Monday , September 25 2017
Home / Kyaiku / KH. AHMAD ARUQOT (1885-1969)

KH. AHMAD ARUQOT (1885-1969)

Di Sidoarjo Jawa Timur, terdapat sebuah desa yang terkenal sebagai kawasan ulama dan santri serta pusat pengembangan batik yang bernama Desa Kedungcangkring Kecamatan Jabon. Desa ini terletak di pinggiran Kali Brantas atau Sungai Porong berbatasan dengan Gempol Pasuruan. Sejak dahulu, wilayah ini dikenal cukup strategis karena berada pada jalur utama Madura, Surabaya menuju Pasuruan. Di daerah ini, lahirlah seornag tokoh besar dan berpengaruh pada masanya yang bernama Kiai Muhyiddin atau yang dikenal dengan panggilan KH. Ahmad Aruqot. Ia adalah bagian dari prajurit Pangeran Diponegoro. Silsilah leluhurnya ialah anak dari Kiai Asfiyah menantu dari Kiai Bakri, seorang prajurit Pangeran Diponegoro pada masa itu. Menurut data yang ada, Kiai Bakri merupakan pejuang yang berasal dari Banyumas Jawa Tengah dan sempat melarikan diri bersama empat temannya menuju Kabupaten Sidoarjo karena serangan kolonial Belanda.

Kiai Ahmad Aruqot di lahirkan di Kedungcangkring sekitar tahun 1885. Ayahnya bernama Kiai Asfiya’ yang dikenal sebagai perintis utama berdirinya majelis ta’lim di desa tersebut sekitar tahun 1889. Majelis ta’lim inilah yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya sebuah pondok pesantren bernama Raudlatul Muta’alimat Muta’alimin

Kiai Ahmad Aruqot sendiri merupakan seorang kiai yang terkenal dengan kharismatiknya bukan hanya karena ilmu kanuragan yang sangat tinggi melainkan juga karena dikenal luas sebagai kiai yang alim, ikhlas, tekun dan teguh pendirian serta selalu sejalan antara ucapan dan perbuatan beliau. Selain itu, Kiai Ahmad Aruqot dikenal sebagai seorang abid (ahli ibadah secara istiqomah) yang zahid.

Menurut salah satu putranya, selain rutin mejaga shalat jama’ah lima waktu, puasa senin kamis, muthala’ah kitab kuning, Kiai Ahmad Aruqot juga membatasi tidurnya yakni  tidur pukul 21.00 WIB dan bangun kembali pada pukul 23:00 WIB. Setelah bangun dari tidur, kiai yang memiliki sorot mata yang teduh tersebut makan kue dan segelas kopi disertai rokok sebelum melanjutkan ibadah shalat malam dan membaca wirid hingga menjelang sholat subuh. Usai shalat subuh beliau menggarap sawah miliknya hingga pukul 07.00 baru setelah itu beliau pulang untuk mengajar (mengaji) untuk para santrinya. Sementara Kiai  Mucharror Chayyun yang tak lain adalah cucunya bercerita bahwa ketika sawah yang ditanami padi sudah bisa di panen, padi tersebut tidak langsung dimasukkan ke lumbung akan tetapi kiai mengumpulkan para tetangga yang berhak menerima zakat, baru setelah itu sisanya di masukkan ke dalam lumbung.

Melalui perkataan dan perilaku kiai, terlihat keteladanan beliau yang membuat kiai sangat di hormati oleh masyarakat sekitar. Misalnya ketika kiai sedang berjalan menuju masjid, maka dapat di pastikan setiap orang yang sedang lewat berpapasan dengan beliau akan berhenti baik yang jalan kaki maupun yang sedang naik kendaraan.

Berkhidmat pada Ilmu
Kiai Ahmad Aruqot mengawali perjalanan keilmuannya disaat belajar kepada ayandanya sendiri yakni Kiai Asfiya’. Kemudian sang ayah memerintahkannya untuk hijrah ke Pacitan agar nyantri ke Pesantren Termas di bawah asuhan almaghfurlah KH. Dimyathi. Sebagaimana diketahui bahwa pondok pesantren ini termasuk pesantren tua karena didirikan pada tahun 1830, sehingga tak sedikit ulama’-ulama besar nusantara bahkan juga dari tanah arab adalah jebolan dari pesantren tersebut. Tak ada keterangan lebih lengkap mengenai seberapa lama Kiai Ahmad Aruqot ngansu kaweruh di Termas Pacitan.

Setelah dari Termas, Kiai Ahmad Aruqot melanjutkan pengembaraannya dalam mencari ilmu ke tanah Bangkalan Madura untuk nimba ilmu ke Syaikhona KH. Muhamad Kholil Bangkalan. Sama dengan termas, juga tidak ada keterangan lebih lengkap T mengenai seberapa lama di Bangkalan. Menurut cerita dari putra Kiai Ahmad Aruqot yang bernama Kiai Muhaimin, saat nyantri di Syaikhona Kholil Bangkalan, Kiai Ahmad Aruqot pernah diajak oleh Mbah Kholil, sebutan akrab Syaikhona, berjalan melewati hutan salak dan Kiai Ahmad Aruqot diminta Syaikhona untuk membawakan ayam. Karena keta’dziman Kiai Ahmad Aruqot, beliau pun membawa ayam tersebut di tangannya. Tiba-tiba ayam tersebut lepas dari tangan dan dengan spontan Kiai Ahmad Aruqot lari dan mengejar ayam tersebut padahal duri buah salak sangat tajam dan sangat banyak. Kiai Ahmad Aruqot itu tanpa mempedulikannya terus mengejar ayam tersebut. Setelah ayamnya tertangkap, Syaikhona Kholil tertawa kemudian berujar “Aruqot pulanglah sekarang…! kamu akan menjadi kiai besar di desamu sana. Rupanya, dawuh Syaikhona Kholil dawuh benar. Sepulang dari nyantri di Bangkalan, Kiai Ahmad Aruqot menjadi sosok kiai yang karismatik dan dita’dzimi oleh orang-orang yang ada di sekelilingnya.

Menurut putra beliau yang bernama Kiai Muhaimin, ketika menginjak usia cukup matang Kiai Ahmad Aruqot mempersunting perempuan asal Panji Sidorajo. Tak lama setelah itu, kemudian Kiai Ahmad Aruqot menikah lagi dengan seorang perempuan asal Kalidawir Tanggulangin. Sama halnya dengan istri yang pertama, pernikahan kedua juga kandas namun tidak ada keterangan apakah karena bercerai atau meninggal dunia. Kemudian, Kiai Ahmad Aruqot menikah lagi dengan perempuan bernama Aminah yang kelak dikenal dengan sebutan Ibu Nyai Aminah. Dari pernikahan dengan Nyai Aminah ini, Kiai Ahmad Aruqot dikaruniai 13 keturunan yaitu: K.H. Irfan, Nyai Fatuhah, Nyai Hj. Maimunah, Nyai Hj. Musannadah, Nyai Hj. Mahnun, Nyai Hj. Munasifah, KH. Ahmad Wildan, Nyai Hj. Marhumah, Nyai Hj. Tarihah, Nyai Hj. Muthomimah, KH. Muhaimin, KH. Asif, dan Nyai Hj. Falasin.

Mengenai pesantren yang ada di Kedungcangkring, asal mula pesantren yang ada di desa ini hanya satu yaitu Roudlotul Muta’alimin 1. Sementara untuk Roudlotul Muta’alimat 2 didirikan oleh menantu Kiai Ahmad Aruqot yang bernama KH. Chayyun yang menikah dengan Nyai Musannadah. Dan setelah Kiai Ahmad Aruqot wafat, tonggak estafet Pondok Pesantren Roudlotul Muta’alimin 1 di teruskan oleh putra beliau yang bernama Kiai Asif dan mengembangkan bangunan Roudlotul Muta’alimat 1. Kiai Chayyun mendirikan pondok Pesantren Roudlotul Muta’alimat 2 dan setelah wafat dilanjutkan oleh putranya bernama KH. Mucharor Chayyun serta putranya lagi bernama Kiai Mahfudz Chayyun yang nantinya mendirikan Pondok Roudlotul Muta’alimat 3, dan putranya lagi yang bernama KH. Wahab mendirikan Pondok Pesantren Darus Salam yang terletak diantara kedua Roudlotul Muta’alimin-Muallimat 1 & 2. Pondok Darus Salam yang diasuh oleh Kiai Wahab mengambil takhossus di bidang tahfidz Al-Qur’an. Sementara Muta’alimin-Muallimat fokus pada pendalaman kitab kuning.
 
Kedungcangkring Menjadi Desa Santri dan Desa Batik
Sepulang dari Bangkalan dan Termas, Kiai Ahmad Aruqot mulai aktif dalam mengajar pengajian di majelis pengajian yang didirikan oleh ayahnya. Majelis ini ketika awal mula dibentuk tidak memiliki nama sebagaimana majelis-majelis lain seperti yang ada saat ini. Bahkan, tempat yang dijadikan rutina majelis masih merupakan pemondokan bagi santri yang bermukim di daerah sekitar yang waktu itu kurang lebih hanya 25 santri.

Setelah kurang lebih 5 tahun berjalan, majelis ta’lim itu semakin dikenal baik oleh penduduk setempat maupun orang-orang di luar daerah sehingga dengan itu banyak pemuda-pemuda yang datang ke Kedungcangkring. Kemudian, terbentuklah sebuah pesantren yang terdiri dari 60 orang santri. Pesantren yang belum memiliki nama ini diuntungkan oleh letak strategis Desa Kedungcangkring yang dikenal sebagai kampung batik. Menurut cerita, konon yang memulai merintis tradisi dan usaha batik sebagai mata pencaharian sehari-hari adalah komunitas Tionghoa.

Mengenai hubungan antara santri dengan batik di Kedungcangkring memiliki sejarah yang cukup panjang. Mengingat pada waktu itu beberapa juragan batik atau orang kaya di desa tersebut rata-rata adalah pejuang agama. Sehingga, hubungan antara para pengusaha kaya dengan para ulama yang ada di Kedungcangkring berjalan dengan harmonis, saling melengkapi, saling mengisi bahkan tidak pernah ada politisasi seperti era pemerintah kolonial. Itulah sebabnya setiap elemen masyarakat biasa duduk istiqomah pada tempatnya masing-masing. Karena ulama pada masa itu tetap istiqomah pada tugasnya sebagai pengayom, pembimbing umat. Hubungan semacam ini rupanya tetap dapat dirasakan hingga era keturunan Kiai Ahmad Aruqot yang bernama Kiai Chayyun. Para kiai yang ada di Kedungcangkring betul-betul memberikan tauladan yang sangat baik dalam kehidupan bermasyarakat. Sebut saja misalnya ketika keluarga ndalem sedang panen atau berdagang, maka mereka langsung mengeluarkan zakat tijaroh yang akhirnya ditiru oleh kalangan pengusaha sekitar. Segala tindak-tunduk para kiai saat itu menjadi inspirasi sekaligus tauladan masyarakat sekitar.

Namun, beberapa tahun kemudian, tradisi dan usaha batik di Kedungcangkring pun mulai redup hingga akhirnya hilang. Padahal menurut masyarakat setempat, pada tahun 1919an, Kedungcangkring sudah ramai di kunjungi orang-orang arab yang mau belanja kain batik. Mereka pergi ke desa tersebut dengan naik kereta api dan turun di stasiun gempol. Kemuduran tradisi dan usaha batik tersebut salah satunya disebabkan para pemuda-pemudi sebagai generasi penerus tidak mau belajar dalam melestarikan budaya batik tersebut dan akhirnya budaya batik tersebut hilang di makan oleh waktu dan alat-alat modern.

lSeteah mengalami kemunduran batik, Kedungcangkring tak begitu dikenal dengan adanya pesantren. Kebanyakan yang nyantri di sana masih keluarga alumni-alumni yang dulunya juga pernah nyantri sampai pada akhirnya Kedungcangkring kembali didatangi banyak santri dari berbagai daerah seperti sekarang ini.

Mengenai jumlah pondok pesantren di daerah tersebut terdapat 4 pondok pesantren, namun perlu di perhatikan dalam satuanya pondok pesantren tersebut terdapat cabang-cabangnya antara lain: Pondok Pesantren Roudlotul Muta’alimin Muta’alimat, Roudlotul Muta’alimin I ( pondok induk ), Ar-Roudloh (Muta’alimin II ), Darus Salam (Muta’alimin III ), Roudlotul Muta’alimat I, Roudlotul Muta’alimat II, Al-Machfudzoh ( Muta’alimat III ), PP.Baitul Hikmah (putra-putri), PP Darun Najah (putra-putri), dan PP As-Syafi’I (putra-putri).

Serta, terdapat beberapa majlis ta’lim sekitar 4, di mana murid atau santrinya merupakan orang kampung itu sendiri atau alumni yang pernah mondok di salah satu pesantren yang telah di sebutkan di atas antara lain: Al-machfudzoh di mushallah mutaalimin I, Ar-Roudloh di Mushallah Ar-Roudloh, Al-Hikmah di pondok pesantren Al-Hikmah, As-Syafi’I di masjid dan di mushalla-mushalla lainnya.

Kedungcangkring Berduka
Menurut Kiai Muhaimin, saat menjelang wafat pada malam Jum’at 21 Rajab 1389 / 3 Oktober 1969, Kiai Ahmad Aruqot mengumpulkan seluruh anak cucunya. Ketika semua sudah berkumpul, kemudian semuanya membaca surat yasin dan tahlil. Setelah itu beliau dawuh “Saya baru saja kedatangan tamu yang memakai jubah putih dan baunya harum. Tamu itu mengatakan, nanti pukul dua malam akan datang lagi.” Begitulah kalimat terahir yang diucapkan Kiai Ahmad Aruqot.

Apa arti kalimat itu? Ternyata tepat pukul dua malam, Kiai Ahmad Aruqot menghadap Ilahi. Sesaat sebelumnya, Kiai Hamim Thohari Djazuli yang akrab disapa Gus Miek datang ke ndalem. Tidak ada yang tahu siapa yang menghabari Gus Miek, sampai beliau datang menemui Kiai Ahmad Aruqot. Tapi tidak lama kemudian Gus Miek pergi lagi entah kemana. Kemudian baru pukul 08.00 esok paginya, sebelum jenazah Kiai Ahmad Aruqot dimakamkan, Gus Miek datang lagi dan diaturi memberikan sambutan pelepasan jenazah.

Jenazah Kiai Ahmad Aruqot dimakamkan di pemakaman Islam Kedungcangkring yang berjarak 300 meter dari kediaman Kiai Ahmad Aruqot. Ribuan orang berduka mengiringi kepergian kiai yang sangat disegani dan sangat dermawan itu. Hingga kediaman beliau penuh dengan ribuan masyarakat dan santri yang melayat.

Sumber:
Nawawi, Munir, Chuzaimi. Biografi Kyai Achmad Aruqot dan Sejarah Berdirinya Pondok Pesantren  Roudlotul Mutaalimin-Muta’alimat, kedung cangkring-jabon-sidoarjo
Wawancara dengan KH. Muhaimin (putra Kiai Ahmad Aruqot)
Naqaltuha ‘an: Majalah Aula, edisi Juni 2013, http://darulmutaallimin1.blogspot.co.id/2013/06/kh-ahmad-aruqot-kh-ahmad-aruqot-lahir.html
http://nusidoarjo.org/biografi-kh-ahmad-aruqot-sosok-kyai-konsisten/

Penulis: Khalimatus Sa’diyah
Penyelia Bahasa: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *