Thursday , November 23 2017
Home / Kyaiku / KH. Ahmad Umar Abdul Mannan Mangkuyudan (1916 – 1980)
sumber: https://suarapesantren.net

KH. Ahmad Umar Abdul Mannan Mangkuyudan (1916 – 1980)

Nama aslinya adalah Kiai Ahmad Umar. Sedangkan Abdul Mannan adalah nama dari ayahnya yang berasal dari Wonogiri yang menikah dengan Nyai Zainab. Kiai Abdul Mannan marupakan santri dari Kiai Ahmad Kadirejo Klaten Jawa Tengah. Dari pernihakan dengan Nyai Zainab tersebut, Kiai Abdul Mannan diberi keturunan 14 orang, delapan orang laki-laki dan enam orang perempuan. Empat diantaranya putra-putri beliau meninggal sejak masih kecil. Tidak ada keterangan lebih lenkap yang penulis temukan mengenai nama yang meninggal tersebut.

Kiai Ahmad Umar kemudian dikenal dengan nama lengkap KH. Ahmad Umar Abdul Mannan atau Mbah Kiai Umar Mangkuyudan. Lahir pada Sabtu Pahing, tahun 5 Agustus 1916 M namun ada yang menyebut lahir pada tahun 1917.

Setelah menamatkan Sekolah Menengah di Madrasah Tsanawiyah Al-Islam Surakarta, Kiai Umar Muda ini bertekad untuk mondok ke Pondok Pesantren Termas yang terletak di desa Termas Pacitan Jawa Timur dan langsung diantar oleh ayahnya. Sebagaimana kemasyhuran Pesantren Termas yang telah sampai di telinga masyarakat luas kala itu. Termasuk karena pondok pesantren tersebut telah mencetak alumni yang intelektual dan berhasil menjadi ulama-ulama besar di tanah air. Di Pondok Pesantren ini, Kiai Umar muda belajar ilmu-ilmu agama langsung dengan kitab-kitab klasik (kutub turats) atau yang biasa kita sebut dengan kitab kuning, bukan belajar dengan kitab tarjamahannya. Diantara kitab-kitab yang dipelajari oleh Kiai Umar ialah Kitab Tarqib, Kitab Fathul Muin, Kitab Fathul Wahab, Kitab Al-Mahalli, Kitab As-Asybah, dan lain-lain.

Selama belajar ilmu-ilmu agama di Pondok Pesantren Termas, Kiai Umar Muda bertemu dengan teman-teman satu angkatannya yang kelak juga menjadi ulama besar antara lain, Ali Ma’shum bin Ma’shum (almaghfurlah KH. Ali Ma’shum) dari Lasem yang kelak menjadi menantu KH. Munawwir Krapyak Yogyakarta sekaligus menggantikan mertuanya sebagai pengasuh pesantren, Muntaha (almaghfurlah KH. Muntaha) dari Wonosobo yang kelak mendirikan Pondok Pesantren As Syafiyah Kalibeber serta mendirikan Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Wonosobo, Daris (almaghfurlah KH. Ahmad Musthofa) dari Solo yang kelak mendirikan Pondok Pesantren Al-Qur’any Solo, Mukhtar Rosyidi (almaghfurlah KH. Mukhtar Rosyidi) dari Tuban yang kelak menjadi Rois Syuriah PCNU Kota Surakarta serta mengarang kitab Zadus Salik fi Syarah Alfiayah Ibnu Malik yang sampai sekarang digunakan sebagai rujukan Pondok Pesantren Al-Muayyad sendiri.

Setelah Kiai Umar menyelesaikan belajar tentang ilmu-ilmu agama di Pondok Pesantren Termas, Kiai umar kemudian melanjutkan belajar Al-Qur’an di Pondok Pesantren Krapyak yang pada saat itu paling masyhur dalam mengajarkan Al-Qur’an dibawah asuhan KH. Munawwir, seorang ulama besar ahli Qur’an. Di Krapyak ini, Umar muda menghafalkan Al-Qur’an menurut qira’ah Imam Hafs. Baginya, mengaji di Krapyak bukan main sulitnya, akan tetapi karena keuletan Umar muda dan tirakat shalat malam akhirnya beliau mampu menyelesaikan dan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam waktu yang singkat.

Selepas belajar dari Krapyak, beliau melanjutkan belajar di Pondok Pesantren Mojosari Nganjuk dibawah asuhan KH. Zainuddin. Di Pondok Pesantren ini Kiai Umar tidak belajar seperti waktu di Termas dan Krapyak, karena kitab-kitab yang diajarkan di Pondok Pesantren telah dikuasai oleh Kiai Umar dengan baik. Niat beliau mondok disini adalah untuk belajar mengaplikasikan ilmu-ilmu yang sudah ia pelajari selama belajar di Termas dan Krapyak, juga ingin memahami karakter atau psikologi santri yang berbeda karakter, dengan tujuan mempersiapkan diri menghadapi bermacam-macam karakter manusia yang yang akan dihadapi di masyarakat kelak. Mengenai keterangan di Pesantren ini, penulis tidak mendapatkan keterangan lebih lengkap mengenai waktu dan kegiatan apa saja yang telah dilakukan oleh Kiai Umar.

Sepulang dari Nganjuk, Kiai Umar merasa bahwa ilmunya masih kurang dan belum cukup untuk bekal terjun ke masyarakat nanti. Akhirnya beliau kembali untuk melengkapi ilmunya dengan mondok di Pondok Pesantren Popongan Klaten yang pada waktu itu diasuh oleh KH. Manshur, seorang ulama besar ahli Tashawuf. Di Pondok Pesantren ini Kiai Umar belajar banyak hal tentang hati atau yang lebih kenal dengan Tashawuf.
 
Berdirinya Pondok Pesantren Mangkuyudan
Setelah 20 tahun Kiai Umar ngangsu kaweruh di beberapa tempat, kemudian Kiai Abdul Mannan, ayah beliau, meminta Kiai Umar untuk kembali ke kampung halaman untuk menggantikan dalam mengelola langgar kecil yang ada di kampung Mangkuyudan.

Sepulang Kiai Umar ke Mangkuyudan, beliau mengajarkan masyarakat untuk membaca Al-Qur’an, ilmu-ilmu agama, serta membaca kitab kuning. Namun, Al Qur’an tetap menjadi priorotas dalam setiap pembelajaran. Oleh karena sudah dikenal sebagai hamil Al Quran, Kiai Umar kemudian diminta oleh masyarakat untuk mengajarkan anak-anak muda agar mengaji Al-Quran. Bahkan, dari luar daerah juga tidak sedikit yang berbondong-bondong untuk ikut pengajian tersebut.

Beberapa tahun setelah Kiai Umar mengajar Al-Qur’an di langgar, santri-santri dari luar kota hari demi hari semakin bertambah untuk belajar dan menghafalkan Al-Qur’an kepada Kiai Umar, sehingga langgar kecil pun tidak cukup untuk menampung santri yang semakin banyak tersebut. Tergeraklah hati masyarakat Mangkuyudan untuk membantu Kiai Umar muda membangun masjid dan pondok putra saat itu.

Melihat aktivitas putranya, Kiai Abdul Mannan kemudian mempersilahkan Kiai Umar untuk memanfaatkan tanah perkebunan kelapa miliknya kuranglebih sekitar 3500 meter persegi yang sebelumnya telah dijariyahkan oleh KH Ahmad Shofawi, seorang ulama konglomerat yang tinggal di Kota Solo sekaligus sahabat dari Kiai Abdul Mannan ketika nyantri.

Setelah masjid dan pondok putra berdiri, KH. Manshur yang waktu itu menjadi pengasuh Pondok Pesantren Popongan Klaten sekaligus guru dari Kiai Umar telah berkenan untuk memberikan nama masjid tersebut dengan nama Masjid Al-Muayyad. Kiai Umar kemudian meminta salah satu santrinya yang mahir kaligrafi agar menuliskan nama tersebut dan dipasang di atas pintu tengah masjid. Tulisan tersebut hingga saat ini masih bisa kita lihat di masjid.

Meskipun namanya Masjid Al-Muayyad, namun untuk pondoknya orang tetap menyebut dengan Pondok Pesantren Mangkuyudan. Sedangkan sebutan nama Pondok Pesantren Al-Muayyad baru dikenal secara luas akhir-akhir ini. Sebagaimana kebiasaan orang dulu, nama sebuah pondok pesantren seringkali dinisbatkan dengan nama kampung/desa, seperti Pondok Krapyak, Pondok Lirboyo, Pondok Termas,Pondok Sidogiri, Pondok Langitan, Pondok Sarang, dan lain sebagainya.

Sejak saat itulah, masjid dan pesantren putra ini menjadi pusat kegiatan belajar mengajar ilmu agama termasuk Al-Qur’an.

Adapun santri-santri Kiai Umar sudah banyak yang telah muncul sebagai tokoh nasional hingga kini, salah satunya adalah KH. M. Nuril Huda, manan Ketua LDNU Pusat sekaligus pernah menjadi Ketua Umum IPNU Surakarta, KH. Mahmud Muhammad Muro’i yang mengabdi sebagai dosen di Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga sekaligus Rois Syuriah PCNU Sleman Yogyakarta, KH. Baidhowi Syamsuri yang dikenal sebagai ulama ahli hadits sekaligus menjadi pengasuh Pondok Pesantren Sirojut Tholibin Brabu Semarang, KH. Abdul Hadi Adnan yang sukses menjadi penyiar radio dan menjadi imam besar masjid di Washington, Prof. KH. M. Asyhadi sukses menjadi guru besar di Universitas Sebelas Maret Solo, serta masih banyak lagi yang lainnya.

 Terlibat Membesarkan NU
Di tengah kesibukan dalam mengajar di pesantren, Kiai Umar ikut memperhatikan keberlangsungan Jam’iyyah Nahdlatul Ulama, khususnya di wilayah Solo Raya. Di masa kepemimpinan beliau, al-Muayyad bergabung menjadi anggota Rabithah al-Ma’ahid al-Islamiyyah Nahdlatul Ulama (RMI). Dan, disaat terjadi kemelut di tubuh NU, yang berujung pada terbelahnya NU menjadi dua kubu, yakni kubu Situbondo dan kubu Cipete, sebelum akhirnya diputuskan untuk kembali ke Khittah 1926 pada Muktamar ke-27 di Situbondo tahun 1984, Kiai Dian Nafi’ yang kala itu masih muda bertanya kepada Kiai Umar perihal kejadian ini. Pertanyaan tersebut kemudian dijawab oleh Kiai Umar sebagaimana dikisahkan oleh KH. Yahya Cholil Staquf.

“Orang itu pangkatnya lain-lain. Ada yang pangkatnya memikirkan NU, ada yang pangkatnya mengurusi NU. Lah, kita ini baru sampai pada pangkat mengamalkan NU. Ya sudah, bagian ini saja kita laksanakan: mengajar santri, ngopeni masyarakat kampung, dan jangan sampai terlalu banyak orang memikirkan dan ngurusi NU tapi langka yang mengamalkannya.”

 
Keteladanan Kiai Umar
Kiai Umar adalah seorang yang selalu berjamaah ketika sholat, ia tidak pernah meninggalkan jamaah, walaupun beliau sedang melakukan perjalanan. Kalau beliau baru datang dari bepergian, kiai Umar langsung mengajak dan mencari santri yang belum sholat berjamaah. Kiai Umar juga seorang ahli tahajjud dan tidak pernah meninggalkan sekalipun dalam perjalanan. Kebiasaan beliau mengerjakannya pada pukul 02.00 malam. Dan setelah itu beliau tidak pernah tidur lagi akan tetapi membaca dzikir sampe adzan shubuh tiba.

Beliau adalah sosok yang sangat memperhatikan nasib yang tidak mampu, hal ini terlihat ketika SPP pondok pada waktu itu akan naik karena menyesuaikan harga-harga diluar yang sama naik. Kiai Umar langsung terlihat sedih karena selalu terbayang bahwa beban wali santri semakin berat. Akhirnya, Kiai Umar menyetujui dengan kenaikan SPP pada saat itu karena jika tidak dinaikkan sekolah tidak bisa membayar kebutuhan oeparsional, kiai Umar berpesan “SPP boleh naik akan tetapi jangan sampai itu menjadi halangan untuk mondok di Mangkuyudan hanya karena biaya. Apabila hal itu terjadi tidak mampu membayar SPP carikan bapak asuh”.

 
Karya Intelektual Kiai Umar
Cinta dan kasih saying Mbah Umar Mangkuyudan kepada Baginda Rasulullah SAW tidak saja diwujudkan dengan mengamalkan sunnah-sunnahnya tetapi juga dengan melantunkan bacaan-bacaan shalawat. Hal ini dapat dilihat dalam karya-karya syi’ir beliau seperti “Kanjeng Nabi”, “Ayo Ngaji” dan “Shalawat Wasiat”. Shalawat Wasiat diawali dengan shalawat kepada Kanjeng Nabi diikuti wasiat-wasiat beliau.

Shalawat Nabi biasanya ditulis dengan bahasa arab seperti halnya shalawat Asnawiyah yang lebih berisi tentang doa-doa keselamatan, akan tetapi berbeda dengan kiai Umar yang menulis shalawat wasiat mbah Umar dengan bahasa jawa. Kiai Umar sendiri memiliki alasan mengapa beliau memilih menggunakan bahasa jawa karena menyesuaikan dengan konteks jaman dan kepada siapa wasiat itu dialamatkan, disamping memang beliau akrab dengan budaya Jawa, sebuah wasiat tentu akan efektif jika ditulis dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh pihak yang diwasiati.

Alasan mengapa Kiai Umar memberi nama karyanya dengan shalawat wasiat adalah karena setelah bait pembuka berisi shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, bait-bait berikutnya berisi pesan-pesan Mbah Umar agar kita semua bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu yang bermanfaat dengan mengamalkannya secara istiqamah, memperkuat kerukunan dan menjauhi perpecahan, bersekolah di madrasah yang mengajarkan Al-Qur’an seperti di Mangkuyudan. Kesemua itu agar kita kelak menjadi anak yang berbudi pekerti, alim shaleh, dan berbakti kepada kedua orang tua. Adapun isi shalawatnya sebagai berikut:

Allahumma sholli wa salim ‘alaa # Sayyidina wa maulana Muhammadin
‘Adada maa fi ‘ilmillahi shalatan # Da’imatan bidawami mulkillahi

Wasiate kiai Umar marang kita
Mumpung sela ana dunya dha mempengo
Mempeng ngaji ilmu nafi’ sangu mati
Aja isin aja rikuh kudu ngaji
Dha ngajiha marang sedulur kang ngerti
Aja isin najan gurune mung bayi
Yen wus hasil entuk ilmu lakonono
Najan sithik nggonmu amal dilanggengno
 
Aja ngasi gegojegan dedolanan
Rina wengi kabeh iku manut syetan
Ora kena kanda kasep sebab tuwa
Selagine durung pecat sangka nyawa
 
Ayo konco padha guyub lan rukunan
Aja ngasi pisah congkrah lan neng-nengan
Guyub rukun iku marakake ruso
Pisah congkrah lan neng-nengan iku dosa
 
Ing sahrene dawuh rukun iku nyata
Ayo enggal dha nglakoni aja gela
Aja rikuh aja isin aja wedi
Kudu enggal dilakoni selak mati
 
Mula ayo bebarengan sekolaho
Mesti pinter dadi bocah kang utama
Budhi pakertine becik sarta tata
Woh-wohane bakal bekti marang wong tuwa
 
Ing sahrene dawuh rukun iku cetha
Ayo enggal dha nglakoni aja gela
Ayo sekolah nyang madrasah Al-Qur’an
Padha ngaji Qur’an ana Mangkuyudan
 
Diantara pemikiran kiai Umar
Kiai Umar adalah sosok yang selalu toleransi terhadap non muslim, kiai Umar tidak pernah mengajarkan atau menanamkan kebencian kepada orang-orang dari kelompok agama lain. Menurut cerita dari bapak Muhammad Ishom yang tak lain adalah keluarga kiai Umar sendiri, kiai Umar pernah dekat dengan jaksa yang beragama kristen, bernama bapak Sarwono. Setiap idul adha kiai Umar selalu memberikan daging qurban kepadanya. Pak Sarwono menyebutnya dengan daging suci.

Kiai Umar juga pernah dekat dengan seorang etnis Cina yang bekerja sebagai pegawai kantor PLN, yang bertugas sebagai penagih rekening listrik terutama untuk wilayah Mangkuyudan dan sekitarnya. Kiai Umar menaruh perhatian besar pada pak Mugisi yang beliau beragama Budha. Hal ini terlihat setiap pak Mugisi datang untuk menarik tagihan listrik kiai Umar selalu mengajaknya berbincang-bincang santai, hingga akhirnya secara diam-diam pak Mugisi mengagumi seluruh keramahan, kebaikan dan nasihat-nasihat bijak kiai Umar. Pak Mugisi merasakan sekali kiai Umar sangat berbeda dengan kebanyakan orang Solo yang cenderung kurang respek kepada orang-orang Cina, kekaguman pak Mugisi dari waktu ke waktu semakin meningkat hingga akhirnya pak Mugisi memohon kepada kiai Umar untuk menuntun membaca dua kalimat syahadat.

Kiai Umar tidak saja seorang kiai alim akan ilmu-ilmu yang dimilikinya tetapi sekaligus seorang ilmuwan yang kritis. Beliau selalu mengajarkan kritisme terhadap semua hal sekalipun itu hal sangat sederhana. Hal ini terbukti ketika bapak Muhammad Ishom masih kecil dan sering keluyuran sehingga membuatnya sering bolos ngaji dengan kiai Umar, kiai Umar menghendaki ibunda bapak Ishom tidak membenarkan atau meyakini begitu saja apa yang ada dalam pikiran seperti anggapan-anggapan atau dugaan-dugaan sebelum melakukan pembuktian.

Setelah lebih dari empat puluh tahun beliau mengasuh dan mengajar di pondok pesantren Al-Muayyad, mengajarkan Al-Qur’an kepada santri-santri dengan sabar, telaten dan penuh keikhlasan tanpa pernah merasa lelah, bosan apalagi putus asa. Beliau kembali ke rahmatullah dalam usia 63 tahun bertepatan pada tanggal 11 ramadhan sekitar subuh setelah makan sahur pada tahun 1980 M. Pondok pesantren Al-Muayyad diasuh oleh KH. Abdur Rozaq Shofawi yang tak lain adalah keponakan beliau sendiri atau putra dari adik beliau nyai Musyarofah, karena kiai Umar tidak memiliki putra kandung atau keturunan. Beliau dimakamkan ditengah komplek pondok pesantren Al-Muayyad tepatnya di belakang masjid pondok.
Sumber:
Buku Sejarah Singkat KH. Ahmad Umar (Pendiri Pondok Pesantren Al-Muayyad).
Hasil wawancara dari bapak Muhammad Ishom, keponakan dari Al-marhum KH. Ahmad Umar Abdul Mannan.

Penulis: Amiroh Nichayatun Munir Azizah
Penyelia Bahasa: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *