Thursday , November 23 2017
Home / Kyaiku / KH. Moh. Tidjani Djauhari Sumenep (1945 – 2007)
http://www.nugarislurus.com/

KH. Moh. Tidjani Djauhari Sumenep (1945 – 2007)

KH. Moh. Tidjani Djauhari merupakan salah satu penerus Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan Sumenep Madura. dilahirka di Sumenep pada tanggal 23 Oktober 1945 M/ 24 Dzulqa’dah 1365 H. Kelahiran beliau bertepatan dengan tahun kemerdekaan Indonesia. Suara isak tangis mungilnya seakan turut menyemarakkan kebebasan bangsa ini dari kolonialisme penjajah.

Kiai Moh. Tidjani Djauhari adalah putra keempat dari tujuh bersaudara dari pasangan KH. Chotib Djauhari dan Nyai Maryam. Kiai Chotib sendiri merupakan ulama besar yang disegani dan seorang Pendiri Pondok Pesantren Al-Amien. Jika dirunut dari silsilah jalur ayah, Kiai Moh. Tidjani masih memiliki hubungan kekerabatan dengan KH.R. As’ad Syamsul Arifin dari Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Situbondo. Sedangkan silsilah dari jalur ibunya, Kiai Tidjani merupakan keturunan dari Syaikh Abdullah Mandurah, seorang Muthowib di Makkah yang berasal dari Sampang Madura.

Sejak kecil, kiai Tidjani hidup dan tumbuh berkembang dalam ranah pendidikan islam yang begitu kental. Ayahnya, sangat yakin bahwasanya Tidjani kecil akan menjadi seorang muslim, bermental islami dan berkepribadian yang tangguh. Pada tahun 1953 beliau duduk di bangku Sekolah Rakyat (SR) dan Madrasah Ulum Al-Washiliyah (MMA).Disinilah beliau mulai memperdalam dasar-dasar ilmu pengetahuan serta agama, beliau sangat menikmati menjalani hari-harinya, karena bagi beliau belajar merupakan kesempatan emas untuk mengasah diri dan memperluas wawasan keilmuann. Masyarakat Prenduan menaruh harapan besar kepadanya, untuk menjadi titik penerang masyarakat sana pada saat itu.

Pada tahun 1958, Kiai Djauhari mengirim beliau untuk nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor. Ayah beliau mengetahui minat dan bakat intelektual yang terpendam dalam diri Tidjani kecil. Selain itu, Kiai Djauhari kagum dengan sistem dan pola pendidikan yang di terapakan. Gontor sebuah pondok yang tidak mengenal kamus dikhotomi antara pendidikan agama dan umum. Pondok ini juga mewajibkan bagi santrinya bilingual dalam komunikasi sehari-hari, sehingga mempermudah dalam mempelajari dan mengkaji kitab-kitab berbahasa arab. Tidjani kecil memulai petualangannya dalam menjelajahi ilmu pengetahuan baik dalam agama maupun pengetahuan umum.Tidak cukup sampai disitu Tidjani kecil juga mempelajari keterampilan dasar kepemimpinan dan manajemen.Beliau juga di kenal sebagai santri yang cerdas, sehingga tidak heran jika beliau memperoleh nilai prestasi akademik tertinggi selama menyantri di Gontor.

Pada tahun 1964 beliau tamat dari KMI Gontor, dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi Darussalam (PTD), beliau juga menjadi guru KMI Gontor. Pada saat itu, Tidjani kecil di amanahkan menjadi sekertaris pertama di Pondok Modern Gontor.Selain itu, beliau juga di amanahi sebagai staf Tata usaha PTD. Amanah tersebut beliau lakoni dengan maksimal, dan in I merupakan kesempatan baginya untuk berinteraksi secara luas dengan berbagai pihak secara intens. Pengabdian selama satu tahun sebelum lulus, Tidjani kecil melaluinya dengan senyum dan kegigihannya dalam menuntut ilmu, sistem ini merupakan kewajiban bagi santri yang menyantri di pondok modern Gontor.

Keteguhan Tidjani kecil selain mendapatkan, meraih, memperdalam wawasan keilmuan serta beliau mendapatkan kado special dari pimpinan Pondok Gontor yakni KH. Imam Zarkasyi menyerahkan putrinya Ny. Hj. Anisah Fathimah Zarkasyi kepada Tidjani.Siapa sangka menyantri memperoleh putri dari pimpinan pondok.Semua itu merupakan anugerah besar bagi diri Tidjani untuk dapat mempersunting putri Kiai zarkasyi.Semenjak itulah Tidjani kecil menandai lahirnya bapak baru komunikasi edukatif antara Al-amien dan Gontor, dan Al-Amien juga sering di sebut sebagai anak dari Gontor.

Pada tahun 1965 beliau melanjutkan studinya di Universitas Islam Madinah. Beliau diterima di Fakultas Syari’ah.Kesuksesan yang diraihnya tidak lepas dari peran keluarganya. Untuk ini, peran sang kakek Syaikh Abdullah Mandurah menyemangati Tidjani kecil untuk terus semangat dalam menuntut ilmu di Madinah. Sehingga pada tahun 1969 Tidjani kecil tamat belajar tingkat License dari Fakultas Syariah Jamiah Islam Madinah dengan predikat Mumtaz.

Masih merasa kurang dalam hal belajar Tidjani kecil melanjutkan studi magisternya di Makkah pada tahun 1970 di Jamiah Abdul Aziz. Dan tamat pada tahun 1973 dengan Tesis “Tahqiq Manuskrip Fadhail Al-Quran wa Adaabuhu wa Muallimuhu li-Abi Ubaid Al-Qosim” (Keistimewaan Al-Quran: Etika dan Rambu-rambunya dalam Perspektif Abu Ubaid Al-Qosim). Demi menyelesaikan tugas ini Tidjani kecil menjelajahi perpustakaan-perpustakaan di Turki, Jerman, Belanda, Inggris. Amerika Serikat, Perancis, Spanyol dan Mesir. Judul tesis yang diambil beliau merupakan sebuah  kajian mendalam sebuah manuskrip kitab tentang Al-Quran yang dikarang oleh Abu Ubaid Al-Qosim, seorang ulama Syam, yang hidup sezaman dengan Imam Syafi’ie. Bahasa kitab asli ini menggunakan bahasa romawi.Gelar Mumtaz beliau raih kembali di Jamiah Abdul Aziz, pastinya di balik itu menyimpan sejuta usaha yang dilakukannya.

Selain aktivitas kampus, sejak 1967-1986, Tidjani kecil aktif berkiprah dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), Saudi Arabia, baik sebagai sekretaris, ketua, dan terakhir tercatat sebagai penasihat PPI. Kecerdasan beliau sungguh membuat kagum santri-santrinya serta menjadi suri tauladan yang baik.Semenjak gelar magister diraihnya, Tidjani kecil mengayuh karir di Rabithah ‘Alam Islami.Berkarir bukanlah tujuan utama dari kesuksesannya, namun itu merupakan bonus dari hasil belajarnya, kepercyaan demi kepercayaan telah beliau terima ketika masih nyantri di Gontor hingga pada saat beliau melanjutkan pendidikannya, kepercayaan tersebut terus menggeluti hidupnya.Bagaimana tidak demikian, kecerdasan, dan kepintarannya dalam wawasan ilmu banyak di sanjungi orang yang mengenali dan mengetahuinya.Jabatan yang didudukinya menambah wawasan dalam hal kepemimpinan dan manajemen. Sehingga melahirkan Ma’had Tahfidzil Qur’an, sang istri selalu mendukung keputusan dan apa yang dilakukan oleh Tidjani kecil, membuatnya tidak pernah ragu dalam melangkah untuk memprjuangkan dan melahirkan hafidz-hafidzah Indonesia terutam Madura.

Bermula dari M. Natsir menghadiri undangan sebagai tamu pemerintah Saudi Arabia  untuk mengetahui Tim ulama Irak, Tunisia, Maroko, Mesir dan Saudi Arabia sendiri. M. Natsir adalah seorang dai, ulama, politisi, ketua Partai Masyumi, dan mantan Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia (1950-1951). Guna mengantisipasi problematika tanah Quds setelah jatuh ke tangan Zionis Yahudi tahun 1967.Saat itu, M. Natsir tercatat sebagai anggota Rabithah ‘Alam Islami dan Muktamar ‘Alam Islami.Kedatangan M. Natsir dimanfaatkan oleh Tidjani kecil untuk berkenalan dan bersilaturrahim.Tidjani kecil mengagumi sosok M. Natsir sebagai pibadi besar dan berwibawa.Tidjani kecil masih tercatat sebagai mahasiswa di Jamiah Islamiyah Madinah.

Dalam kunjungan selanjutnya, M. Natsir mendengar ada putra Indonesia yang meraih predikat terbaik di Jamiah Malik Abdul Aziz, Mekkah.Mengetahui itu, M. Natsir takjub dan segera mencari informasi siapa putra Indonesia itu.Yang kemudian diketahui bernama Moh.Tidjani.Atas prestasi yang dicapainya itu, tahun 1974, M. Natsir merokemendasikan Tidjani untuk diterima bekerja di Rabithah Alam Islami.Sejak tahun itulah, Tidjani resmi berkarir di Rabithah Alam Islami dengan jabatan pertama sebagai muharrir (koresponden) yang tugas mengurusi surat-menyurat yang datang dari berbagai penjuru dunia.“Pak Natsir minta saya agar tidak pulang ke Indonesia dan belajar dulu di Rabithah.Saya menerima nasihat tersebut,” kenang Tidjani kecil.

Karir Tidjani kecil di Rabithah melesat cepat. Beberapa jabatan penting direngkuhnya, antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bagian Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran yang Menyimpang (1983-1987), dan Direktur Bagian Riset dan Studi (1987-1988).

Keaktifannya di Rabithah ‘Alam Islami inilah yang mengantarkannya menjelajahi berbagai negara di belahan dunia: Eropa, Afrika, Amerika, dan Asia. Di antaranya, tahun1976, Tidjani mengikuti Konferensi Islam di kota Dakkar, Senegal. Pada tahun yang sama, Tdjani kecil menghadiri Konferensi Islam Internasional di Mauritania, Afrika. Tahun 1977, Tidjani kecil juga mengikuti Seminar Hukum Islam di Chou University, Tokyo, Jepang. Sementara pada tahun 1978, Tidjani kecil mengikuti Pertemuan Lintas Agama di Velenova University, Philadelpia dan Dallas, Texas, Amerika Serikat.

Antara tahun 1978-1982, Tidjani kecil terpilih sebagai wakil Rabithah yang dikirim sebagai tim rekonsiliasi untuk menuntaskan masalah muslim Mindanau, Piliphina. Tugas yang sama dibebankan kepadanya, ketika tahun 1983, dikirim sebagai tim rekonsiliasi masalah politisasi agama di Burma dan konflik di Bosnia. Pada tahun ini pula, Tidjani kecil mengikuti Pertemuan Lintas Agama di Birmingham dan Leeds University, Inggris.Negara-negara besar pernah beliau jelajahi, ntah berapa negara yang sudah dikunjunginya, baik untuk memenuhi tugas yang di amanahkan kepadanya ataupun untuk menuntut ilmu.

Setelah sukses di negeri orang, Tidjani kecil kembali ke tanah kelahirannya, karena beliau bangga menjadi masyarakat Madura tepatnya desa Prenduan Sumenep Madura. Pada bulan Januari tahun 1989 Tidjani kecil bersama keluarganya tiba di indonesia setelah kurang lebih 23 tahun tinggal di tanah suci (Makkah). Gelap terang perjalanan dakwah lewat Rabithah ‘Alam Islami sudah di alaminya.Bahkan, pahit manisnya kebudayan timur tengah sudah dicicipinya. Tidjani kecil fashih berbahasa arab, lisannyapun bisa di katakan lisan arab.

Kepulangannya di Al-Amien Prenduan disambut gegap gempita.Tidjani kecil memaknainya sebagai babak baru perjalanan Dakwahnya, khususnya di bidang pendidikan. Misinya adalah merealisasikan dan menyempurnakan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, yang telah didirikan oleh ayahnya, Kiai Djauhari Chotib, tahun 1971, menjadi lembaga pendidikan Islam ala Gontor yang berkualitas, kompetitif, dan bertaraf internasional.

Bersama Kiai Idris Jauhari, adiknya, yang lebih awal eksis membina pondok sejak tahun 1971 dan Kiai Makhtum Jauhari, adiknya, yang tiba dari Kairo, Mesir, setahun kemudian. Serasa mendapat amunisi baru, ketiganya, ditambah unsur pimpinan yang lain, bergerak cepat melakukan pembenahan dan penyempurnaan.Hasilnya, di antaranya, adalah pembangunan Masjid Jami’ Al-Amien (1989) dan membuka Ma’had Tahfidzil Quran (MTA) (1991) serta mengembangkan status Sekolah Tinggi Agama Islam menjadi Institut Dirosah Islamiyah Al-Amien (IDIA), dan pendirian Pusat Studi Islam (Pusdilam) (2003).

Dalam kurun waktu 18 tahun (1989-2007), Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan telah menjelma sebagai pondok yang representatif, disegani, dan berwibawa, sekaligus sebagai pondok tempat menyiapkan kader-kader pemimpin umat yang kompeten dan mumpuni. Hingga September 2007, sebanyak 5.243 santri, yang berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia dan negera-negara tetangga, belajar dan menempa diri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Hingga saat ini perjuangan beliau dilanjutkan oleh putra putrinya, banyak kader bangsa yang dicetaknya menjadi cendikiawan dan hafidz hafidzah.Nama Al-Amien pun tambah melambung tinggi, berbagai prestasi diraih oleh santri ataupun alumni menambah nilai positif bagi pondok modern ini.

Selain mencetak banyak kesuksesan baik di negeri orang maupun negeri sendiri, Ini saatnya Tidjani kecil membuktikan rasa cintanya pada tanah kelahirannya.Hal itu, menjadikan Madura mampu memancarkan cahaya, Tidjani kecil juga menyadarkan rakyat Madura untuk terus bersatu.Seperti yang di katakan Tidjani kecil.“Jangan membangun di Madura, tapi bangunlah Madura,” demikian tegas Tidjani, pada sebuah kesempatan, menyikapi rencana industrialisasi Madura yang didahului dengan pembangunan jembatan Suramadu.Timbulnya dampak negatif-destruktif dari pembangunan Suramadu menjadi kekhawatiran banyak pihak, tak terkecuali Kiai Tidjani. Bersama ulama se Madura yang tergabung dalam Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura (BASSRA), Tidjani melakukan serangkaian kegiatan, agar nantinya, pembangunan di Madura berjalan dalam koridor yang selaras dengan nilai-nilai budaya Madura yang islami. Ia menolak keras eksploitasi Madura demi kepentingan ekonomi semata.

Ide segarnya tentang “provinsiliasi Madura” hingga menjadikan Madura sebagai “Serambi Madinah” mendapat respon positif dari berbagai kalangan.Respon itu seperti tertuang dalam Hasil Kesimpulan Seminar Ulama Madura tentang Pembangunan dan Pengembangan Madura (1993), Piagam Telang Madura (1997), Rumusan Sarasehan “Menuju Masyarakat Madura yang Madani” (1999), Deklarasi Sampang (2006).

Terkait pembangunan di Madura, Tidjani menegaskan ada dua (2) hal yang harus segera dilakukan.Pertama, pemberdayaan.Pemberdayaan masyarakat Madura berdasarkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang kokoh untuk meminimalisir dampak pembangunan. Kedua, pendidikan. Pendidikan terkait dengan penyiapan SDM yang berkualitas, hingga nantinya masyarakat Madura mampu memanfaatkan pembangun bukan malah dimanfaatkan oleh pembangunan.Nantinya, masyarakat Madura tidak lagi menjadi “orang asing” di negerinya sendiri.

Layaknya seorang Kiai, sayap dakwah yang dikembangkan Tidjani tidak saja berputar pada persoalan Madura saja, totalitas pengabdian dan kiprahnya menjangkau segala persoalan bangsa, baik sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

Tidjani berusaha merekam segala detail persoalan dan problematika yang dihadapi umat Islam saat ini. Ketika aksi pornografi dan pornoaksi merebak dan meresahkan masyarakat, Tidjani beserta ulama BASSRA membuat pressure agar persoalan ini segera dituntaskan. Saat umat Islam Palestina diinjak-injak martabatnya oleh Zionis Yahudi, Tidjani, lewat BASSRA, mengutuk keras aksi biadab Zionis Yahudi dan menyerukan aksi solidaritas dari seluruh umat Islam sedunia.

Kecendekiawanan dan ketokohannya memantik apresiasi positif dari berbagai pihak.Berbagai posisi penting pernah diembannya. Antara lain, Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor (1992-2007), Dewan Pakar ICMI Jatim (1995-2000), salah seorang pendiri Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren (BSPP) (1998), dan Ketua II Majlis Ma’had Aly Indonesia (2002).

Tidak cukup disitu, Tidjani kecil juga menjadi tokoh Pejuang Syariah berawal dari sebuah Musyawarah Nasional (MUNAS). Alim ulama yang digelar pada tanggal 22 desember 2005 di gedung Gradhika kota Pasuruan Jawa Timur, berhasil dibentuk Dewan Imamah Nusantara (DIN). KH.Moh. Tidjani Jauhari bersama beberapa ulama, habaib, Kiai, dan tokoh islam yang memang berpegang teguh pada aqidah Ahlussunnah wal Jama’ah terlibat dalam proses perumusan dan sebagai Anggota tetap, antara lain: Putra Hadhrotus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari yang juga paman gus Dur, Almarhum KH. Yusuf Hasyim (Jombang) yang akrab dipanggil Pak Ud, Almarhum KH. Abdullah Faqih (Langitan), Almarhum KH. Abdul Hamid Baidhowi (lasem), Al Alim Syaikh KH. Nuruddin Marbu (Kalimantan Selatan), KH. Muhammad Najih Maimun Zubair (Sarang), KH. Syukron Makmun (Jakarta), Almarhum KH. Husein Umar (Jakarta), Habib Tohir Abdullah Al-Kaff (Tegal), Habib  M. Rizieq Syihab (Jakarta), Baba Abdul Aziz (Thailand), dan Ust. Abdul Halim Abbas (Malaysia).

Sementara sebagai pelaksana beranggotakan sepuluh orang: Habib Abdurrahman Assegaf (Pasuruan), KH. Ali Kamar Shonhaji (Pamekasan), Almarhum KH. Saiful Hukama’ (Pamekasan), KH. A. Yahya Hamiddin (Sampang), KH. Misbah Sadat (Surabaya), KH. Luthfi Bashori Alwi (Malang), KH. Mahfudz Syaubari (Pacet), KH. Hidayatullah Muhammad (Pasuruan), KH. Luqman Hakim (Pasuruan), dan Habib Ahmad Al-Hamid (Malang).

Berangkat dari Visi dan Misi serta potensi para pendiri tersebut diharapkan DIN dapat memberikan kontribusi kongkrit bagi perjuangan umat Islam di pentas global dan di Nusantara pada khususnya.

Inilah bukti K.H. Moh.Tidjani populer dan dituakan, dan akhirnya juga diketuakan oleh para ulama Madura serta kawasan tapal kuda. Berbagai pertemuan di forum ilmiah, baik di dalam maupun luar negeri ia datangi. Beliau dipercaya menjadi Koordinator Pusat Badan Silaturrahmi Ulama Madura (BASSRA) (1992), Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor (1992-2007), Dewan Pakar ICMI Jawa Timur (1995-2000), Pendiri Badan Silaturrahim Pondok Pesantren (BSPP) (1998), Pendiri Koperasi Jasa Usaha Bersama (KJUP-SPP) Jawa Timur (1998), Ketua II Majlis Ma’had ‘Ali Indonesia (2002), salah seorang Ketua MUI Jatim (2004-2006), dan Tim Penyusun Buku Pegangan Haji Departemen Agama.

Apakah setelah kita mengetahui sosok tersebut, kita akan terus bungkam untuk berjuang dan menulis? Saya kira tidak. Sebab hanya dengan perjuangan dan tulisan kita akan di kenang, jika tidak dengan menulis, lantas apa yang akan di kenang dari kita bagi penerus bangsa ini. Mereka tidak akan tahu siapa kita, apa peran kita untuk bangsa dan lain sebagainya. Dengan berkembangnya zaman akan hadir Tidjani dan Tidjaniyah lain yang berjuang untuk bangsa dan negara, baik dari segi agama maupun pendidikan.

Madura memang terkenal “caroknya” tapi jangan heran jika banyak pakar ulama dari Madura, kesetiaan masyarakat Madura sungguh luar biasa.Sopan santun merupakan hal yang di tonjolkan.

“barang siapa yang berangkat tanpa persiapan, maka ia akan pulang tanpa penghormatan”. Penulis cukupkan sampai disini, tentang biografi KH.Moh. Tidjani Jauhari, semoga bermanfaat bagi kita semua, dan kita adalah pejuang agama dan bangsa selanjutnya. Mari kita siapkan diri kita untuk beralih lebih baik sehingga menuntun kita menjadi liputan penerus bangsa.

KH.Moh. Tidajani wafat pada hari kamis tanggal 27 september 2007 M/15 Ramadhan 1428 H bertepatan pada hari Kamis dini hari  sekitar pukul 02.00 WIB di kediamannya. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ini meninggalkan seorang istri Ny. Hj. Anisah Fathimah Zarkasyi, 3 putra 1. KH. Ahmad Fauzi Tidjani, 2. MA, Imam Zarkayi, 3. Abdullah Muhammadi, 5 putri 1. Hj. Shofiyah, 2. Hj. Aisyah, 3. Afifah, 4.Amnah, dan 5.Syifa’, serta 2 cucu 1.Syafiqoh Mardiana dan 2. Ayman Fajri.Sebelum maut menjemputnya, beliau sempat berpesan. “Kita harapkan masing-masing santri Ma’had Tahfidzil Qur’an menjadi seorang hafidz penghafal Al-qur’an, seorang yang mengerti Al-Qur’an, dan siap menjadi Jundul Qur’an”.

Sumber:
Ahmadi Thaha, Tegas dalam Masalah Aqidah, http://pustakamuhibbin.blogspot.co.id/2011/03/kh-moh-tidjani-di-mata-santri.html
http://al-amien.ac.id/kh-moh-tidjani-djauhari-ma/
http://laskarmazaya.blogspot.co.id/2014/09/kiai-kaliber-dunia-kh-muhammad-tidjani.html
http://www.lontarmadura.com/kh-moh-tidjani-djauhari/
https://id.wikipedia.org/wiki/Mohammad_Tidjani_Djauhari

Penulis: Hadirotul Qutsiyah
Penyelia Bahasa: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *