Friday , December 14 2018
Home / Kyaiku / KH. M. Izzul Muntho’ Madiun (1952 – 1994)

KH. M. Izzul Muntho’ Madiun (1952 – 1994)

Nama adalah KH. M. Izzul Mutho’ bin Syaikh Izzudidin Misri bin Muhammad Thohir, atau sering di panggil Kiai Mutho’. Kiai muda nan kharismatik ini lahir pada tanggal 8 Oktober 1952 di Kediri. Semenjak perubahan yang beliau lakukan di Madiun, masyarakat Madiun, Magetan, Ngawi, dan Ponorogo mengenal Kiai Mutho’ sebagai sosok yang ‘alim, pemikir keislaman yang cukup kontemporer dan moderat serta memiliki strategi dan taktik dalam berdakwah. Kiai muda yang piawai dalam ilmu-ilmu alat ini dikenal sangat fasih dalam berbicara bahasa Arab

Dengan kecerdasan yang dimiliki oleh Kiai Mutho’ membuat banyak guru dan santri mendedikasikan diri kepada beliau. Pemahaman ilmu nahwu dan ilmu sharaf beliau peroleh ketika nyantri di Pondok Pesantren Tambak Beras kurang lebih selama dua belas tahun. Dengan umur yang relatif lebih muda dibandingkan dengan para santri lainnya kala itu, Kiai Mutho’ diakui oleh para santri dan asatidz yang ada di Tambakberas akan kefasihan berbahasa Arab dan kecerdasan pemahaman ilmu nahwu dan sharaf sehingga dirinya dipercaya menjadi mu’alimin Pondok Pesantren Tambak Beras selama 6 Tahun.

Dengan keaktifan dan kehausan beliau terhadap ilmu pengetahuan, menjadikan setiap liburan pondok pesantren menjadi kesibukannya dalam muthola’ah berbagai kitab yang pernah maupun belum dipelajari.

Kiai Mutho’, selain berguru langsung kepada pengasuh secara private (sorogan), juga aktif mencari informasi dan kemudian mendaftarkan diri untuk mengikuti serangkain kegiatan pondok kilatan yang ada di wilayah Jombang, Kediri, dan Madiun guna menambah wawasan ilmu fiqh dan mu’amalah.

Setelah menimba ilmu dari pondok pesantren Tambakberas dan aktif mengikuti pondok kilatan yang berlangsung hanya beberapa minggu serta mengabdikan diri sebagai mu’alim Tambakberas, beliau melanjutkan jenjang pendidikan tinggi di Universitas Hasyim Ashari (UNHAS) dengan mengambil jurusan dan fakultas dakwah. Oleh karenanya, di sana ia selain mendalami bidang strategi dan taktik dakwah juga berusaha memperkaya diri terhadap pemahaman terhadap ilmu balaghah dan susatra arab (arudh wal qowafi). Pada setiap waktu libur, ia memilih untuk pergi ke pondok-pondok pesantren yang ada di sekitar Jombang.

Dalam perjalanan menimba ilmu tersebut, terutama ketika berada di Unhasy, beliau bertemu dan mengenal sosok perempuan yang dipandangnya akan menjadi jodohna yaitu Nyai Umamah. Barulah setelah lulus dari kampus a memberanikan diri untuk melamar Nyai Umamah yang dua tahun lebih muda darinya, yakni perempuan kelahiran pada September 1954 di Kediri, dan menikah pada Oktober tahun 1977.

Pernikahan Kiai Mizzul Mutho’ dengan Nyai Umamah berlanjut dengan membangun sebuah rumah tangga sekaligus melanjutkan perjuangan ayahnya yaitu KH Izzuddin dalam membangun dan mengasuh di pondok pesantren yang baru saja dirintis oleh ayahnya tersebut. Pondok pesantren tersebut bernama Al Mujaddadiyyah yang berada di Demangan, Kecamatan Taman, Madiun.

Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai empat orang anak, yaitu Muhammad Izzul Wahab, Mary’a Lua’ili’a, Eliyil Akbar, dan Haqi Muhammad.

Kegigihan dan kesabaran KH. Mutho’ dalam mendidik anak menjadikan anak-anaknya sangat berbakti kepada kedua orang tua. Salah satu pesan beliau yang masih diingat betul oleh para keluarga dan saudaranya ketika berada di posisi sulit adalah “ojo sumelang, Allah niku sugih” (jangan mengeluh, Allah itu Maha Kaya). Sedangkan dalam menjalani kehidup di tengah masyarakat beliau berpesan agar selalu “guyub rukun dengan saudara”.

KH Izuul Mutho’ wafat pada usia ke 42 tepatnya pada tanggal 26 Januari 1994. Oleh karenanya, keberlanjutan pesantren kemudian diserahkan kepada saudaranya yang bernama KH. Baihaqi dan dibantu oleh putra dan putri KH. Mutho’. Tidak lama kemudian KH. Baihaqi wafat, kemudian pesantren diasuh oleh saudara Kiai Mutho’ yang bernama KH. Mustofa hingga sekarang (2016). Namun demikian, adanya pergantian pimpinan ataupun pengasuh pondok pesantren di pondok pesantren Al Mujaddadiyah tidaklah mengubah visi dan misi dari pondok pesantren yang telah diperjuangkan oleh ayahnya. [Selengkapnya di buku Manaqib Ulama Nusantara, Volume 1, 2017]

 

 

Penulis: Muhammad Zulfikar Ridho
Penyelia Aksara: Abdur Rahim

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Sholeh Nahrawi Genggong (1940 -2001)

Salah satu awliya’ Allah yang ada di Genggong dan dikenal masyarakat luas memiliki karomah adalah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *