Thursday , November 23 2017
Home / Kyaiku / KH. Ahmad Thoha Romlan (1936-2001)

KH. Ahmad Thoha Romlan (1936-2001)

Kiai Ahmad Thoha Romlan lahir pada tahun 1936, tepatnya pada tanggal 23 November di daerah Tawang sebagai anak semata wayang dari pasangan suami istri yaitu Bapak Romlan dan Ibu Rubiyah.

Atas takdir Sang Maha Kuasa, Ibu Rubiyah ini berpulang ke rohmatullah terlebih dahulu sehingga Bapak Romlan menikah lagi dengan seorang perempuan yang bernama Ibu Markatun. Dari pernikahan kedua inilah, Bapak Romlan dikarunia tujuh putra, antara lain Badrun, Muslihatin, Qibtiyatur Romlah, Ghofur, Muawanah, Siti Munawaroh dan Munawir. Dari ketujuh saudara tiri tersebut, ada dua orang diantaranya adalah anak kembar, yaitu Siti Munawaroh dan Munawir. Akan tetapi ketika Munawir masih kecil, dia sudah dipanggil oleh Sang Ilahi. Sehingga tersisa enam saudara yang menemani Kiai Thoha.
Nyantri di Lirboyo
Semasa mudanya, Kiai Thoha menghabiskan waktunya di Pesantren Lirboyo Kediri. Beliau belajar mengaji al-Qur’an, membaca dan memahami kitab-kitab klasik atau yang biasa disebut dengan mengaji kitab Kuning. Selain belajar ilmu agama, beliau juga mempelajari ilmu-ilmu umum yang diajarkan d pesantren tersebut.

Selama Kiai Thoha belajar di Lirboyo, beliau dibimbing oleh guru-gurunya yaitu Kiai Abdul Karim (pendiri sekaligus pengasuh Pesantren Lirboyo yang pertama), Kiai Marzuki (menantu dari Kiai Abdul Karim), Kiai Mahrus Ali dan para kiai lain yang mengajar pada masa itu.

Suatu ketika, di saat Kiai Thoha sedang berjuang mencari ilmu, beliau berjumpa dengan Kiai Faqih Asy’ari yang merupakan pendiri Ma’had Darussalam Sumbersari Kencong Kediri. Kiai Thoha ternyata mampu menjalin hubungan persahabatan dengan baik bersama Kiai Faqih. Meskipun saat itu Kiai Faqih merupakan kakak tingkat beliau, akan tapi mereka berdua terlihat saling akrab antara satu sama lain.

Setelah sekian lama nyantri bersama di Lirboyo, tiba-tiba dalam benak Kiai Faqih ini muncul suatu gagasan istimewa, yaitu ingin mendirikan madrasah baru di Lirboyo. Karena Kiai Faqih telah merasa berteman dekat dengan Kiai Thoha, akhirnya Kiai Faqih mengajak Kiai Thoha untuk mewujudkan idenya bersama-sama. Lalu mereka bersepakat untuk berjuang tanpa lelah, demi mewujudkan gagasan istemewa itu. Semua itu tidak bisa hanya dipandang sebelah mata, karena sangat memakan banyak waktu dalam mewujudkannya, butuh usaha keras pula untuk mendirikan madrasah itu.

Seiring berjalannya waktu, lambat laun madrasah itu berhasil didirikan. Akan tetapi, saat madrasah itu berhasil didirikan, Kiai Faqih dan Kiai Thoha sudah berjuang di luar Lirboyo, dan saat ini madrasah tersebut diberi nama Madrasah Islamiyah Hidayatul Mubtadin (MIHM).
 
Bertemu dengan Nyai Juwariyah
Detik-detik pada saat Kiai Faqih akan boyong dari Lirboyo dan mulai merintis Ma’had Darussalam Sumbersari, Kiai Thoha mengikuti langkah yang dipilih Kiai Faqih. Hingga tiba masanya untuk Kiai Thoha dipertemukan jodohnya, yakni seorang wanita yang bernama Nyai Munifah.

Berita gembira ini ternyata tidak bertahan lama, sebab Kiai Thoha tidak jadi menikah dengan Nyai Munifah. Ada beberapa alasan tentang peristiwa ini, yang akhirnya Nyai Munifah dipinang oleh Kiai Faqih, teman seperjuangan Kiai Thoha ketika di Lirboyo.

Diceritakan bahwa sebagai balasan terima kasih Kiai Faqih kepada Kiai Thoha, Kiai Faqih kumudian turut mencarikan seorang perempuan lain untuk dipinang Kiai Thoha. Dan tak lama kemudian Kiai Faqih menemukan seorang perempuan yang bernama Nyai Juwariyah yang berasal dari pondok Miftahul Ulum Jombangan, dan Kiai Thoha menikah dengannya.

Nyai Juwariyah merupakan seorang wanita yang berasal dari keluarga yang alim, namun dalam jiwanya masih melekat juga ilmu-ilmu mistik atau ilmu kejawen. Nyai Juwariyah ini memiliki karakter yang tegas, keras, tempramental, emosional, namun sangat baik hati.

Apabila dibandingkan dengan karakter Kiai Thoha, sifat-sifat Nyai Juwariyah itu banyak yang berkebalikan. Karena Kiai Thoha adalah seseorang yang alim yang memiliki sifat begitu sabar, rendah hati dan tidak mudah marah. Bahkan diceritakan bahwa kesabaran Kiai Thoha yang begitu hebat, terlebih ketika bertutur kata pun gaya bahasa juga sabar, sangat lembut, tidak bertieriak dan halus didengar telinga. Sehingga apabila ada seseorang yang sedang berbincang dengannya, orang itu tidak benar-benar mendengarkan tutur katanya, maka orang itu tidak akan bisa memahami dengan jelas apa yang dikatakan oleh Kiai Thoha.

Rangkaian Kisah Istimewa Kiai Thoha
Setelah menikah dengan Nyai Juwariyah, Kiai Thoha dikaruniai dua belas putra. Namun sekarang tinggal sepuluh putra, karena dua putranya telah wafat terlebih dulu. Adapun putra-putra beliau antara lain Masfiyah, Mbak Is, Imam Baihaqi, Siti Zainab, Siti Fatimah, Qomarudin Muhammad, Saidah, Siti Mabruroh, Ahmad Dimyati dan Muhammad Ali.

Bersama dengan Nyai Juwariyah, Kiai Thoha mulai merintis pondok pesantren yang bernama Ma’hadut Tholabah di daerah Kebondalem, Kandangan. Bersama dengan Nyai Juwariyah pula, Kiai Thoha berjuang keras mensyiarkan agama Islam di daerah Kandangan karena mayoritas masyarakat Kandangan adalah masyarakat Islam abangan.

Di kalangan Ma’hadut Tholabah Kiai Thoha lebih akrab dipanggil Abah Thoha, sedang untuk Nyai Juwariyah dipanggil Mak Nyai. Panggilan ini digunakan di kalangan para santri yang menuntut ilmu di ma’had. Akan tetapi terkadang para penduduk di sekitar ma’had juga turut memanggilnya demikian, karena mereka merasa telah mengenal dekat Abah Thoha dan Mak Nyai.

Sebuah kisah yang sederhana, muncul dari Abah Thoha ketika beliau sedang mengaji kitab bersama para santrinya. Saat itu, Kiai Thoha sedang membaca kitab di depan para santrinya agar ikut memaknai kitab. Saat dipertengahan, tiba-tiba beliau berkata “alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah” dan para santrinya menulis kata Alhamdulillah juga untuk memaknai kata dalam kitab itu. Padahal makna yang sesungguhnya bukan demikian. Beliau berkata alhamdulillah karena saat itu Kiai Thoha merasa ngantuk dan tertidur sejenak. Karena bagi beliau mengantuk dan tidur adalah salah satu nikmat dari Allah Swt. Sebenarnya para santrinya mengetahui bahwa beliau sedang tertidur, akan tetapi para santrinya itu tidak ada satu pun yang berani membangunkan ataupun mengingatkan beliau karena sikap ta’dhimnya para santri kepada Abah Thoha.

Abah Thoha betul-betul menikmati setiap apa yang telah dijalaninya. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari beliau baik itu berupa keluhan, amarah atau pun bersedih atas sikap istrinya itu. Beliau merendahkan hati, dan selalu bersikap sabar di saat sifat tempramental istrinya muncul.

Kesabaran Abah Thoha yang seperti ini patut dicontoh dalam kehidupan sehari-hari. Beliau sangat menyayangi istrinya dan begitu menghargai sifat-sifat yang dimiliki istrinya. Belum pernah ada orang yang mengetahui beliau marah. Karena beliau selalu menjalani rutinitas kehidupannya dengan perasaan sabar. Karena kesabaran itulah yang menjadikan beliau begitu istemewa dan terkenal di kalangan masyarakat Kediri.

Sebuah kisah diceritakan, ketika Abah Thoha dan Mak Nyai sedang umroh di tanah suci Makkah, dikabarkan bahwa di sana beliau diikuti oleh makhluk ghaib hingga kembali ke ma’had yang ada di Kebondalem Kandangan. Ternyata makhluk ghaib itu telah menunggu kedatangan Abah Thoha di mushola ma’had. Alasan mereka sampai mengikuti beliau ke ma’had semata-mata untuk sowan (meminta izin) kepada Abah Thoha, karena mereka ingin ikut mengaji pada beliau, mereka ingin menjadi santri Abah Thoha.

Waktu itu, ketika Ma’hadut Tholabah telah berhasil didirikan, yang menjadi santri pertama Abah Thoha adalah Kiai Abdul Kasir yang berasal dari Sumbersari. Lalu diikuti oleh santri yang lain, salah satu diantaranya berasal dari Rembang Jawa Tengah. Di saat Abah Thoha mengaji bersama santri-santrinya, tiba-tiba terdengar ada seseorang yang mengetuk pintu ma’had dan dia mengucapkan salam. Lalu Abah Thoha dan para santrinya menjawab salam tersebut. Abah Thoha menghentikan ngajinya sejenak. Beliau berdiri dan mendatangi pintu ma’had tersebut. Akan tetapi saat pintu itu dibuka, tidak terdapat seseorang pun yang ada di luar. Para santrinya merasa terkejut dengan kejadian ini, karena peristiwa ini tidak hanya terjadi sekali, akan tetapi sering kali dan berulang kali setiap Abah Thoha mengaji bersama santri-santrinya.

Hingga untuk yang terakhir kalinya, ada yang datang lagi dan mengetuk pintu dan mengucapkan salam. Seperti biasa pula Abah Thoha beranjak ke depan pintu dan membukakan pintu. Saat itulah makhluk ghaib tersebut menampakkan dirinya di hadapan beliau dan para santri. Beliau mengetahui apa keinginan dari makhluk ghaib itu, dan beliau mempersilahkan makhluk ghaib itu masuk dan ikut bergabung bersama santri yang lain yang sedang mengaji.

Mulanya, para santri Abah Thoha ini merasa sedikit takut dengan sikap Abah Thoha yang demikian. Akan tetapi mereka mempercayakan semua itu pada Abah Thoha, karena mereka yang menyantri di situ adalah santri-santri yang memiliki ketawadhu’an yang tinggi.

Setelah kejadian itu mulai berlalu, datang lagi kisah lain yang masih berhubungan pula dengan makhluk ghaib. Saat itu Abah Thoha sedang sholat berjama’ah dengan para santrinya. Abah Thoha membaca surat Al-Fatihah, ketika sampai pada ayat terakhir yang berbunyi “Waladdloolliin”, lantas seperti biasanya para santrinya menjawab “Aaaamiiiiiiiiin”. Semua santri yang berjama’ah merasa heran karena tidak seperti biasanya ketika menyuarakan Aamiin, suaranya terdengar begitu menggema, padahal para santri Abah Thoha pada waktu itu masih sedikit, dan yang berjama’ah juga sedikit tetapi suaranya terdengar sangat menggema seperti terdapat banyak makmum yang ikut sholat berajama’ah pada waktu itu. Setelah berfikir panjang, ternyata suara yang menggema itu berasal dari makhluk ghaib yang ikut berjama’ah dengan Abah Thoha.
 
Buih-Buih Perjuangan Kiai Thoha
Perjuangan Kiai Thoha untuk ilmu pertama kali ketika berhasil mendirikan madrasah baru di Lirboyo yang sekarang madrasah tersebut bernama Madrasah Islamiyah Hidayatul Mubtadin (MIHM). Madrasah ini didirikan atas gagasan yang muncul dari Kiai Faqih, yang kemudian Kiai Faqih mengajak Kiai Thoha untuk berjuang bersama dalam mendirikan madrasah baru itu. Kemudian, setelah hidup di tengah masyarakat, berhasil mendirikan pondok pesantren sendiri, yaitu Ma’hadut Tholabah di daerah Kebondalem, Kandangan pada tahun 1973. Dalam pendirian pondok pesantren ini, Kia Thoha menggunakan tanah yang kira-kira luasnya 60x100m. Beliau lebih mengutamakan untuk membangun dua bangunan dasar yakni kamar (ghotaan) untuk para santrinya dan sebuah mushola. Mushola pada saat itu tidak hanya digunakan sebagai tempat bersujud menghadap Ilahi, akan tetapi juga digunakan sebagai tempat belajarnya para santri, meskipun terbuat dari rakitan bambu-bambu yang sederhana.

Pondok pesantren ini tergolong sebagai pondok pesantren Salafiyah. Karena dalam sistem pembelajarannya Kiai Thoha selalu mempertahankan kitab-kitab klasik, atau yang biasa disebut dengan kitab Kuning. Beliau menjadikan kitab kuning ini sebagai suatu hal yang pokok dari pendidikan pesantren, terutama pada pendidikan Madrasah Diniyah.

Tak kalah juga perannya di dalam masyarakat, pondok pesantren ini secara tidak langsung telah mampu dan cukup berpengaruh dengan sejumlah kegiatan-kegiatan kemasyarakatan. Mulai dari pengajian-pengajian yang dilakukan para santri dengan masyarakat sekitar, seperti Majlis Ta’lim yang dilaksanakan setiap malam Kamis, sema’an al-Qur’an bin-nadzor setiap satu bulan sekali dan yasinan setiap malam Jum’at. Kegiatan-kegiatan kemasyarakatan inilah yang sampai saat ini masih istiqomah dijalankan santri bersama dengan masyarakat sekitar.

Awal mula didirikannya pondok pesantren ini para santri masih sedikit, namun dengan seiring berjalannya waktu, santri mulai bertambah. Hal itu tidak hanya berlaku untuk santrinya, pondoknya pun juga semakin semakin besar dan luas. Kemungkinan sekarang yang menyantri di sana berkisar antara 150 hingga 200 santri. Dan kini yang menjadi pengasuh pondok adalah putranya yang bernama Kiai Haji Imam Baihaqi Thoha, putra beliau yang ke tiga dari 10 bersaudara.

Beberapa diantara santri beliau tersebut banyak yang telah sukses dan sekarang menjadi Ulama’ besar atau Kiai hingga mendirikan pondok pesantren sendiri di kampung halamannya. Seperti santri yang mendirikan pondok pesantren di Sumatera dan santri yang mendirikan pondok pesantren di pulau Bawehan. Ada pula santri yang kini menjadi pengasuh pondok, seperti Kiai Anwar Mansur yang kini menjadi pengasuh utama di Lirboyo Kediri.
 
Detik-Detik Wafatnya Kiai Thoha
Saat itu sedang berlangsung sholat berjama’ah maghrib di pondok. Tiba-tiba Kiai Thoha merasa sakit perut (madaran). Tak lama kemudian beliau merasa badannya melemas dan wajahnya memucat. Dalam detik-detik itulah Allah Swt mengambil Kiai Thoha bertepatan dengan bulan Sya’ban di tahun 2001, yang disusul oleh Nyai Juwairiyah, istrinya, tepat setahun berikutnya di bulan yang sama yakni bulan Sya’ban di tahun 2002.

Sumber:
Dari situs http://ppmtkebondalem.blogspot.co.id.
Wawancara dengan beberapa santri di Kandangan Kediri

Penulis: Siti Nur Azizah (Mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Jawa Timur)
Penyelia Bahasa: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *