Sunday , October 21 2018
Home / Kyaiku / KH. Mohammad Hasan Sepuh Genggong (1840 – 1955)

KH. Mohammad Hasan Sepuh Genggong (1840 – 1955)

KH. Mohammad Hasan atau yang akrab dikenal dengan sebutan Kiai Hasan Sepuh sebagaimana masyarakan mengenal beliau sebagai kiai sepuh yang sangat ‘alim dan kharismatik yang hidup dan berjuang di Genggong Probolinggo Jawa Timur. Kelak, di daerah ini terdapat sebuah pesantren besar yang bernama Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Sebuah nama yang dinisbatkan kepada nama mertua beliau KH. Zainul Abidin dan nama beliau yaitu KH. Muhammad Hasan.

Kiai Hasan sebenarnya memiliki nama kecil Ahsan, lengkapnya Ahsan bin Syamsuddin yang lahir pada 27 Rajab 1259 atau diperkirakan dengan 23 Agustus 1840. Dilahirkan di Desa Sentong yang terletak sekitar 4 km ke arah selatan Kraksan Probolinggo. Mulanya, Desa Sentong ini termasuk wilayah Kawedanan Kraksaan dan sekarang sudah masuk sebagai wilayah Kecamatan Krejengan.

Ayah Kiai Hasan bernama Syamsuddin atau juga dikenal dengan nama Kiai Miri, seorang muslim taat yang sehari-hari bekerja membuat genteng (atap rumah dari tanah liat). Sementara ibunya bernama Khadijah dan jug dikenal luas dengan panggilan Nyai Miri adalah seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari membantu suaminya mencetak genteng. Kedua pasangan ini dikenal sebagai orang yang sangat dermawan dan rajin bersedekah di tengah kesederhanaan hidupnya. Setiap hasil kerja yang didapatkan dari mencetak genteng, keduanya tak lupa menyisihkan untuk bersedekah kepada orang-orang yang berhak. Kedua pasangan ini dikaruniai lima keturunan. Namun sayangnya ketika Ahsan masih terbilang kecil, Kiai Miri meninggal dan Ahsan dirawat oleh ibunya. Selain bekerja membuat genteng, menurut cerita dari Kiai Saiful Islam menyebutkan bahwa Mbah Kiai Syamsuddin juga seorang tokoh agama pada masa itu Mbah Syamsuddin juga sering mengisi ceramah dengan cerita-cerita atau dongen. Oleh karenanya beliau oleh masyarakat kala itu dikenal juga dengan sebutan tukang dhunging (dongeng). Sebab kala itu belum dikenak sebutan da’i atau muballigh. Ketika ada orang yang sedang berkumpul, saat itulah Mbah Syamsuddin mulai menceritakan kisah-kisah Rosulullah dan para nabi, serta kisah-kisah keutamanan para sahabat dan awliya’.

Dikisahkan bahwa Ahsan sejak kecil dikenal sebagai anak yang memiliki keistimewaan tersendiri dibandingkan saudara-saudara dan teman-teman sebayanya. Keistimewaan itu tercermin dari sifat-sifat yang melekat pada diri Ahsan seperti sikap, tutur bahasa, dan tata krama pada orang sekitarnya sangat sopan dan santun. Ahsan juga termasuk anak yang cerdas pikirannya, cepat daya tangkap hafalannya serta kuat daya ingatnya. Selain itu, kelebihan lain Ahsan muda ialah sifat rendah hati, ikhlas, selalu menghormati orang lain, ramah pada siapapun yang dijumpai baik yang tua maupun yang muda.

Setelah ditinggal wafat oleh ayahnya, praktis beliau kemudian diasuh oleh ibunya secara intensif. Namun, selain dibimbing oleh ibunya seorang, Ahsan muda juga dibimbing oleh pamannya yang bernama sama dengan sang ayah yaitu Kiai Syamsuddin. Pamannya inilah yang kelak mengarahkan pendidikan Ahsan muda beserta putranya sendiri yang bernama Asmawi. Ahsan dan Aswami kelak sama-sama menuntut ilmu di tanah suci Mekkah.

Bersama Asmawi ini, Ahsan memulai belajar mengaji al-Qur’an dan ilmu-ilmu agama ke pamannya, Kiai Syamsuddin. Dari tahun ke tahun Ahsan dan Asmawi kemudian menginjak masa remaja. Ketika usia Ahsan beranjak 14 tahun, berangkatlah Ahsan dan Asmawi nyantri di Pesantren Sukunsari Pohjentrek Pasuruan yang jaraknya dari Sentong kurang lebih 70 km. Saat itu, Pesantren Sukunsari diasuh oleh Kiai Mohammad Tamim.

Terdapat cerita yang menarik ketika keduanya nyantri di pesantren tersebut. Yaitu, kehidupan yang sederhana dan selalu menyisihkan sebagian rizki yang selalu disimpan di kamar: ditempatkan di atas loteng ghotaan.

Setelah merasa cukup menuntut ilmu di Sukunsari, diperkirakan tahun 1860/1961an, Ahsan dan Asmawi menyampaikan keinginannya kepada Kiai Tamim untuk melanjutkan menuntut ilmu kepada Syaikhona Muhammad Kholil di Bangkalan Madura. Kiai Tamim dengan bangga dan terharu melepas dua orang santri cerdas itu berangkat ke Madura. Terlebih, disaat Ahsan dan Asmawi memutuskan untuk nyantri ke Syaikhona Kholil Bangkalan yang waktu itu baru datang menimba ilmu dari Mekkah kepada Syaikh Muhammad Nawawi al-Banteni. Tersebutlah bahwa Ahsan merupakan salah satu santri pertama Syaikhona bahkan turut serta kerja bakti dalam pembangunan pondok Syaikhona.

Selama berada di Madura, selain berguru pada Kiai Kholil, Ahsan sempat berguru pada Syaikh Chotib Bangkalan dan juga Kiai Jazuli Madura. Sebenarnya ada guru Ahsan yang bernama Syaikh Nahrowi di Sepanjang Surabaya dan Syaikh Maksum dari Sentong, namun tidak keterangan yang lebih lengkap mengenai ini. Juga ada keterangan yang menyebut bahwa Ahsan juga pernah nyantri di Buduran Siwalanpanji. Tapi juga tidak keterangan lengkap mengenai hal ini.

Setelah tiga tahun berada di Bangkalan, Asmawi ingin lebih memperdalam lagi ilmunya di tanah suci Mekkah. Yaitu sekitar tahun 1863an, dengan segala bekal yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya, Asmawi kemudian berangkat ke tanah suci untuk menunaikan ibadah haji serta nyantri di sana. Sedangkan Ahsan masih tetap nyantri  di Bangkalan Madura.

Selang beberapa waktu setelah Asmawi berangkat, Ahsan diminta pulang oleh ibunya kembali ke Sentong untuk bekerja dan mengumpulkan uang agar dapat pergi ke tanah suci juga. Namun, setelah melakukan istikhoroh, Ahsa memutuskan untuk kembali nyantri ke Bangkalan.

Selang beberapa waktu kemudian, ibunya meminta Ahsan kembali pulang. Setibanya di rumah, Ahsan mendapati bahwa ongkos pembiayaan ke Mekkah sudah cukup tersedia, meski hanya cukup untuk ongkos perjalanan saja. Biaya hidup selama di tengah perjalanan dan selama di Mekkah tidak termasuk dalam biaya tersebut. Namun karena kegigihan dan bulatnya tekad Ahsan, ia tetap berangkat dengan biaya tersebut. Ahsan pun berpamitan pada ibunya dan gurunya di Bangkalan: Syaikhona Kholil. Akhirnya sekitar tahun 1864, Ahsan pun berangkat ke Mekkah.

Selama di Mekkah, Ahsan berkesempatan untuk berguru kepada beberapa orang ulama terkemuka seperti Syaikh Mohammad Nawawi bin Umar al Banteni yang tak lain ada guru dari guru beliau, Syaikh Marzuki Mataram, Syaikh Mukri Sunda, Sayyid Bakri bin Sayyid Mohammad Syathoal-Misri, Habib Husain bin Muhammad bin Husain al-Habsyi, dan Syekh Said al-Yamani.

Selama nyantri semenjak masih kecil hingga beranjak dewasa di tanah suci Mekkah, Ahsan memiliki banyak sahabat diantaranya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari Tebuireng Jombang, KH. Nawawi Sidogiri Pasuruan, KH. Nahrowi Belindungan Bondowoso, KH. Abdul Aziz Kebonsari Kulon Probolinggo, KHR. Syamsul Arifin Sukorejo Situbondo, KH. Sholeh Pesantren Banyuwangi, KH. Sa’id Poncogati Bondowoso, Kiai Abdur Rahman Gedangan Sidoarjo, dan Kiai Dachlan Sukunsari Pasuruan. Demikian juga sahabat dari kalangan habaib,seperti Habib Alwie Besuki, Habib Hasyim al-Habsyi Kraksaan, Habib Abdullah al-Habsyi Palembang, Habib Sholeh bin Abdullah al-Habsyi Pasuruan, Habib Hasan bin Umar Kraksaan, dan lain-lain.

Sepulang dari menimba ilmu, Ahsan kemudian diambil mantu oleh seorang ulama terkemuka keturunan Magrib (Maroko) yang tinggal lebih dulu di Genggong dan telah mendirikan tempat dakwak yang kelak menjadi cikal bakal berdirinya pesantren di tanah ini. Namanya ulama tersebut adalah Syaikh Zainul Abidin yang wafat pada tahun 1865 dan dimakamkan di Genggong.

Pasca wafatnya Syaikh Zainul Abidin, praktis Ahsan kemudian mendapat amanat untuk meneruskan perjuangan dakwah hingga akhirnya berdirilah pondok pesantren yang oleh Ahsan –yang sudah mulai dikenal masyarakat dengan panggilan KH. Mohammad Hasan- diasuhnya kurang lebih selama 87 tahun.

Selama menjadi pengasuh di pesantren ini, Kiai Hasan Sepuh mulai produktif untuk menulis kitab yang meliputi bidang-bidang fikih, tauhid, tasawuf, tafsir, dan hadis. Salah satu karyanya yang terkenal dan banyak diberi syarah adalah kitab Safinatun Najah.

Kiai Hasan Sepuh, wafat pada tanggal 11 Syawal 1374 H / 1 Juni 1955 M dalam usia 115 tahun dan dimakamkan di Pesantren Zainul Hasan Genggong.

Penulis: Abdul Hafidz Husaini & Hasip Fadli
Penyeia Bahasa: Abdur Rahim

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. M. Izzul Muntho’ Madiun (1952 – 1994)

Nama adalah KH. M. Izzul Mutho’ bin Syaikh Izzudidin Misri bin Muhammad Thohir, atau sering ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *