Sunday , October 21 2018
Home / Kyaiku / Kiai Ahmad Tuhfah Nahrawi (1931 – 1951)
Kitab Tuhfatul Athfal, salah satu karya yang digunakan banyak pesantren dalam memperlajari ilmu tajwid

Kiai Ahmad Tuhfah Nahrawi (1931 – 1951)

Nama lengkapnya adalah Kiai Ahmad Tuhfah Nahrawi yang akrab dipanggil Non Tuhfah yang merupakan putra keenam dari Kiai Ahmad Nahrawi dan Nyai Marfu’ah yang lahir tahun 1351 H/1931 M.

Non Tuhfah, begitu masyarakat memanggilnya, semenjak masih berusia belasan tahun sudah tampak kealimannya. Terbukti, pada saat usia 18 (delapan belas) tahun telah mengaranh kita ilmu tajwid yang terkenal di kalangan pesantren-pesantren tanah air yang berjudul Tuhfatul Atfal. Selang beberapa tahun kemudian mengarang lagi sebuah kitab berjudul Mirqotul Ulum Tuhfatu Tsaniyah yang merupakan ringakasan dari kitab Alfiah Ibnu Malik dan kitab berjudul Thuhfatul Karim yang membahas qiro’atus sabah dalam membaca al-Qur’an. Kitab–kitab tersebut disusun antara tahun 1948 hingga tahun 1951.

Mengenai silsilah keilmuan (baca: sanad), walaupun sangat singkat yaitu sekitar satu minggu, beliau pernah nyantri ke Hadrastussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari di Tebuireng atas permintaan langsung dari Hadratussyaikh. Selain ‘alim di bidang ilmu agama dan ilmu alat, Non Tuhfah juga dikenal mahir ilmu perbintangan dan antariksa (astronomi). Berdasarkan satu kisah bahwa saat berkumpul dengan beberapa santri di pesantren yang diasuh ayahnya tersebut, beberapa santri dibuat tercengang oleh kemahiran ilmu astronominya. Non Tuhfah menunjukan kemahirannya dengan menyebutkan jumlah lidi yang terdapat pada dua sisi pelepah daun kelapa yang baru jatuh dari pohonnya tampa menghitungnya terlebih dahulu. Dengan hitungan ilmu perbitangan, tidak sedikitpun hitungan beliau meleset dari aslinya. Sedangkan mengenai amaliyahnya, Non Tuhfah juga dikenal sangat zuhud serta istiqomah dalam beribadah. Misalnya setiap habis sholat magrib hingga masuk waktu isya’ selalu membaca 40 kali surah Yasin.

Selain itu, ketawaddhu’an, keikhlasan, ketundukan dan kepatuhannya kepada orang tuanya juga telah menjadi buah bibir para santri alumni. Dikisahkan bahwa setiap dirinya mendapatkan kesuliatan ketika mengarang kitab, beliau langsung merangkak di bawah kedua kaki ibunya untuk meminta restu agar diberikan kemudahan daalam mengarang kitab.

Dalam sejarah hidup Non Tuhfaf belum pernah menjalani masa pernikahan. Sebab, waktunya dihabiskan untuk mengarang kitab dan mengajar santri-santri. Kedisiplinan dan ketekunannya dalam belajar dan mengajar menjadi contoh para guru pada masa itu. Gaya mengajarnya yang khas ialah selalu memberikan ujian lisan kepada para santri. Ujian yang beliau berikan kepada para santri tidak tentu hari dan tanggalnya serta materinya.

Gagasan pembaharuan yang pernah dilakukan selama mendidik di Pesantren Genggong ialah mengupayakan penggunaan kitab-kitab asli karangan beliau sendiri dan beberapa kitab dari pengasuh pondok lainnya. Beliau mengupayakan kemandirian pada sektor pendidikan dengan mengoptimalkan potensi-potensi yang ada di pesantren. Gagasan tersebut berjalan dengan baik hingga beliau akhirnya wafat pada tanggal 14 Robi’utsani 1371 H atau 31 Desenber 1951 M tepat pada usiannya yang masih sangat muda yaitu 20 tahun.

Tepat beberapa waktu sebelum wafat, Non Tuhfah bercerita kepada kakeknya Kiai Hasan Sepuh bahwa dirinya telah bermimpi matahari, bulan, dan bintang-bintang di langit turun ke bumi untuk bersujud kepadanya. Seketika, Kiai Hasan Sepuh langsung menangis dan memeluknya penuh kasih sayang. selang beberapa hari setelah menceritakan mimpinya kepada kakeknya, Non Tuhfaf jatuh sakit dan wafat.

Penulis: Muhammad Bayu
Penyelia Aksara: Abdur Rahim

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. M. Izzul Muntho’ Madiun (1952 – 1994)

Nama adalah KH. M. Izzul Mutho’ bin Syaikh Izzudidin Misri bin Muhammad Thohir, atau sering ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *