Monday , September 25 2017
Home / Kyaiku / KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)
sumber: amientumpunk.files.wordpress.com

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau merupakan putra pertama dari sembilan bersaudara dari pasangan H. Abdullah dan Nyai Hj. Fatimah.

Rusydi terlahir dari keluarga yang kaya, akan tetapi kekayaan ini tidak sedikitpun ditampakkan pada kepribadian keluarga. Sejak kecil Rusydi terdidik dengan pendidikan agama dan sosial yang kuat. Orang tua Ruysdi selalu mengajarkan untuk tidak menjadikan harta sebagai kebanggaan karena semua itu hanyalah titipan Allah SWT. Disamping itu, sejak kecil Ruysdi selalu ditanamkan rasa sosial yang tinggi, selalu menghormati dan menghargai orang lain, selalu menolong kepada orang yang membutuhkan, dan lain sebagainya. Hingga akhirnya tumbuhlah menjadi sosok KH. Rusydi bin Abdullah yang begitu disegani dan dihormati oleh masyarakat sekitar.

Sejak kelahirannya, masyarakat berharap banyak pada dirinya. Sebab dalam keseharian abah Rusydi selalu menunjukkan keuletan serta kegigihannya dalam bermuamalah dan berinterkasi dengan masyarakat. Serta beliau mulai kecil telah mempunyai komitmen pada nilai nilai ajaran Islam dan pendidikan.

Pada tahun 1954, ketika berumur 26 tahun Rusydi (yang kelak lebih dikenal dengan panggilan Abah Rusydi) kemudian menikah dengan ibu Nyai Rukayah, putri ketujuh dari pasangan H. Abdul Karim dan Hj. Siti Khadijah binti Tomo. Kedua pasangan ini mengangkat tiga orang anak, yaitu KH. Abdullah Hasan, KH. Idris Firdaus dan Hj. Muslihati.

Pada usia muda, Kiai Rusydi dapat mengendalikan dan mengembangkan usaha pertanian dan perdagangan. Beliau pernah menjajakan tempe keliling kampung serta pernah pula dagang hasil pertanian, mempunyai andong untuk mengangkut kebutuhan-kebutuhan masyarakat, dan hasilnya digunakan untuk menabung untuk kegiataan keagaamaan.

Abah Rusydi merupakan sosok yang bersahaja. Meski berasal dari keturunan kaya serta memiliki status ekonomi yang mapan, beliau sangat populis dan merakyat. Dalam kesehariannya, beliau tidak mengikutsertakan latar belakang keluarga dan status ekonomi. Beliau sering berkumpul-kumpul dan bercengkrama dengan masyarakat untuk bermusyawarah dan mendengar keluh kesah dari para masyarakat. Kepribadian inilah yang membuat masyarakat sekitar begitu mengagumi dan menghormati beliau.

Selain itu, Abah Rusydi dikenal sebagai sosok yang jujur dan ikhlas. Kejujuran, ketekunan dan keikhlasan rusydi dalam mencari rezeqi allah, sudah tertanam sejak masa mudanya. Hal ini yang menjadikan Abah Rusydi seorang petani sukses-kaya. Disamping itu, beliau juga terkenal dengan kedermawanannya, begitu ringan tangan Abah Rusydi memberi bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan, beliau juga sangat peduli terhadap keagamaan dan pendidikan, banyak bangunan-bangunan keagamaan dan pendidikan yang beliau dirikan, yang paling terkenal sampai saat ini adalah Yayasan Al-Ittihad.

Abah Rusydi juga dikenal sebagai sosok yang sederhana dalam hidupnya. Bagi Abah Rusdi, hidup sederhana adalah prinsip hidup yang mudah diterima masyarakat, karena semakin kita diterima masyarakat, semakin mudah Abah Rusydi dalam mengajak para Masyarakat dalam menjalankan hal-hal yang terpuji dan menjauhi hal-hal yang tercela. Hal ini juga salah satu faktor begitu mudahnya beliau mendirikan Yayasan Al-Ittihad Poncokusumo Malang, karena di mata masyarakat beliau adalah sosok yang baik dan bersahaja sehingga apapun yang dilakukan beliau pasti akan diikuti dan didukung oleh semua masyarakat.

Tidak hanya itu, Abah Rusydi juga menerapkan prinsip hidup sederhana kepada para putera-puterinya. Dari segi berpakaian, beliau selalu membelikannya dari bahan bahan yang wajar, sebagaimana layaknya orang kebanyakan. Padahal dari segi ekonomi beliau sangat mampu. Tujuannya, agar putera putrinya bisa hidup sederhana, sehingga tidak terjadi garis pemisah dengan masyarakat sekitarnya.

Abah Rusydi ketika menghadapi berbagai persoalan yang terjadi dalam masyarakat, dikenal sangat tegas, longgar dan hati hati. Misalkan, meski dalam masalah hukum beliau sangat ketat, baik untuk dirinya sendiri, keluarga, tapi jika dengan orang lain, beliau memperlakukannya dengan sangat longgar. Terlebih ketegasan dalam urusan pendidikan. Tidak boleh ada satupun masyarakatnya yang putus sekolah, sebab itu beliau mendirikan Yayasan Al-Ittihad yang terdiri dari TK, MI AL-Ittihad, MTS Al-Ittihad, MA Al-Ittihad, pondok pesantren salaf putra-putri Al-Ittihad, Panti Asuhan, dan pada saat ini akan direncanakan pembangunan universitas Al-ittihad (amin).

Lebih lanjut, Abah Rusydi juga dikenal gigih dan berani dalam memperjuangkan keadilan bagi masyarakat. Misalnya, kasus di desa Poncokusumo ada seorang wanita yang ditinggal suaminya tanpa alasan, wanita itu pintar dan merupakan orang perantauan. Abah Rusydi sepontan mengambil tindakan, wanita itu di ajak untuk tinggal di pondok dan mengkaji ilmu agama disana. Setelah mahir dalam ilmu agama, dicarikan pendamping yang siap menerimanya apa adanya dan sanggup untuk menafkahi dhahir dan batin. mereka dibangunkan rumah sebagai tempat beristirahat dan berkumpul dengan keluarga, karena mereka merupakan keluarga yang miskin. Akan tetapi hal itu semua didasarkan dengan syarat wanita tersebut harus sanggup mengabdi (mengajar) ilmu yang telah didapatkannya di Yayasan Al-Ittihad. Hal ini dilakukan oleh Abah Rusdi karena beliau tidak rela wanita diperlakukan hal yang tidak adil.

Diantara pengaruh-pengaruh yang dirasakan para masyarakat selama beliau hidup sampai sekarang, yaitu:

Dalam bidang pendidikan, Abah Rusydi adalah seorang petani sukses-kaya, dermawan, dan sangat peduli terhadap keagamaan dan pendidikan. Abah  Rusydi bukanlah sosok yang acuh pada keadaan masyarakat di Desanya, beliau selalu memikirkan kondisi masyarakat (walaupun beliau bukan pengurus desa). Hingga pada suatu hari Abah Rusydi merasa prihatin dengan kondisi pendidikan para pemuda Poncokusumo, banyak pemuda di usia produktif (otak) menerima dan menghasilkan ilmu pengetahuan, harus bekerja ke sawah ke pasar untuk mencari nafkah.

Pada tahun 1978, beliau mengumpulkan tiga putra-putrinya dan beberapa keluarga serta mengundang tokoh-tokoh masyarakat desa Belung dan kecamatan Poncokusumo. Abah  Rusydi menyampaikan cita-citanya untuk mengembangkan keagamaan dan pendidikan di kecamatan Poncokusumo dengan mendirikan Yayasan Al-Ittihad. Cita-cita itu disambut dengan gembira dan semangat, apalagi di kecamatan Poncokusumo belum ada sekolah tingkat lanjut yang bernafaskan Islam. Sebelum itu, Abah Rusydi telah mendirikan beberapa sekolah dan masjid di beberapa desa bersama masyarakat di daerah yang bersangkutan.

Pada 1979 berdirilah Yayasan Al-Ittihad dengan satu unit sekolah formal, Madrasah Tsanawiyah Al-Ittihad.  Tidak cukup itu, Abah Rusydi dan Pengurus yayasan memikirkan kelanjutan siswa setelah tingkat tsanawiyah, maka hampir tiga tahun kemudian, yakni tahun 1982,  Abah Rusydi dan pengurus Yayaasan Al-iIttihad dengan dibantu para masyarakat sekitar mendirikan Madrasah Aliyah Al-Ittihad. Untuk menunjang kegiatan ini, didirikan pula asrama untuk siswa-siswinya. Asrama inilah cikal bakal pondok pesantren Al-Ittihad.

Sebagian masyarakat sekitar banyak kurang beruntung dalam hal ekonomi, namun bersemangat tinggi dalam pendidikan. Merespons hal itu, Abah  Rusydi bersama pengurus mendirikan panti asuhan yatim piatu dan anak keluarga tidak mampu.  Pada tahun 1987, berdirilah Panti Asuhan yang diberi nama Al-Ikhlas.

Perkembangan Yayasan Al-Ittihad semakin pesat. Hal ini ditandai dengan terus meningkatnya jumlah siswa, baik di MTs dan MA Al-Ittihad. Tentu saja, hal tersebut berimbas positif terhadap asrama Al-Ittihad, termasuk Panti Asuhan Al-Ikhlas. Maka, pada tahun 1989, dengan restu semua pihak, dideklarasikanlah  berdirinya Pondok Pesantren Putri Al-Ittihad (saat itu bernama: Pondok Pesantren Hidayatul Mubtadien) oleh putra Abah Ruysdi yakni KH. Abdulloh Hasan. Deklarasi tersebut dilakukan pada saat upacara bendera hari Senin.

Untuk menunjang keberhasilan program pesantren, Abah Rusydi bersama putranya, K.H. Abdullah Hasan sowan ke pesantren-pesantren besar di Jawa Timur guna mencari guru pondok. Beliau berdua mendatangkan ustadz-ustadzat dari pesantren-pesantren dari seputar Malang, Lirboyo hingga Bangil-Pasuruan. Ustadz-ustadzat tersebut bertugas membantu mengembangkan pendidikan pesantren Al-Ittihad. Saat ini, ponpes Al-Ittihad telah berkembang dengan baik, telah menjadi mitra masyarakat. Mereka berperan aktif dalam pembenahan, perbaikan, dan pendidikan masyarakat sekitarnya. Adapun Pondok Pesantren Al-Ittihad putra, yang bermula dari Panti Asuhan Al-Ikhlas dan siswa sekolah formal yang diasramakan dengan pengajian terbatas pada seputar Al-Qur’an dan tajwid, baru dideklarasikan sebagai pesantren selang beberapa tahun dari pondok putri.

Selain pendidikan, priyoritas utamaAbah Rusydi adalah kondisi keagamaan yang ada di Kecamatan Poncokusumo. Para masyarakat yang pada waktu itu mayoritas begitu fanatik kepada nenek moyang mereka, dengan perlahan-lahan didekati dan diberi fasilitas pendukung untuk menjadikan kualitas pengetahuan agama semakin meningkat dan fleksibel. Karena semasa hidupnya Abah Rusydi tekenal sebagai Ulama yang begitu fleksibel dalam menetapkan hukum pada rakyat, walaupun tidak pada keluarganya sendiri. Hal ini menunjukkan sikap toleran yang dimiliki Abah Rusydi tanpa meninggalkan nilai-nilai Aqidah Islam.

Kokohnya bangunan pondok pesantren putra putri Al-Ittihad juga menjadi saksi akan pengorbanan Abah Rusydi dan kegigihannya untuk menumbuhkan iman islam kepada masyarakat. Beliau rela memberikan sebagian hartanya untuk kepentingan pondok pesantren. Sehingga sampai sekarang pondok pesantren ini menjadi pondok yang dikenal oleh masyarakat luar Jawa timur. Banyak santri asal Bali, Palembang, Jakarta dan sebagainya yang datang untuk nyantri di pondok ini.

Selain itu, dalam bidang ekonomi beliau juga berpengaruh penting dalam bidang ekonomi. Bagi masyarakat Kecamatan Poncokusumo khusunya Desa Belung jika terdengar nama “Abah Rusydi” pasti tak lepas dari pemikiran “orang terkaya di Poncokusumo”. Bagaimana tidak, berhektar-hektar sawah, kebun dan tanah yang menyebar di Poncokusumo, sampai disebutkan bahwa harta beliau tidak akan habis walaupun sampai tujuh turunan. Benar, semakin melimpah harta benda Abah Rusydi, semakin berlipat pula harta yang beliau keluarkan untuk kemaslahatan masyarakat.

Akan tetapi, semua ini tidak sedikitpun terlihat pada pribadi Abah Rusydi. Tak secuil penampilan dan watak Abah rusdi yang menunjukkan bahwa beliau adalah orang yang kaya. Seharinya Abah Rusydi tak pernah mengenakan pakaian yang mahal, ciri khas beliau adalah songkok hitam, baju hem dan sarung yang sederhana.bukan Cuma itu, tak pernah sama sekali Abah Rusydi membawa kekayaan beliau dan pribadinya, khusunya jikalau beliau berkumpul-kumpul dengan masyarakat sekitar.

Untuk menunjang kesuksesan para santri di Yayasan Al-Ittihad beliau mencar orang yang pintar dan alim untuk mengajarkan ilmunya kepada para santri. Akan tetapi, ada diantara para guru ngaji yang kurang mampu. Dalam hal ini, Abah Rusydi tidak ambil diam, beliau memberikan sebagian tanahnya untuk dibangunkan rumah dan di hibahkan pada para guru Yayasan yang kurang mampu.

Dalam bidang sosial kemasyarakatan beliau sangat berperan penting. Selama masa hidupnya, Abah Rusydi adalah orang yang ramah dan bersahaja. Beliau senang berkumpul-kumpul dengan masyarakat untuk bermusyawarah dan mendengarkan keluh kesah para masyarakat, kemudian beliau berusaha untuk membantu bagi masyarakat yang membutuhkan. Hal ini menyebakan Abah Rusydi sangat dicintai dan di hormati. Sikap Abah Rusydi ini secara tidak langsung berpengaruh pada sikap para masyarakat. Masyarakat di Kecamatan Poncokusumo khusunya Desa Belung merupakan orang yang ramah dan suka berkumpul-kumpul walaupun sekedar hanya mengobrol ataupun bermusyawarah tanpa memandang strata sosial untuk memperkuat ukhuwah islamiyah dan memperkuat tali persaudaraan antar masyarakat.

Pada tanggal 19 Januari 2006 pukul 08.00 WIB beliau wafat. Untuk melanjutkan cita-cita beliau, istri Abah Rusydi, yakni Hj. Rukayah dengan ghirah juangnya meneruskan pembangunan Al-Ittihad. Pada tahun 2007, Hj. Ruqayah bersama pengurus dan putra-putrinya mendirikan Yayasan Wakaf. Yayasan Wakaf ini didirikan dengan maksud awal mewakafkan sebagian harta Abah Rusydi-Hj. Ruqayah untuk kelanjutan Yayasan Al-Ittihad. Hj. Ruqayah selaku waqif, menunjuk KH. Abdulloh Hasan sebagai pengurus Yayasan Wakaf (nadhir) yang diberi nama Yayasan Wakaf Sabilul Khoirot. Yayasan ini terus berusaha maju mengembangkan pendidikan dan keagamaan Islam.

Penulis: Nazilatus Syarifah
Penyelia Bahasa: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Ahmad Umar Abdul Mannan Mangkuyudan (1916 – 1980)

Nama aslinya adalah Kiai Ahmad Umar. Sedangkan Abdul Mannan adalah nama dari ayahnya yang berasal ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *