Thursday , November 23 2017
Home / Kyaiku / KH. FATHURRAHMAN ABU SAID JENU TUBAN (1879-1944)

KH. FATHURRAHMAN ABU SAID JENU TUBAN (1879-1944)

Kabupaten Tuban sejak dulu dikenal dengan jumlah para wali yang tersebar hingga daerah-daerah terpencil yang membuat Tuban kerap kali  disebut sebagai Bumi Para Wali. Sebutan ini layak disandangkan mengingat para wali yang ada fi daerah ini memiliki kesejarahan panjang sejak zaman sebelum era Wali Songo hingga era sekarang. Salah satunya yang ada di pesisir utara, tepatnya daerah Desa Beji Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban. Berdirilah sebuah pondok pesantren yang cukup tua dan menjadi rujukan banyak  pesantren lain. Pesantren tersebut bernama Pondok Pesantren Mambail Futuh yang didirikan oleh almaghfurlah KH. Fathurrahman Abu Said.

Mbah Kiai Fathurrahman  Abu Said dilahirkan sekitar tahun 1879 M dari pasangan seorang saudagar kaya bernama KH. Abu Said dan Ibu Nyai  Semi (sepulang dari tanah suci berganti nama menjadi Ibu Nyai Hj. Shofiyah). Mbah Kiai Fathurrahman Abu Said semasa kecil adalah anak yang tekun dan taat beribadah. Beliau mengawali mempelajari agama kepada Kiai Mukhtar, seorang kiai kampung sekaligus menjadi pengasuh beberapa pengajian rutin di Beji yang kelak dikenal dengan sebutan “Pondok Beji”. Pondok Beji ini sekarang sudah berubah menjadi Pondok Pesantren Mukhtariyah Assyafi’iyah. Setelah beberapa saat ngaji di Beji, kemudian Kiai Fathurrahman hijrah ke Jamsaren Solo untuk ngangsu kaweruh ke Mbah Kiai Idris, yang waktu itu pengasuh Pesantren Jamsaren generasi ketiga.

Setelah dikhitan, beliau melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Jamsaren Solo di bawah asuhan pengasuh generasi ketiga yang bernama Mbah KH. Idris. Pengasuh pertama yaitu Kiai Jamsari sementara yang  kedua yaitu Kiai Jamsari II.

Setelah boyongan dari Jamsaren, Mbah Kiai Fathur tidak langsung pulang ke kampungnya, keinginan dan semangat mencari ilmu menuntunnya untuk nyantri ke KH. Muhammad Khozin di Pondok Pesantren Langitan Widang Tuban. Seperti halnya di Jamsaren, di Langitan pun sedang diasuh oleh generasi ketiga setelah KH. Muhammad Nur (generasi pertama) yang dilanjutkan oleh KH. Ahmad Sholeh (generasi kedua). Sewaktu masih di Langitan, Mbah Kiai Fathur sering diminta pulang oleh orang tuanya karena akan dinikahkan, akan tetapi beliau enggan untuk pulang.

Beberapa saat setelah itu, Kiai Fathurrahman diberangkatkan haji oleh orang tuanya kemudian dibangunkan sebuah pondok pesantren yang waktu itu dapat dibilang masih sederhana. Pondok tersebut dikenal dengan nama “Pondok Beji Lor”, yaitu untuk membedakan dengan “Pondok Beji Kidul” yang saat itu diasuh oleh almagfurlah KH. Sholeh Mukhtar (kelak menjadi mertua dari Kiai Fathur). Pondok Beji Lor ini kemudian oleh beberapa penerus Mbah Kiai Fathur diganti dengan nama “Roudlotul Mustarsyidin Assaidiyah”. Setelah itu berdirilah pendidikan formal berupa madrasah yang diberi nama “Manbail Futuh”. Kemudian, karena beberapa alasan, penamaan madrasah dan pondok kemudian disatukan menjadi “Manbail Futuh”.

Selang bebera waktu setelah berdirinya pondok pesantren ini, Kiai Fathur dinikahkan dengan seorang gadis putri dari KH. Sholeh bin Mukhtar yang bernama Masyithoh. Dari pernikahan ini, Kiai Fathur dikaruniai sebelah keturunan, namun dua diantaranya meninggal saat masih kecil sedangkan yang sembilan yaitu: Malyunah (menikah dengan K. Syuheb), KH. Idris (menikah dengan Indasah), Hamnah (menikah dengan KH. Hisyam Ismail), KH. Suyuthi (menikah dengan Hj. Mustati’ah), Zaidah (menikah dengan KH. Mizan Abdullah), Fathimah (menikah dengan KH. Ali Mahrus), K. Hawaruzmi (menikah dengan Istiqomatin), K. Dhofir Said (menikah dengan Hj. Nafisah), dan Hj. Shofiyah/Shofiyatun (menikah dengan KH. Muslih Abd. Rohim).

Setelah berhasil mendidik putra-putrinya dan berjuang di masyarakat dan pondok pesantren, Kiai Fathur dipanggil oleh Allah Swt pada tahun 1944 M dan dimakamkan di makam Sentono Lor Desa Jenu, Kecamatan Jenu kab. Tuban.

Penulis: Nurul Fahmi (abdi dalem Pondok Pesantren Mambail Futuh Beji Jeni Tuban)
Penyelia Bahasa: Winartono

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *