Monday , September 25 2017
Home / Kyaiku / KH HASYIM SHOLEH PONOROGO (1939 -2003)
sumber: http://prambondaganganmadiun.blogspot.co.id

KH HASYIM SHOLEH PONOROGO (1939 -2003)

Beliau bernama KH Hasyim Sholeh. Dikenal sebagai Pendiri Pondok Pesantren Darul Huda Mayak Ponorogo sekaligus Pejuang Dzikrul Ghofilin dan Semaan Jantiko Mantab di Kota Ponorogo. Beliau lahir  di kalangan ulama dari pasangan KH. Husain dan Hj. Sufiah pada tahun 1939. KH. Hasyim Sholeh, atau biasa di sapa dengan sebutan Mbah Hasyim oleh para santrinya ini adalah sosok yang sangat rendah hati. Sosok panutan mbah Hasyim adalah Mbah Nur Fadhil Gentan Ponorogo sehingga beliau diwarisi  Keagungan akhlak dan tekad yang kuat untuk semua cita-citanya dari gurunya tersebut.

Ulama yang lahir di Bumi Reog ini mengawali pendidikannya di bangku SD sebelum akhirnya melanjutkan untuk mondok. Tekad beliau untuk mondok sangat besar. Sebelum berangkat mondok beliau di khitan terlebih dahulu. Saking besarnya keinginan untuk nyantri sampai ketika khitannya belum sembuh benar, beliau melakukan usaha apapun agar cepat rehat dan berangkat mondok.

Beliau memutuskan untuk belajar nyantri di Jampes, Kediri. Beliau bernadzar, bahwasanya beliau tidak akan kembali ke kampung halaman sampai tirakatnya menjadi santri membuahkan hasil. Sehingga kadang membuat ayah ibundanya khawatir karena terlampau rindu dengan putra tercinta mereka.

KH Hasyim Sholeh sudah memiliki karisma sejak masih kecil. Cara belajar beliaupun sangat unik, tidak seperti lazimnya para pelajar lainnya. Selepas Subuh, beliau terkadang pergi ke kebonan ( kebun: Jawa ) untuk belajar. Durasi belajarnya pun tidak pernah lama, hanya beberapa menit. Walaupun seperti itu, beliau mampu menangkap pelajaran dengan sempurna. Bahkan konon, sewaktu di pondok, beliau mampu mengalahkan kakak kelasnya dalam hal keilmuan. Beliau pun sering melakukan tirakat, mulai puasa mutih, ngrowot (makan polo kependem), dan patigeni.

Tamat mondok, beliau pulang ke Ponorogo. Beliau melaksanakan puasa mutih selama 7 hari, di hari terakhir beliau lupa tidak makan sahur, padahal waktu itu puasa harus diteruskan dengan puasa pati geni ( buka pada Waktu pagi). Waktu malam tiba, tubuh beliau tak kuat hingga beliau pingsan. Teman-temannya berusaha menyadarkannya.Akhirnya munculah ide agar beliau di beri upo ( butiran nasi : Jawa ), sebab dari mulut beliau sudah tidak bisa lagi dimasuki makanan.

Saat dalam kondisi antara sadar dan tidak, beliau bermimpi bahwa bumi Mayak tertimpa Ka’bah dari arah langit, Serta ada cahaya yang sangat terang melayang di atas beliau. Beliau berusaha keras untuk dapat menangkapnya, namun tak berhasil. Setelah sadar beliau segera sowan kepada salah satu masyayikh untuk menanyakan hal- ihwal mimpinya malam itu.

Sang Kyai menjawab, “Gus…ka’bah yang jatuh di bumi Mayak itu tanda bahwa kelak bumi Mayak akan menjadi kiblatnya ilmu agama, sebagaimana Ka’bah sebagai kiblat dalam sholat. Sedangkan cahaya itu…”.dari referensi yang kami dapat, beliau Kyai Hasyim tidak menceritakan arti mimpi tersebut. Setelah berpamitan, beliau segara pulang ke Ponorogo dan berjuang untuk agama. Dalam perjalanan pulangnya, beliau berkata “Aku nek wis neng omah arep nikah, tapi ora bakal karo dulurku dewe” ( kalau sudah pulang ke rumah aku akan menikah tapi tidak dengan kerabatku sendiri). Namun takdir berkata lain. Akhirnya, beliau menikah dengan orang yang masih mempunyai hubungan saudara dengannya.

Mendirikan Pondok
Pulang dari pesantren, KH HasyimSholehmenjadi pengajar diniyah di lingkungannya, tepatnya di desa Mayak bagian Barat. Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan di sore hari iu mulai mengambil perhatian masyarakat. Sehingga makin yang banyak mengaji mulai dari warga Mayak sendiri maupun yang dari luar desa. Akhirnya tempat mengaji dipindah ke Mayak wetan ( timur : jawa) di dekat rumah beliau.

Bulan berganti bulan, tahun pun begitu. Santri yang mengaji ke Mbah Hasyim semakin banyak. Hingga suatu hari, ada seorang pekerja bernama Boiman yang ikut ngaji di diniyah beliau. Namun, karena eman (tidak ingin sia-sia: jawa) ngajinya, akhirnya Boiman tinggal di Mayak. Sedikit demi sedikit, banyak yang mengikuti jejak Boiman. Hingga akhirnya, berdirilah pondok kecil di selatan masjid Mayak. Usaha beliau dalam mengembangkan pondok tidak tanggung-tanggung, mulai dari bertani, berdagang, berkebun, hingga minta sumbangan ke berbagai pihak, namun beliau berkata”wis cukup aku ae sing isin, cukup aku ae sing njaluk-njaluk, ojo nganti anak puthuku nglakoni koyok aku”. ( cukup aku saja yang menanggung malu, aku saja meminta- minta ( sumbangan), jangan sampai anak cucuku melakukan seperti ini juga). Usaha beliau tidak sia- sia, hingga berdirilah Pondok Pesantren “Darul Huda” di desa Mayak Tonatan Ponorogo, yang saat ini telah menjadi pondok salaf modern terbesar di Ponorogo.

Mbah Hasyim terkenal dengan tekad yang gigih dalam berjuang demi tercapainya tujuan mulianya. Hal ini terlihat saat ”ngedeng- ngedenge”(sibuk-sibuknya: jawa) membangun gedung madrasah, di mana saat itu, demi tercapainya jumlah dana yang di butuhkan, Mbah Hasyim membuka usaha ”Ingkung”. Menurut keterangan, tidak kurang dari 5000 ingkung yang beliau buat. Toko-toko beliau kumpulkan, orang-orang terdekat, santri santri dan mereka-mereka yang siap menjadi distributor untuk usaha besar ingkung juga Beliau ajak. Tidak hanya kalangan bawah yang ikut kalangan atas ikut juga demi tercapainya misi beliau. Tentang pembayaran, cara yang beliau terapkan sangatlah fleksible, bayar dimuka, dibelakang, atau diangsur  silahkan. Intinya beliau tidak memberatkan pelanggan. Sungguh suatu sifat yang sangat arif dan bijaksana.

Pemakarsa Dzikrul Ghofilin di Ponorogo
Selain pondok pesantren peninggalan beliau yang lain adalah berdirinya semaan Al- Qur’an dan  dzikrul Ghafilin di daerah Ponorogo.Jamaah Dzikrul Ghafilin sendiri berpusat di kediri yang di prakarsai oleh 3 Ulama besar yaitu, KH. Chamim Jazuli atau terkenal dengan nama Gus Miek. KH. Hamid Pasuruan, dan KH. Ahmad Shidiq Jember.

Mbah Hasyim mendapatkan Ijazah Dzikrul Ghohlin pada tahun 1986. Seperti yang diceritakan Bpk. H. Muhdi, bahwa saat itu orang lebih cenderung mengatakan bahwa Dzikrul Ghofilin merupakan sebuah amalan yang baru. Maka menurut mereka perlu diadakan sebuah verifikasi (pengujian).

Namun H. Muhdi sendiri menyangkal tentang ke-absurd-an Dzikrul Ghafilin sebagai amalan baru yang perlu di uji kembali. Beliau mengatakan, “apakah benar bahwa Dzikrul Ghofilin merupakan sebuah amalan yang baru?Benar, bahwa Dzikrul Ghofilin merupakan sebuah amalan yang baru, namun tidak lebih hanya dalam hal penamaan saja”. Bila dilihat lebih dalam tentang esensi dari DzikrulGhofilin, ternyata tidak ada yang baru. Sebagai contoh, bacaan SurotulFatihah, Asma’uIHusna, Istighfar,Sholawat, dan lain-lain.

Setelah mengalami pro dan kontra, pada akhirnya amalan dzikrul Ghafilin lambat laun diterima oleh masyarakat. Dan banyak yang telah mengamalkannya dan menjadi amalan sunnah rutinan. Seperti yang telah kita ketahui, ribuan orang memadati makam Tegal Sari Ponorogo setiap malam Jum’at Kliwon, untuk melaksanakan kegiatan rutinan Aurod DzikruI Ghofilin. Atau terkadang di laksanakan di Makam KH. Hasyim Sholeh sendiri yang terletak di depan Pondok Pesantren Darul Huda Mayak Ponorogo.

Waliyullah yang Menjadi Tauladan
Mbah Hasyim adalah sosok insan yang cocok sebagai suri tauladan yang baik. Dilihat dari sudut pandang keilmuan, akhlak, dan kerja keras beliau memang tidak diragukan lagi. Beliau adalah salah satu dari warotsatul Anbiya’.

Prestasi keilmuan beliau sudah tidak diragukan lagi, terutama dalam hal keilmuan kitab Salafi. Bahkan suatu waktu, pernah Presiden ke- 4 Republim Indonesia, KH. Abdul Rahman Wahid, atau biasa disapa Gus Dur, berguru dan meminta ijazah kitab tauhid karangan Imam Ghazali yakni, kitab Ihya’ Ulumuddin.

Dengan adanya beberapa fakta dan bukti nyatan tentang peninggalan beliau, maka tidak diragukan lagi. Bahwa beliau adalah tokoh Ulama besar yang sangat berpengaruh, khususnya bagi Masyarakat di daerah Ponorogo dan sekitarnya.

Dikisahkan oleh banyak orang bahwasanya Kyai Hasyim memang seorang waliyulloh. Hal ini diketahui dari cerita KH. Tajuddin Heru Cokro, dikala beliau sowan kepada Mbah Mubasyir Mundzir Bandar Kidul, kurang lebih kisahnya sebagai berikut . Pada waktu itu, Gus Tajuddin dan Kyai Hasyim sowan kepada Kyai Hamim Jazuli di Makam Tambak. Saat itu makam Tambak belum dikenal banyak orang seperti saat ini. Peristiwa ini terjadi kurang lebih jam 2 malam. Saat itu Gus Tajuddin bersama-sama Kyai Hasyim, dan Mbah Man Hamim Kemayan. “Pada saat sowan kulo didawuhi Gus Miek”, kata Gus Tajuddin. ”Derekno Kyai Hasyim sowan Mbah Abdul Qodir Khoiri…. !(ikutkan Kyai Hasyim menghadap Mbah Abdul Qadir Khoiri )” Perintah Gus Miek kepada Gus Tajuddin. Gus Tajud saat itu hanya diam, di satu sisi pada saat itu maqbaroh sangat gelap, beliau ajrih(takut), di sisi Iain Mbah Hasyim selalu merasa rendah hati, beliau tidak mau diantar oleh Gus Tajuddin.dan, Akhirnya mereka berdua hanya udur-uduran (berselisih) hingga tiba pagi hari.

Setelah pagi, Gus Tajud ditanya oleh Gus Miek,“Kowe mambengi sido nderekne Kyai Hasyim sowan neng Mbah Abdul Qodir Khoiri ?(tadi malam kamu jadi mengantar Kyai Hasyim sowan kepada Mbah Abdul Qodir Khoiri…? ). Lalu Gus Tajud menjawab, “mboten …, kulo ajreh. Kaping kaleh, Kyai Hasyim mboten kerso kulo derekne. Kinten-kinten mangke malah udur-uduran ingkang dados imame(Tidak jadi, saya takut. Alasan kedua karena Kyai Hasyim tidak mau saya antar. Kira- kira kalau nanti saya jadi ngantar nanti malah berselisih siapa yang menjadi imam). “O …, Iek ngono sing apik mengko bengi Kyai Hasyim diderekne sowan nang Mbah Mundzir Bandar Kidul (O  …Kalau begitu, sebaiknya Kyai Hasyim diantar sowan kepada Mbah Mundzir Bandar Kidul )” Kata Gus Miek.

Akhirnya semuanya (Kyai Hasyim, Gus Tajud, Kyai Man Hamim Kemayan-Mojo- Kediri)sowan kepada Mbah Mundzir dan tiba di sana sekitar jam 12 malam. Sesampainya di Bandar Kidul, Gus Tajud matur ( berkata) kepada Kyai Hasyim, “Yi …, mengke ingkang sowan dateng Mbah Mundzir panjenengan mawon kaliyan Kyai Man Hamim nggih, kulo nderekne sowan mawon pun gemeteran Yi…(Kyai…nanti yang masuk menemui Mbah mundzir kamu saja dan Gus Miek ya, kalu saya, ngantar sowan saja sudah gemetaran)” kata Gus Tajud. Tapi Kyai Hasyim, terap memaksa Gus Tajud untuk ikut sowan sesuai dengan perimah Gus Miek.Akhirnya mereka bertiga masuk ke kamar Kyai Mundzir yang saat itu beliau masih tidur (sare:Jawa).Tepat pukul 01.00 malam, mbah Mundzir bangun, “Lho… Kyai Man Hamim ….,…. !”sapa Mbah Mundzir. “Enggih”balas Kyai Hamim.”kowe kok nggowo wong songko Ponorogo…?”(kamu kok membawa orang dari Ponorogo..?). Saat itu Gus Tajud tidak dapat berkata apa-apa,hanya diam. Karena heran, Gus Tajuddin bertanya kepada Kyai Hasyim, “Yi …., njenengan nopo sampun nate sowan Mbah Mundzir?””Dereng” jawab Kyai Hasyim.

Lalu, Mbah Mundzir dawuh kepada GusTajud, “Tajuddin, 7 tahun kepungkur, awakmu tak utus nyatet asmane Wali-Wali Sak dunyo,seng iseh sugeng lan sing wes kapundut”.”Nggih Yai” jawab Gus Tajuddin membenarkan.Kemudian Mbah Mundzir mengutus Salahseorang khodamnya.“Fudz, jupukno potelot karo kertas, aku mbiyen tau ngutus Gus Tajud nulis Wali sak dunyo sing isek sugeng lan seng wes kapundut, tapi durung tutuk, saiki arep diterusne (Fudz, ambilkan pensil dan kertas,aku dulu pernah memerintah Gus Tajud menulis nama wali-wali di seluruh dunia,yang masih hidup maupun yang telah meniggal dunia,tapi belum selesai, sekarang akan di lanjutkan),”kata Mbah Mundzir.

Saat itu Gus Tajud sudah gemetaran,karena merasa belum bisa. Karena sangking pekanya Mbah Mundzir; beliau tahu kalau Gus Tajud gundah. Lalu Mbah Mundzir berkata,”Fudz, mahfudz. Sing nulis kowe wae, Gus Tajud kim biyen Madrasah durung tamat (Fudz,Mahfudz. Yang menulis kamu saja, Gus tajud dulu belum tamat madrasah).” Seketika itu, GusTajud merasa senang luar biasa.

Setelah nama para wali ditulis, Ialu pensil dan kertasnya diberikan kepada Gus Tajud. “Jud,iki gowonen, gowonen baIi”, kata Mbah Mundzir:”Nggeh Yai” jawab Gus Tajud. “Simpenen,nggonen kenanang-kenangan, mbok menowo kowe hadiyah AI-Fatihah wali sak dunyo,senajan urung tutuk lek mu nulis,”kata Mbah Mundzir ”Nggeh Yai” kata Gus Tajuddin.

Kemudian, mereka sungkem dan memohon diri. Saat itu kertas di masukkan ke dalam saku Gus Tajud. Lalumereka pergi. Kira-kira baru melangkah 12 meter, tiba-tiba Gus Tajud dipanggil oleh Mbah Mundzir.”Le…Jud mbaliko merene…!”,“Nggeh”, kata Gus Tajud. “kancamu loro kae tulisen neng kertas kuwi…!). “Engkang panjenengan kersaaken nopo tiyang Ponorogo niku kaleh Yai Hamim Kemayan…?”(Yang anda maksud apa orang Ponorogo itu dan Kyai Man Hamim Kemayan …. ?), tanya Gus Tajuddin. “Iyo…”(iya…), jawab Mbah Mundzir.

Gus Tajud tidak dapat berkata apa-apa, apakah Mbah Hasyim ini termasuk wali atau bukan, yang jelas, Mbah Mundzir mengutus Gus Tajud untuk menulis nama Mbah Hasyim di kertas yang telah beliau berikan… Wallohu A’1am Bi al-showab.
Nasehat Kiai Hasyim Sholeh
Nasehat Mbah Hasyim, ”Ojo wedian, ojo gumunan, ojo kagetan” (jangan menjadi penakut, jangan sering terheran- heran, jangan sering kaget terhadap sesuatu yang baru) ternyata juga ditemukan dalam suatu tulisan di prabon (makam) Presiden Soeharto. Jadi, nasehat tersebut termasuk salah satu pepatah Jawa.

“Dadi santri, kudu siap dadi serbe’te masyarakat,” ( jadi santri harus siap menjadi kain lap-nya masyarakat) nasehat Mbah Hasyim. Dikandung maksud, bahwa seorang santri harus siap menjadi abdi masyarakat dalam menegakkan ajaran ilahi.

Pesan Mbah Hasyim kepada santrinya adalah agar betul-betul melaksanakan 3 hal ; 1) Jamaah sholat 2) mentaati peraturan 3) tadarus Qur’an. Pada ketiga hal itulah, dungone Yai dilumpokne (Doanya kyai dikumpulkan). Berkaitan dengan hal tersebut, Mbah Hasyim pernah mengatakan, “Dianggep santriku nek manut karo aku.” ( dianggap santriku jika taat kepadaku). Mbah Hasyim tidak suka (menghendaki) santri yang banyak, tetapi santri yang taat.

Ada seorang santri yang sowan kepada Mbah Hasyim untuk meminta izin mendaftar kuliah. Selesai mendengar dan mengetahui maksud dan tujuan santri tersebut, Mbah Hasyim menjawab, “Alhamdullilah kang, nek sampean pingin kuliah. Lalu beliau berpesan: Nek ra pingin belajar, kudu ngajar (kalau tidak ingin belajar, harus mengajar), “Neng pondok ora jaminan mlebu surgo, neng kampus yo ora jaminan dadi sugih. Sing slamet, ojo diniati neko-neko (masuk pondok itu tidak menjamin masuk surga, jadi sarjana tidak menjamin menjadi kaya, pokoknya jangan diniati macam- macam)”, dan “Ojo melok demo, tak haramke melok demo (jangan ikut demo, saya haramkan ikut demo)”. Alasan Mbah Hasyim, karena demo tidak sesuai dengan ajaran kitab Ta’lim Muta’allim.

“Wong nek bengi, raketang melek thok, iku hikmahe gedhe!” (orang yang terjaga ketika malam hari,itu memiliki hikmah besar walaupun dia tidak melakukan apa- apa sekalipun). Ini sejalan dengan laku tirakat Mbah Hasyim yang selalu terjaga di malam hari (sahrul layali). Tirakat seperti ini Mbah Hasyim lakukan semenjak remaja hingga dijemputnya ajal.

”Ngapiki wong iku wis termasuk ngamalne tasawwuf.” ( berbuat baik kepada orang lain itu sudah termasuk mengamalkan tasawwuf).

Diantara pesan Mbah Hasyim : 1) Sabar, 2) Manfaatkan waktu (isi waktu dengan kegiatan bermanfaat), 3) Dalam suatu majlis, janganlah membicarakan aib orang lain dan 4) Berkaitan suatu hal yang rahasia, hendaklah hanya diberitahukan kepada orang terbatas (mereka yang mampu menjaga rahasia).

Mbah Hasyim pernah berpesan kepada Pak Tholib,salah satu warga, bahwa orang kaya anggaplah musuh dan orang miskin anggaplah sebagai dulur (saudara). Ungkapan Mbah Hasyim ini harus dipahami dengan bijak. Bahwa dulur sejati adalah mereka yang bersaudara dengan kita dalam kebaikan dan dekat dengan kita dalam keadaan apa saja. Dulur sejati bukanlah saudara kandung, tetapi siapa saja yang apabila temannya susah maka ia ikut merasakan susah, dan apabila temannya gembira maka ia ikut bergembira. “Nek koncone susah, yo melu susah. Semono ugo sewalike,”( kalau saudaranya susah dia ikut susah, begitu juga sebaliknya) ucap Mbah Hasyim. Hubungan seperti ini akan terus langgeng sampai hari akhirat.Dikandung maksud dari pesan ini, agar kita waspada terhadap kekayaan, karena bila tidak berhati-hati, kekayaan bisa merusak ibadah kita.

Berpulang
KH Hasyim sholeh menghadap kepada Sang Pencipta pada hari Sabtu tanggal 13 Desember 2003 M karena sakit yang telah lama di derita beliau. Bertepatan dengan tanggal 18 Syawal 1424 H, dimana umat Islam kala itu masih dalam suasana lebaran, bersuka cita memperingati Hari Raya Idul Fitri. Namun, tidak dengan masyarakat Ponorogo yang dirundung duka karena wafatnya panutan mereka. Beliau meninggal di usia 64 tahun. Semoga segala amal ibadah beliau di terima di sisi-Nya.

Sumber:
http://alanza-upost.blogspot.co.id/p/pesan-pesan-kh-hasyim-sholeh-pendiri_6.html

http://santrinologi.blogspot.co.id/2015/08/biografi-kh-hasyim-sholeh_22.html
Penulis: Fahimatul Amrillah
Penyelia Bahasa: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *