Thursday , November 23 2017
Home / Kolom / Kiai, Santri dan Tradisi (Bagian 1)
sumber: https://mojok.co

Kiai, Santri dan Tradisi (Bagian 1)

Dalam membincangkan, secara pendek, masalah kiai, santri, dan tradisi ini saya akan berangkat dari gagasan-gagasan seorang sosiolog berkebangsaan Israel, Shemuel Noah Eisenstadt, yang pemikiran-pemikirannya saya kagumi, dan secara kebetulan juga adalah guru dari dari guru saya di Universitas Boston, Adam Seligman, seorang sosiolog agama yang pemikiran cemerlangnya juga sangat saya kagumi. Salah satu tulisan Eisenstadt, berjudul “Intellectuals and Tradition” (1972), sangat cocok digunakan untuk memahami masalah santri dan kyai, di satu sisi, dan tradisi, di sisi yang lain. Judul tulisan Eisenstadt dan topik yang hendak saya bicarakan memiliki ekuivalensi yang nyaris sempurna, meski latar sosiologis dan kesejarahan berbeda cukup signifikan. Intelektual yang Eisenstadt maksud adalah para pemikir dan aktor sosial di dunia Barat, sedang santri dan kiai berada di ruang sosial budaya Timur. Jika di Barat kaum intelektual sering diasosiakian dengan pembaruan-pembaruan, di Timur, kiai dan santri kerap dikaitkan dengan tradisi yang, karena perannya memelihara tatanan sosial tertentu, dianggap jumud. Walaupun detail-detail trajektori keterlibatan kaum intelektual ini berbeda, persoalan dikotomi antara intelektualitas yang identik dengan pembaruan dan tradisi yang dipahami sebagai melambangkan kejumudan, menurut saya, memiliki kesamaan-kesamaan.

Eisenstadt mengritik pandangan yang meletakkan istilah-istilah intelektual dan tradisi sebagai antitesis satu terhadap yang lain. Pandangan demikian lahir, menurut Eisenstadt, karena intelektual, khususnya dalam konteks dunia Barat adalah mereka yang kerap melakukan kritik terhadap rejim, dan karena itu dipandang sebagai lawan, baik potensial maupun aktual; intelektual adalah kaum innovator dan revolusioner, atau sebagai penggagas orientasi-orientasi sosial dan kultural yang secara umum melawan tradisi. Pendek kata, dalam hubungannya dengan tradisi, intelektual digambarkan sebagai ikonoklas atau heretik. Kaum intelektual adalah pengawal kesadaran masyarakat, tetapi ketika kesadaran demikian melawan tatanan yang ada.

Lebih jauh, Eisenstadt menjelaskan bahwa di kalangan sarjana, kategori intelektual sering tidak mencakup mereka yang memahami budaya dari perspektif yang konservatif, semisal pemimpin-pemimpin keagamaan atau kaum teolog. Atau jikapun para pemimpin agama dan teolog ini dimasukkan sebagai intelektual, biasanya mereka digambarkan sebagai konservatif, yang mendukung tradisi yang ada atau status quo, sebagai bagian dari kemapanan, atau sebagaimana digambarkan dalam kajian Karl Mannheim, sebagai kelompok yang menentang birokrasi yang rasional dan liberal, kerangka kerja yang dianut masyarakat modern. Akibatnya, kelompok agamawan yang cenderung konservatif ini dianggap telah menyalahi tugas keintelektualan yang menjadi oposisi semua hal yang dibela oleh kaum agamawan. Dengan kata lain, kaum agamawan —dalam hal ini, kiai dan santri— adalah “kaum intelektual” yang memusuhi intelektualisme. Benarkah demikian?

Eisenstand, dan saya sebagai muqallid, menganggap pandangan ini keliru. Dia sangat menyayangkan kenyataan bahwa literatur-literatur tentang kaum intelektual tidak menaruh perhatian pada aspek lain dari kaum intelektual sebagai penggagas dan pengemban tradisi, melalui keterlibatan simbolik dan institusional mereka. Dalam batas tertentu, kaum intelektual—khususnya kiai dan santri—mewakili kesadaran masyarakat, tetapi tetap berada dalam koridor tradisi yang ada. Namun demikian, karya-karya “intelektual-tradisi” semacam ini—kalau saya boleh menyebutnya demikian—seringkali hanya diperlakukan sebagai epifenomena, ketimbang sebagai faktor yang independen dalam kehidupan social.

Pandangan dikotomis terhadap intelektual dan tradisi ini, menurut Eisentadt, merupakan salah satu akibat dari kecenderungan masyarakat modern dalam mempertentangkan antara yang modern dan non-modern. Pada gilirannya, pertentangan itu beralih menjadi pertentangan antara masyarakat modern dan masyarakat tradisional, yang diperlakukan sebagai kategori-kategori yang tertutup. Dalam banyak karya, masyarakat tradisional secara umum digambarkan sebagai statis, dan mengalami tingkat diferensiasi spesialisasi yang rendah, belum urban, dan buta huruf. Sebaliknya, masyarakat modern digambarkan sebagai memiliki tingkat diferensiasi yang tinggi, urban, melek huruf, dan biasa mengakses media massa. Dalam konteks politik, masyarakat tradisional sering dihadirkan sebagai pengikut pemimpin tradisional yang memimipin dengan “semacam mandat dari langit”, sedang masyarakat modern adalah kelompok yang memiliki tingkat partisipasi yang luas, yang menolak klaim kepemimpinan tradisional, dan yang meminta pertanggungjawaban pemimpin berdasarkan nilai-nilai sekular dan prinsip efisiensi. Di atas itu semua, masyarakat tradisional sering dipahami sebagai masyarakat yang diikat oleh horizon-horizon kultural yang ditetapkan oleh tradisi, sedang masyarakat modern dipandang sebagai yang secara kultural dinamis, dan beriorientasi pada perubahan dan inovasi.

Sejumlah ketidakpuasan muncul terkait dikotomi demikian, dan terutama karena penggambaransempitnya atas tradisi sebagai sinonim dari tradisionalitas dan kemandegan. Di lain sisi, ketidakpuasan yang sama dipicu juga oleh asumsi bahwa masyarakat modern, dengan orientasinya kepada perubahan, adalah kelompok yang anti-tradisional atau non-tradisional, sedangkan masyarakat tradisional, dengan sendirinya, adalah menentang perubahan. Hal ini bertentangan dengan kenyataan bahwa di dalam masyarakat tradisional ditemukan berbagai variasi dan perubahan-perubahan, dan pengakuan akan pentingnya tradisi bagi masyarakat modern, termasuk dalam aktivitas mereka yang paling modern sekalipun, misalnya dalam ranah ekonomi rasional, sains, dan teknologi. Dalam konteks ini, tradisi tidak bisa diperlakukan sebagai rintangan bagi perubahan. Sebaliknya, ia adalah kerangka esensial bagi kreatifitas. Karena itu, pemahaman akan tradisi seharusnya tidak restriktif, karena ia bukan masa lalu yang mati melainkan, sebagaimana ditunjukkan Edward Shils (1972) dalam “Tradition and Liberty,” merupakan kerangka yang tanpanya kreatifitas tidak mungkin tumbuh. Kesadaran ini menuntut perubahan analisis sosiologis dan historis mengenai kaum intelektual. (bersambung…)

Penulis:
Achmad Tohe, MA., Ph.D (Pengurus Lakpesdam NU Kota Malang)

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Meluruskan Klaim HTI tentang Kesamaan dengan NU

Artikel ini sebenarnya sudah saya tulis sekitar satu tahun yang lalu dan sudah dimuat di ...

One comment

  1. tulisan ini pernah disampaikan dalam Orasi Kebudayaan tentang hari santri..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *