Thursday , August 16 2018
Home / Kyaiku / KH. Sholeh Nahrawi Genggong (1940 -2001)
acara haul akbar masyayikh genggong

KH. Sholeh Nahrawi Genggong (1940 -2001)

Salah satu awliya’ Allah yang ada di Genggong dan dikenal masyarakat luas memiliki karomah adalah KH. Sholeh Nahrawi atau yang lebih akrab dikenal Nun Kalim (Non Kalem). Beliau merupakan putra kelima dari KH. Ahmad Nahrawi Mohammad Hasan dengan Nyai Marfu’ah. Nun Kalim dilahirkan pada tahun 1940 di Genggong dengan nama kecil Abdul Kalim. Sedangkan nama “Sholeh Nahrawi’ masyhur dan diyakini sebagai nama pemberian Nabi Musa AS melalui jalan ru’yah shadiqah (mimpi yang diyakini benar adanya) ketika beliau menunaikan ibdah haji ke Mekkah.

Di mata para santri dan kalangan masyarakat luas, Nun Kalim dikenal sebagai sosok waliyullah yang sangat kharismatik. Walaupun Non Kalim terlahir tidak sempurna karena tidak bisa bicara (bisu), namun Allah telah menganugerahi beliau berbagai kelebihan dan keistimewaan serta keutamaan yang jarang dimiliki oleh orang lain. Selain keistiqamahan dalam ibadah, mustajab fiddu’a, ahli bersilaturrahim, Non Kalim juga dianugerahi kemampuan untuk melihat hal-hal yang terhijab (ghaib): mampu melihat sesuatu dengan jelas dan benar walaupun berada di tempat yang jauh, dan memahami berbagai bahasa asing seperti diceritakan bahwa beliau sangat memahami dan bisa menulis bahasa cina mandarin.

Oleh karenanya banyak masyarakat berdatangan untuk sekedar meminta do’a barokah. Dikisahkan bahwa hampir setiap hari selalu ada tamu yang sowan ke ndalem (rumah) Non Kalim.

Mengenai kisah dan cerita masyarakat seputar keistimewaa dan karomah Non Kalim diantaranya: (1) selama masih hidup, setiap hari selalu kedatangan tamu-tamu dari berbagai kalangan dan daerah untuk sekedar minta dido’akan. Dan siapapun yang dating, pintu ndalem selalu terbuka dan Non Kalim pasti menemuinya; (2) suatu ketika adalah al Habib Syaikh bin

Ali al Jufri al Khairat dari Jakarta mendapat amanat dari gurunya yaitu al Muhaddits al Habib Abdullah bin Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih dari Darul Hadits Malang untuk menemui para waliyullah yang berada di daerah Jawa Timur. Untuk itu, beliau dibekali 10 buah sarung untuk diberikan kepada setiap waliyullah yang beliau temui. Setelah sekian lama, Habib tersebut keliling menemui para wali yang dimaksud, ternyata tugas sang Habib belum juga terselesaikan. Beliau hanya mampu menemui sembilan orang waliyullah yang dicari sementara di tang

annya masih tersisa satu buah sarung yang tidak diketahui siapa pemiliknya.

Di tengah kebingungannya, Habib tersebut singgah di Genggong dan Ziarah ke maqbaroh Kiai Hasan Sepuh untuk tabaruukan. Ketika Habib baru saja selesai membaca al-Qur’an dan berdo’a, tiba-tiba beliau dihampiri seseorang dan meminta bagian sarung miliknya. Betapa terkejutnya Habib ketika itu, tanpa banyak bicara Habib langsung menyerahkan sarung tersebut kepadanya. Orang tersebut tidak lain adalah Nun Kalim yang memang orang yang sedang dicar

i-cari oleh Habib. Selain kisah tersebut di atas, juga masyhur bahwa Non Kalim seringkali dihadiri para kekasih Allah seperti sering bermimpi dihadiri oleh Rasulullah, bermimpi dihadiri Nabi Musa dan para nabi lainnya.

Penulis: Muhammad Bayu & Abdul Hafidz Husaini
Penyelia Aksara: Abdur Rahim

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. M. Izzul Muntho’ Madiun (1952 – 1994)

Nama adalah KH. M. Izzul Mutho’ bin Syaikh Izzudidin Misri bin Muhammad Thohir, atau sering ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *