapi sangat besar bagi KH. Abdurrahman sebagai makhluk yang bertanggung jawab kepada Allah atas amanah yang diberikan kepadanya.

Tahun 1997. Tahun dimana Pondok Karangasem berduka. Sang Kuasa tidak mengizinkan sang pejuang agama dan negara untuk beraktivitas untuk menyiarkan ajaran Islam sebagaimana biasanya. Penyakit yang beliau derita harus dibawah ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan. Hingga pada hari kamis tanggal 27 Maret 1997, pada pukul 01.00 di rumah sakit Darmo Surabaya, Allah SWT memanggil hamba-Nya yang sangat taat dan dibutuhkan oleh umatnya. KH. Abdurrahman telah meninggal. Kabar duka tersebut langsung sampai ke Pondok Pesantren Karangasem bahwa ulama besar itu sudah kembali ke haribaan-Nya. Tidak ada lagi orang yang besar tapi tetap sederhana. Tidak ada lagi suri tauladan tempat mengadu perosalan. Pada hari itu, susana desa Paciran yang tenang menjadi duka dan sunyi. Angin yang berhembus menjadi terdiam tanpa arah. Matahari bersinar dengan cerah, tapi tampak redup terhalang oleh sesuatu yang tidak terlihat oleh panca indra. Awan duka menelusup dalam hati setiap keluarga, santri, alumni, dan masyarakat. Sekitar pukul 12.30, keluarga, santri, alumni, dan ribuan orang mengantar jenazah KH. Abdurrahman ke tempat peristirahatan terakhir di makam umum Sluwuk desa Paciran. Selamat jalan guru, selamat jalan bapak. Semoga Allah senantiasa menerima amal-amal Kiai dan menjadi bekal untuk hari akhir nanti. Amin.(Imad)
Sumber:
Ma’ani, Faris, dkk. 2012. Sekokoh Karang Seteduh Pohon AsemBiografi K.H. Abdurrahman Syamsuri. Lamongan: Karangasem Media
Wawancara dengan Ust. Khudaifi (cucu pertama dari anak keenam KH. Abdurrahman dengan Bu Muzayyanah (Ibu Izzatik dan Bapak Qohar)
Wawancara dengan masyarakat desa Paciran

Penulis: Firdaus Imaduddin
Penyelia Bahasa: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *