Monday , September 25 2017
Home / Kyaiku / KH. Muhammad Rofi’ Mahmud (1964 – 2011)
Sumber: http://www.kompasiana.com/isna_isnaini/secuplik-kisah-pondok-pesantren-darul-ulum-al-fadholi-malang_573169cc0323bdff05ca2187

KH. Muhammad Rofi’ Mahmud (1964 – 2011)

KH. Muhammad Rofi’ Mahmud atau akrab dipanggil Gus Rofi’ adalah putra pertama ulama kharismatik asal Rembang bernama KH. Mahmud Dahlan. Sementara kakeknya merupakan guru dari banyak ulama Indonesia yang bernama KH. Abu Fadhol As-Senory At-Tubany atau yang akrab dikenal Mbah Fadhol Senori. Gus Rofi’ dilahirkan pada 11 Februari 1964 di Rembang namun sejak lulus dari Sekolah Dasar (SD) telah merantau dan mencari ilmu dari pondok ke pondok hingga akhirnya menetap dan mendirikan Pondok Pesantren di Kota Malang.

Dalam riwayat pendidikannya, Gus Rofi’ merupakan santri yang cerdas dan selalu disukai oleh para guru dan kiai. Selain itu, dimana ia pernah nyantri, selalu diminta untuk membantu dalam proses belajar mengajar yang ada pondok di pondok tempatnya menuntut ilmu.

Menurut cerita, semenjak kecil ia dikenal dengan sosok yang ulet dan mandiri dalam menuntut ilmu. Untuk kebutuhan sehari-hari dalam masa pencarian ilmu, ia hamper tidak pernah meminta uang kepada orang tuanya, melainkan mencari uang sendiri dengan bekerja di bebepara tempat sekaligus. Meskipun kiai dipondoknya memberikan bisyaroh untuk Gus Rofi selama membantu mengajar, namun ia tetap lebih menyukai bekerja serabutan menjadi buruh tebu ataupun jualan di pasar. Hasil dari kerja serabutan itulah ia dapat membeli kitab-kitab diinginkan.

Gus Rofi’ juga berpindah-pindah dalam mencari ilmu, mulai dari Lumajang hingga Gondang Legi Malang. Kehidupan beliau di pondok juga penuh liku-liku. Seringkali teman-temannya sesame santri jealous (cemburu) melihat kecerdasan, keuletan dan perhatian lebih pengasuh kepadanya. Oleh karenanya, karena alasan itulah kemudian sering terjadi konflik di pondok dan ia pun memutuskan untuk pindah dari pondok dan mengisi pengajian dari kampung ke kampung, dari musholla ke musholla, dan terus berpindah-pindah tempat. Sejak saat itulah, Gus Rofi’ memulai perjalanan amaliyah keilmuan hingga dikenal banyak masyarakat luas. Perjalanan tersebut juga akhirnya mengantarkan Gus Rofi’ ke sebuah daerah di tengah Kota Malang bernama Merjosari, atas sarana dari KH. As Suyuthi. Gus Rofi’ mulai tinggal di kediaman KH. As Suyuthi dan turut membantu dalam dakwah, dan dengan bermodal mengajar ngaji ia dapat membiaya hidupnya dan khidmat kepada KH. As Suyuthi.

Pada suatu ketika, Gus Rofi’ bermaksud untuk pindah dan meninggalkan Merjosari, namun masyarakat tidak berkenan dan tetap menginginkan Gus Rofi’. Masyarakat pun memberikan tempat tinggal di sebuah bilik dekat kandang kuda. Para tokoh masyarakat yang ada di daerah ini senang dan merasa cocok dengan Gus Rofi’. Oleh karena itu mereka ingin Gus Rofi’ dapat tetap tinggal dan memberikan pelajaran ngaji kepada masyarakat, hingga pada akhirnya salah seorang tokoh bernama H. Zainuri mewaqofkan tanahnya yang berada di dekat sungai.
 
Pernikahan dan Awal Mendirikan Al-Fadholi
Dicintai dan menjadi panutan masyarakat Merjosari kala itu, serta amanah tanah waqof dari H. Zainuri membuat Gus Rofi’ ingin membangun pondok pesantren. Akhirnya, dengan doa, dukungan masyarakat dan kegigihannya berdirilah Pondok Pesantren Darul Ulum (PPDU) Al-Fadholi pada 14 Agustus 1988 atau 1 Muharam 1409 H. Peletakan batu pertama pembangunan pondok pesantren ini dilakukan oleh para tokoh masyarakat di atas tanah seluas 205 m2. Nama pesantren ini diambil dari nama guru sekaligus kakek beliau yang memangku Pondok Pesantren Darul Ulum Senori Tuban yaitu Mbah Abu Fadhol. PPDU Al-Fadholi merupakan salah satu lembaga pendidikan berbasis pesantren yang memiliki dua fungsi, yakni fungsi taffaquh fiddin (pengajaran, pemahaman, dan pendalaman ajaran Islam) dan Indzar (menyampaikan dan mendakwah ajaran islam kepada masyarakat).

Pondok tersebut didirikan berdasarkan dengan visi dan misi yang telah dirancang bersama yaitu untuk mencetak santri yang yang sesuai dengan tuntunan agama, dapat berguna bagi perkembangan agama Islam dan sesuai dengan kepanjangan dari SANTRI (Sabar, Amanah, Neriman, Taqwa, dan Rajin Ibadah).

Awal berdirinya, PPDU Al-Fadholi yang sudah selesai dibangun diisi oleh santri putra. Kemudian, pada saat lima tahun berjalan, Gus Rofi’ yang masih lajang diminta oleh seorang kiai dari daerah lain (di luar Malang) untuk menjadi menantu. Namun, untuk kedua kalinya masyarakat kurang berkenan dan tidak menyetujui hal tersebut. Oleh karena itu, masyarakat seketika itu langsung mencarikan calon istri untuk Gus Rofi’ agar tidak pergi meninggalkan daerah ini. Salah satu tokoh sesepuh kemudian menjodohkan Gus Rofi’ dengan salah satu gadis perempuan asli Merjosari yang bernama Aminah. Dalam pertemuan pertama, ta’aruf, keduanya langsung melakukan istikhoroh dan rupanya sama-sama mendapatkan isyarat yang sangat bagus. Umi Aminah, begitu masyarakat memanggilnya kelak, sebelum menikah dengan Gus Rofi’ bermimpi melihat air mengalir yang jernih, sedangkan santri Gus Rofi’ kedatangan isyarat mimpi dengan melihat cahaya yang terang benderang.

Pernikahan pun dilangsungkan. Dari pernikahan ini, Gus Rofi’ dan Umi Aminah dikaruniai lima putra dan dua putri, antara lain; Hj. Rif’atul Minnah, H.M. Ashif Fadhli Zamzami, M. As’ad Fadhli Zamzami, Rizanah Salma Afifah, M. Aniq Fadhli Zamzami, dan M. Arsyad Fadhli Zamzami.

Berjuang Secara Mandiri
Gus Rofi’ yang sejak kecil dikenal ulet dan gigih dalam membangun pondok Al-Fadholi dapat dikatakan dari nol. Disebut demikian karena di daerah di mana sebuah pondok dibangun, tak satupun sanak keluarga dari daerah asalnya yang tinggal di sana. Namun, kecintaan masyarakat dan teman-temannya membuatnya selalu diberi kemudahan, seperti mendapat bantuan tenaga dan material saat membangun pondok. Gus Rofi’ terus membangun pondok setiap tahunnya sehingga pembangunan Pondok Al Fadholi menjadi sangat signifikan.

Setelah PPDU Al-Fadholi I di Jl. Mertojoyo Blok S No.9 Merjosari berdiri pada 14 Agustus 1988 atau 1 Muharam 1409 H, kemudian pada 27 Desember 1991 dibentuklah Yayasan Pondok Pesantren Darul Ulum Al-Fadholi. Sejak itu, pondok Pesantren Darul Ulum Al-Fadholi melaksanakan kegiatan dan programnya sesuai dengan kelembagaannya, dan mengelola lembaga-lembaga yang bernaung di bawahnya, seperti Madrasah Diniyah Darul Ulum Al-Fadholi, Koperasi Pondok Pesantren Darul Ulum Al-Fadholi, Lembaga Pengabdian Masyarakat Al-Fadholi, Panti Asuhan Anak Yatim Piatu dan Anak Terlantar Al-Fadholi, dan Taman Kanak-kanak Al-Fadholi Model Laboratorium KSDP Universitas Negeri Malang.

Dari PPDU Al-Fadholii I yang dibangun di atas tanah waqaf, Gus Rofi’ merambah pada Pondok Al-Fadholi II yang berisi santri putri, lembaga Pengabdian Masyarakat, Panti Asuhan, dan Taman Kanak-Kanak Al- Fadholi.

Awalnya, tidak ada bayangan untuk membangun pondok khusus santri putri. Sebab, Gus Rofi’ sendiri pada awal keinginan membangun pondok, hanya untuk dihuni oleh para santri putra. Hingga suatu hari, Gus Rofi’ pernah ngendiko (berkata) “bahwasanya akan tiba saatnya pondok ini (Al-Fadholi) akan banyak dipenuhi oleh santri putri, namun sebelum saat itu tiba umurku sudah tidak akan lama lagi”. Berdasarkan pada perkataan Gus Rofi’ tersebut secara tidak langsung ingin menyampaikan bahwasanya umur beliau sudah tidak lama lagi.

Benar kalanya perkataan pada saat itu. Setelah PPDU Al-Fadholii II khusus untuk santri putri dibangun dan baru ditempati oleh 15 orang santriwati. Saat santri bertambah menjadi 25 orang, setelah itu Gus Rofi’ wafat pada tanggal 3 April 2011. Sepeninggalnya, santriwati PPDU Al-Fadholi terus bertambah sampai jumlahnya melebihi santri putra. Sedangkan dalam kepengurusan pondok, Umi Aminah dibantu oleh para alumni santri Al-Fadholi dalam mengelola pondok. Meskipun Gus Rofi’ sudah wafat, pondok masih tetap berkembang sampai saat ini bahkan setiap tahunnya selalu dipenuhi dengan mahasiswa-mahasiswi yang kuliah di Malang dan yang berminat untuk menuntu ilmu di pondok sambil kuliah.
 
Kenangan Keluarga, Santri dan Kolega
Semasa hidupnya, Gus Rofi’ merupakan sosok penyayang dan lemah lembut terhadap keluarganya. Meski demikian, beliau juga dikenal tegas dimata keluarga dan santri. Karena ketegasannya, tidak ada santri yang berani melanggar peraturan pondok, sebab ketika ada santri yang melanggar satu kali saja peraturan yang ada, maka pada saat itu juga langsung dihukum ro’an atau bersih-bersih seluruh pondok. Selain itu, ada hukuman yang tidak kalah estrimnya lagi, yaitu ketika ada santri yang ketahuan pacaran, maka akan dinikahkan pada saat itu juga. Itulah sebabnya pondok pesantren darul ulum Al-Fadholi sangat terkenal pada saat itu.

Dalam kenangan Umi Aminah, Gus Rofi’ adalah seorang yang sangat tegas jika melihat keburukan, namun sangat senang dan murah hati saat melihat kebaikan. Dalam mendidik putra-putrinya, Gus Rofi’ adalah seorang sangat tegas. Beliau tidak segan menghukum putranya saat berbuat kesalahan terlebih lagi dalam urusan kejujuran. Ia akan marah jika putra-putrinya berbohong. Namun saat putra-putri beliau mengerjakan sholat dan puasa, beliau menjadi sangat senang bahkan langsung memenuhi keinginan anaknya yang telah melakukan ibadah tersebut. Sholat dan mengaji adalah ajaran utama yang Gus Rofi’ begitu tegaskan pada putra-putrinya.  Sedangkan untuk sang istri, Umi Aminah, Gus Rofi’ selalu mengajari untuk menjadi sosok yang sabar dan ikhlas. Semboyan yang menjadi warisannya dari Gus Rofi’ adalah: “pelit untuk diri sendiri, dermawan untuk kemaslahatan”.

Karakter Gus Rofi’ ini telah diajarkan pada Umi Aminah sejak kelahiran anak pertama, Rif’atul Minnah. Pada keluarga sendiri Gus Rofi’ tidak pernah tabdziir dan bermewah-mewah, seluruh penghasilan buya banyak yang dikeluarkan untuk pembangunan Al-Fadholi. Pernah suatu ketika susu putri pertamanya habis, Gus Rofi’ sendiko, “Ini ada uang, tapi saya utamakan untuk kemaslahatan pembangunan pondok yang masih belum selesai. Insya Allah anak ini kalaupun diberi air tajin ia tidak akan kelaparan. Tawakkal pada Allah, insya Allah berkah pembangunan pondok ini mengalir terus.”

Gus Rofi’ juga dikenal tidak menghendaki undangan-undangan ceramah yang ditujukan kepadanya. Biasanya dalam suatu acara, beliau diminta untuk mengisi secara dadakan, karena Gus Rofi’ sendiri memang kurang berkenan untuk menghadiri atau diundang oleh sebuah lembaga tertentu. Bukan karena tidak menghargai, namun Gus Rofi’ ingin menjaga perilaku dan perbuatannya, dengan berhati-hati untuk menyampaikan ceramah. Karena, dalam pandangannya, jangan sampai ia men-dawuhi namun ia sendiri masih belum melakukan apa yang disampaikan. Jika seperti itu maka sama saja dengan berbohong. Gus Rofi’ pun enggan menunjukkan diri agar dilihat sebagai kiai atau ulama’.

Tidak hanya bagi keluarga, namun Gus Rofi’ adalah sosok menyenangkan bagi teman dan koleganya. Banyak tokoh dari berbagai kalangan senang bertamu ke rumah beliau saat masih hidup. Gus Rofi’ pun tidak pernah membedakan golongan, baik dari kalangan muda sampai tua, pekerja sampai cendekiawan. Gus Rofi’ dikenal sebagai sosok yang menyenangkan.

Gus Rofi’ juga pernah menghadiahkan sholawat yang mejadi khas dari kampus UIN (dulu IAIN Malang) melalui Prof. KH. Ahmad Mudhlor, pengasuh Pesantren Luhur dan guru besar IAIN Malang kala itu. Cerita ini disampaikan oleh Prof. Dr. Imam Suprayogo pada saat memperingati 100 hari meninggalnya Gus Rofi’ Mahmud. Prof. Imam menyatakan bahwasanya Shalawat Irfan yang menjadi khas UIN saat ini merupakan karangan dari KH. Rofi’ Mahmud dan dilantunkan oleh KH. Muhdhor.

Gus Rofi’ wafat pada usia yang masih tergolong muda, yaitu 47 tahun. Sebelum wafat, Gus Rofi’ sempat berpesan kepada putra-putrinya yang sedang menuntut ilmu di pondok untuk selalu “rakus” dan semangat dalam menimba ilmu.
Sumber:
http://al-fadholi.blogspot.com/
http://www.kompasiana.com/isna_isnaini/secuplik-kisah-pondok-pesantren-darul-ulum-al-fadholi-malang

Penyusun: Zahrotul Mufidah Hasan (UIN Maulana Malik Ibrahim Malang)
Penyelaras: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau ...

3 comments

  1. Terharu subhanallaah..
    Sama bgt seperti yg diceritakan umik..

  2. mimin alumni mana? tau banyak tntang kyai..

  3. min, mimin alumni mana?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *