Sunday , November 18 2018
Home / Kyaiku / KH. Ahmad Basyir Jekulo – Kudus (1924 – 2014)
Sumber: http://4.bp.blogspot.com/-K5sHnAMQgrg/VWM-dgNv3JI/AAAAAAAAIZI/PHn_ah1Foes/s1600/Mbh-Basyir-2.jpg

KH. Ahmad Basyir Jekulo – Kudus (1924 – 2014)

Di Kota Kudus di Desa Jekulo karang yang bertepatan pada 30 November 1924 lahirlah seorang bayi dari pasangan Kiai Muhammad Mubin yang terkenal dengan nama kasno, seorang penjahit dengan mesin icik dan Nyai Dasireh seorang pedagang kecil, yang kemudian bayi tersebut diberi nama “Abdul Basyir” yang seketika itu di pilih oleh Nyai Dasirah dari empat nama pilihan yang diberikan seorang sayyid. Pada suatu hari sebelum kelahirannya seorang sayyid bertamu ke kediamannya Kiai Muhammad Mubin dan Nyai Dasireh, sayyid berpesan “Nanti kalau lahir diberi nama yang bagus” entah dari mana asalnya tiada yang tau dan meninggalkan banyak teka-teki diantara mereka berdua. Kejadian itu menjadi salah satu tanda jika suata saat bayi mungil Abdul Basyir akan menjadi orang yang besar.

KH. Ahmad Basyir (Allahu Yarhamhu) adalah putera kedua dari delapan bersaudara. Namun tiga dari saudara lainnya telah meninggal saat masih bayi. Sebagai putera kedua, sosok kiai Abdul Basyir menyimpan kisah yang berbeda dari saudara-saudaranya yang lain. Abdul Basyir kecil tumbuh mendewasa sebagai sosok anak yang lain dari yang lain. Sejak kecil beliau sering mengikuti ayahnya ke langgar / masjid. Di tempat sederhana itu Bashir kecil sering mengumpulkan banyak pertanyaan apa yang dilakukan sang ayah, mulai dari sholat, memutar tasbih, hingga do’a-do’a panjang yang terkadang ia ikut mengamini do’a sang ayah. Bashir kecil juga terkadang mengamati ibunya ketika sehabis waktu maghrib tiba, ketika membaca Al Qur’an, barang setengah atau seperempat juz. Ia bertanya, “Ibu membaca apa?”, atau “Bapak melakukan apa?”. Pertanyaan yang selalu terlontarkan untuk anak usia dua atau tiga tahun.

Selang waktu satu atau dua tahun kemudian, ketika Bashir kecil mulai tegak sholatnya, mulai fasikh bacaan Al Qur’annya, akan tetapi kiai Mubin tidak mengirim nya ke pondok karena pada tahun 1930-an sangat rawan untuk anak kecil keluar rumah. kiai Mubin malahan mendaftarkan nya belajar di Veer Folexs Schooll, atau sekarang yang di kenal dengan sekolah dasar (SD). Untuk ukuran keluarga santri seperti kiai Mubin adalah sebuah tanda tanya, apalagi sekolah milik belanda. Basyir muda belajar huruf dan angka juga seperti teman-teman sebaya, namun cara Basyir belajar seperti orang berlari. Pagi, ia belajar huruf, angka, menulis dan sedikit bahasa indonesia hingga belanda. Siang harinya, ia bersama adiknya harus mencari ramban (mengambil daun-daun di sawah untuk di makan).

Di sekolah Basyir menaiki kelas demi kelas tanpa hambatan. Ia meninggalkan ongko limo, atau sekarang kelas lima (belum ada kelas enam), ia lulus sebagai siswa terbaik. beliau pernah ditawari untuk diambil anak oleh gurunya di sekolah itu. Tujuannya akan dididik untuk menjadi guru. Tetapi, tawaran itu tak langsung di terima begitu saja oleh kiai Mubin dan Nyai Dasireh di karenakan pada tahun 1940 an adalah masa yang cukup sulit di segala bidang. Akhirnya ketika kiai Mubin dan Nyai Dasireh sedang bermusyawarah Basyir kecil mengungkapkan keinginan nya, “Aku kok kepengen ngaji, mondok nek mbareng Pak” yang keluar begitu saja dari hatinya, yang membuat kedua orang tua nya terheran dengan perkataan anaknya. Sang ayah hanya sedikit ragu dengan pilhannya dan sedikit mengetes.

Sebenernya kiai Mubin dan nyai Dasireh sudah memiliki jawaban untuk Basyir muda, akan tetapi mereka menginginkan suatu suara lagi untuk menguatkan nya. Hingga akhirnya kiai Mubin dan nyai Dasireh pergi sowan ke mbah yasin beserta Basyir muda. “kowe ora usah sekolah guru. Mondok wae, besok kowe dadi guru”,  begitu lah jawaban dari mbah kandar, yang kala itu masyarakat mbareng memanggilnya.

Sebelum akhirnya di titipkannya di Pondok Pesantren Bareng (sekarang Pondok Pesantren Al Qaumaniyyah) pada tahun 1923, kiai Mubin yang sudah hafal daerah kudus kulon kemudian terdorong untuk menitipkan puteranya, Abdul Basyir. sekitar tahun 1940, ia juga sempat nyantri dan menghatamkan Alfiyyah di PP. Kenepan Langgar dalem kudus. Waktu itu Bashir berguru dengan KH. Ma’mun Ahmad, menghatamkan Al Qur’an kepada KH. Arwani Amin serta berguru kepada para masyayeh di sekitar daerah kudus, antara lain adalah KH. Irsyad dan KH. Khandiq, kakak dari KH. Turaichan Adjhuri Kudus.

Usai pencariannya di daerah kudus kulon, Bashir kembali ke Mbareng, untuk kemudian menetap di sana. Kang Bashir, begitu sapaannya waktu itu. Ia punya gotaan sederhana di depan ndalem,  persis di samping depan kamar mbah Yasin. “Bashir”, begitu biasa mbah Yasin memanggilnya dari dalam rumah. Bashir muda hafal betul dengan suara khos gurunya. Setiap mendengar suaranya, ia bergegas ke ndalam, pasti ada sesuatu hal yang di kerjakan.

Abdul Bashir tidak hanya menghabiskan waktu di dapur dan sumur saja. Mengabdi kepada guru, dengan melayani kebutuhannya, itu sebuah proses mengaji tersendiri. Akan tetapi ia sadar, sering juga ia mendapat dorongan semangat dari mbah Yasin, bahwa mengaji wajb dengan ta’allum, belajar, pengajian akal. Khidmah kepada kiai adalah pengajian hati, selebih itu ngalap barokah. Keduanya harus bersinergi seimbang.

Masa mudanya kala itu, setiap harinya, sedikitnya ada tiga aktivitas yang harus di kerjakan Abdul Bashir. Ia tidak boleh absen pengajian bandongan para kiai mbareng terutama mbah Yasin. Kitabnya tak boleh kosong dari makna gandul. Ia juga bersama kang pondok lainnya mengennyam ilmu di madrasah Tarbiyatus shibyan, Jekulo. Di madrasah ini beliau di didik oleh para kiai sepuh, diantaranya adalah KH. Dahlan. Di luar aktifitas belajar di Madrasah Diniyyah, beliau mengaji kepada KH. Mansyur Kaelani, KH. Yasin, K. Hudlori dan KH. Zainuddin.

Selain rasa haus beliau terhadap ilmu, ketika masih remaja, beliau juga mulai gemar berziarah kemakam-makam para wali, seperti Sunan Kudus, Sunan Muria, makam mbah Ahmad Mutamakkin Kajen, dan makam para wali di Jekulo, diantaranya, Mbah Abdul Jalil, Mbah Abdul Qohhar, Mbah Sewonegoro, Mbah Sanusi, Mbah Yasin, Mbah Ahmad, Mbah Rifa’i dan Mbah Suryo Kusumo (Mejobo), yang tidak pernah beliau tinggalkan hingga sekarang. Itu adalah perwujudan rasa ta’dzim beliau kepada para Masyayeh Auliya’. Saking hobinya dengan ziarah, Abdul Basyir muda sering menghabiskan waktu di pesarean. Saat itu juga ia mulai membiasaka mengajak adik-adiknya sowan kepesarean para wali untuk ziarah, ya, “ziarah”, hobi pribadi yang di warisi dari ayahnya, dan ingin pula ia tularkan kepada adik-adiknya.

Mungkin ada tanda tertentu di kening seorang Basyir muda, sehingga mbah Yasin memilihnya sebagai santri kinasih. Sehingga sering setiap Mbah Yasin hendak melakoni tirakat puasa tertentu, beliau meminta kepada murid kinasihnya untuk menemani. Bashir muda pernah di ajak mbah Yasina untuk puasa ngebleng (puasa tiga hari tiga malam tanpa berbuka), bahkan sampai sebelas kali berturut-turut.

Rentang masa sebelum dan sesudah riyadhah ngebelng itu , hizib demi hizib, termasuk wirid dan puasa Dalail Khairat berhasil ia lakoni. Puasa Dalail Khairatnya tidak lama, tiga tahun. Kepada mbah yasin, Bashir muda tak pernah berani matur tentang riyadhahnya. Setiap setelah menyelesaikan ijazah, ia tak kemudian meminta yang lain. Ia selalu nurut apa dawuh dari gurunya dan dengan legawa gurunya memberikan ijazaha kepada Bashir muda. Begitu, seni dan adab Bashir muda berguru riyadhah.

Kelawasannya di pondok juga menjadi alasan tersendiri untuk mbah Yasin memberi amanah sebagai lurah pondok di pundaknya. Bashir muda harus mengemban amanah sebesar itu ketika masih terlalu muda. Tapi, ini ngendikan Yai, amanah.

Lebih dari sepuluh tahun kang Bashir menjadi pucuk pimpinan di pondok. Waktu yang cukup bagi kang Basyir belajar bekerjasama, Basyir muda mengemban amanah itu tidak sendirian. Ada gus Muhammad muda (putera mbah Yasin), juga ada kiai Hanafi muda (putera menantu mbah Yasin), yang mendampinginya. Tiga serangkai ini yang menjadi pilar laju kembang pondok pada masa itu. Semasa menjadi santrai, pada tahun 1944-1945 kang Basyir pernah bergabung dalam BPRI (Badan Perjuangan Republik Indonesia), yang waktu itu di komandoi oleh Karmin dan Mulyadi, keduanya asli Jekulo. Sebelu BPRI, kan Basyir juga pernah bergabung GPII (Gerakan Pemuda Islam Indonesia).

Beliau menikah dengan Sholekhah (Allahu Yarhamha) adik dari Nor Hamid anak dari H. Abdul Ghoni, ia adalah teman sepondok nya.  Waktu itu Sholihah (Allahu Yarhamha) masih lah sangat muda dan sejak saat itu beliau tidak menginap di pondok, tapi pulang ke rumah. Selang beberapa tahun H. Abdul Ghoni memberikan sebidang tanah dan membangunkan nya rumah yang sederhana di dekat pondok kauman, sengaja dibeli agar beliau melaksanakan wasiat gurunya, yang melarang untuk jauh-jauh dari santrinya.

Selang dua tahun pernikahan beliau baru di karuniai anak. Yaitu, Dwi Umniyyah dan kemudian disusul oleh ke tujuh adiknya: Inaroh, Amti’ah, Ahmad Badawi, Arikhah, Muhammad Jazuli, Muhammad Asyiq (Almarhum), Nur Zakiyah Mabruroh, dan yang terakhir Muhammad Alamul Yaqin.

Nama beliau Abdul Bashir berganti menjadi Ahmad Bashir ketika beliau sowan ke mbah Hamid pasuruan untuk bersilahturahmi dengan rombongan. Tanpa di sangka mbah Hamid memanggil nama Mbah Bashir dengan nama Ahmad Basyir, semenjak saat lah itu nama mbah Basyir menjadi Ahmad Basyir.

Semenjak beliau masih nyantri kepada mbah yasin, keinginan untuk mendirikan pondok sendiri sudah beliau impikan, akan tetapi cita-cita itu ia biarkan mengendap. Kala itu ia lebih mementingkan wasit mbah yasin untuk tetap mengajar di pondok A saja.

Ketika tahun 60an, ada seseorang yang berkunjung kerumah nya dengan nama yang sama, Basyir, berniat untuk mewaqafkan tanah dan berikut rumah soko wulu untuk di jadikan nya sebuah pondok, yang letak nya di sebelah Masjid Kauman. Yang di kenal dengan nama “Darul Falah”. Pondok ini berdiri kisaran waktu tahun 1970 M dan nama “Darul Falah” sendiri di dapat dari pak Jamari, mbah Basyir pun mengiyakan. Mulai saat itulah santri mengenal metode bathsul masail diniyyah pada tahun 1984, materi yang di kaji adalah taqrib, dengan dikembangkan nya kitab-kitab lainnya.

Kemudian pada Era 90an kenginan beliau untuk mendirikan pondok pesantren putri akhirnya terwujud, ketika Gus Badawi mengajak para santri senior untuk memasang pancang untuk pengukur tanah. Selang beberapa bulan gedung berlantai satu akhirnya di bangun. Awalnya gedung tersebut hanya dipakai untuk pengajian putri pada hari jumat siang dan tempat terawih ibu-ibu di sekitar situ.

Lambat laun santri pertama yang berjumlah lima orang bertambah, hingga pada tahun 1992 santri bertambah hingga sembilan orang. Hingga sekarang lebih dari 600 santri putri.

Ahlul Istiqomah
Dalailul Khoirat adalah sebuah buku sholawat karangan dari Syekh Abu Abdillah bin Sulaiman Al-Jazuly Al-Simlaliy Al-Syarif Al-Hasaniy. Sebuah tirakat  yang di ijazahai oleh gurunya, yang di wariskan kepada mbah Basyir. sebuah buku yang berisi tentang pujian-pujian, yang beliau kaji dari gurunya dan juga tentang sebuah tirakat yang di amalkan sejak di pondok dahulu. Hingga Dalailul Khoirat  hafal di luar kepala beliau, beliau juga sering mengupas isi dalam kitab Dalailul Khoirat ketika ngaji posoan. Beliau juga pernah berpesan kepada para santri-santri.

“Dalail iku diopenno. Iki pondok pondok dalail, ojo mung di wirid semiggu pisan, kudu angger sedino sepisan”.

Haul Dalailul Khoirat sendiri setiap tahun di adakan setiap bulan Rabi’ul Awal tepatnya ketika kelahiran Baginda Nabi Muhammad, haul ini berawal ketika mbah Basyir sowan ke ndalem habib Lutfi bi Yahya pekalangon, untuk mengadakan haul Dalailul Khoirat setiap tahunnya, hingga sampai saat ini tradisi tersebut masih berjalan.

Beliau sering menyampaikan pesan, kepada keluarga dan santri-santrinya “Enom riyalat, tuwone nemu derajat. Jirete weteng nyengkal moto”. Sebuah pesan inspiratif yang dulu pernah beliau lakukan ketika nyantri kepada mbah Yasin dahulu.

Selain itu beliau juga sering membudayakan membaca Manaqib Syekh Abdul Qodir Al-Jeelani dan sholawat Nariyyah. Seminggu sekali, mbah Basyir mengajak para santri untuk membaca sholawat Nariyyah di ndalem.

Sering juga, beliau menasihati kepada cucu-cucunya untuk tidak lupa membaca sholawat dan wirid-wirid yang beliau berikan. Tanpa lelah beliau mengajarkan tentang kemuliaan sebuah Sholawat. Beliau juga tidak pernah ketinggalan untuk berziarah kepada para guru-gurunya. Seuatu kegiatan yang mbah Basyir lakukan ketika sebelum mondok di mbareng hingga beliau wafat. Setiap usai mengimami sholat shubuh beliau tak langsung beranjak begitu saja, sering kali beliau membaca wirid-wirid atau sholawat yang di ijazahkan oleh gurunya, baru ketika matahari terlihat beliau beranjak ke maqbarah untuk melakukan ziarah ke maqbaroh mbah yasin, mbah sanusi, mbah anbdul qohar dan tanpa terlewatkan para Masyayekh yang lainnya.

Pada hari terakhir di bulan ramadhan, sering beliau mengajak anak dan cucu-cucunya untuk berziarah ke para leluhur. Secara tidak langsung beliau juga mengenalkan kepada anak dan cucu-cucunya untuk tidak lupa kepada pendahulu-pendahulunya yang telah wafat untuk tetap mengingat kepada sanak saudaranya.

Ketika waktu sholat shubuh dan ashar tiba, mbah Basyir tidak pernah ketinggalan untuk ke masjid, sebelum adzan berkumandang mbah Basyir selalu sudah beranjak dari rumah untuk pergi ke masjid. Suatu kegiatan yang selalu beliau amalkan setiap hari sebelum menemui para tamu.

Di kalangan masyarakat, beliau sangat di segani karena ke tawadhu’an beliau terhadap para guru-gurunya juga dengan keturan gurunya, beliau juga tidak pernah membeda-bedakan tamunya antara masyarakat yang atas dan bawah. Sosok beliau adalah panutan bagi umat, kearifan yang beliau miliki meluluhkan setiap orang ketika bertemu dengan nya. Tata krama yang sopan halus tutur katanya.

Masyarakat sendiri sangat menyepuhkan beliau di antara para sesepuh desa yang ada, karena sosok beliau adalah sebagai seorang ulama’ yang arif dan mempunyai kekhosan sendiri. Beliau juga terkenal murah hati dan murah tangan, tak segan beliau sering menolong kepada masyarakat dalam waktu kapan pun, beliau selalu menerima dengan terbuka, kemurahan hatinya ke pada masyarakat lah yang membuat masyarakat menghormati.

Selasa, 18 Maret 2014 atau 16 Jumadil Ula 1435, di usia 90 tahun masehi dan 93 tahun hijriyyah KH. Ahmad Basyir menghebuskan nafas terakhir di rumah sakit Islam Kudus ketika waktu 00:15 dini hari. Seluruh sanak keluarga, menunggui saast-saat yang pilu, ketika itu. Tanda – tanda akan tiadanya mbah Basyir sudah sangat jelas di mata keluarganya, salah satunya di mata adik nya, mbah jatmi, mbah Basyir berpesan “loroku wes mberah, Dungo dinungo podo selamete” tak terasa air mata mbah jatmi seketika itu lelah dengan derasnya.

Semua masyarakat melepas kepergian mbah Basyir dengan tangis kepiluan yang amat dalam, ketika sosok sang Mujiz Dalailul Khoirot kembali kepusaran sang Ilahi.

Daftar Pustaka
Muryono, Widi dan Yaqin Alamul, M. Syaikh Mujiz Dalail Khairat. Kudus: Lembaga Pers Santri FIKRO, 2014.

Penulis:
Muhammad Athaillah (Cucu KH. Ahmad Basyir Kudus)
Penyelaras: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. M. Izzul Muntho’ Madiun (1952 – 1994)

Nama adalah KH. M. Izzul Mutho’ bin Syaikh Izzudidin Misri bin Muhammad Thohir, atau sering ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *