Thursday , November 23 2017
Home / Kolom / Kiai, Santri dan Tradisi (Bagian 2)

Kiai, Santri dan Tradisi (Bagian 2)

Tradisi dan Perubahan
Barangkali tidak ada definisi atas tradisi yang disepakati semua orang. Tetapi berdasarkan pengamatan atas elemen-elemen yang selalu hadir di balik perubahan-perubahan bentuk simbolik dan ekpsresi strukturalnya, Eisenstadt mendefinisikan tradisi sebagai reservoir (ruang penyimpanan) pengalaman-pengalaman sosial dan kultural masyarakat yang penting, yang sekaligus merupakan elemen pembentuk realitas sosial dan kultural mereka.

Warisan masa lalu sebuah masyarakat berada pada tradisi. Untuk menjaga vitalitasnya, menurut James Graves (2005), tradisi membutuhkan inovasi yang terus menerus. Tradisi dan inovasi adalah dua hal yang berlawanan tetapi bersinergi satu sama lain; salah satunya tidak bisa berdiri sendiri tanpa yang lain, karena yang satu menjadi alasan keberadaan yang lain. Tetapi bagaimana kedua hal yang berlawanan ini berkerja dalam suatu kerangka yang sama?

Pertama, identitas tidak bisa dipisahkan dari tradisi. Akumulasi sikap, asumsi, keyakinan, dan kebiasaan yang mewakili self-image sebuah kelompok tertentu, di suatu waktu tertentu, merupakan buah dari tradisi. Cara orang memandang dunia, memikirkan peristiwa-peristiwa dan mendiskusikannya dengan orang lain dipengaruhi oleh tradisi tempat ia dilahirkan dan tumbuh. “Orang menggunakan budaya untuk menjelaskan diri dan mobilisasi mereka, dan untuk menunjukkan nilai-nilai kultural lokal mereka,” jelas Javier Perez de Cuellar.

Kedua, berbeda dari pemahaman sebagian orang, sesungguhnya tradisi memiliki kelenturan; ia mudah bergerak dan berubah, meskipun, pada saat yang sama, ia merekam jejak-jejak masa lalu. Tradisi yang hidup adalah kekuatan dinamis yang mewakili jamannya. Tradisi adalah masa lalu, atau kumpulan dari masa lalu, yang berhadapan dengan masa kini. Dalam proses dialektik ini, tradisi diperbarui, ditransformasi, atau mungkin dibuang sebagiannya. Dengan demikian, tradisi terus menerus dan secara kreatif “diciptakan” untuk melayani kebutuhan masa kini. Tradisi adalah pembangun (building block) kebudayaan, yang merekatkan masa kini dengan masa lalu, dan mengawal kreasi-kreasi masyarakat ke masa depan. Ia menyimpan kebanggaan akan sejarah masa lalu, menghubungkan generasi hari ini dengan para pendahulu mereka, dan memberikan tuntunan yang dibutuhkan untuk memahami kenyataan hari ini. Tradisi merupakan pijakan bagi inovasi, dengan mengolah yang lama untuk menghasilkan yang baru. Pendek kata, tradisi tidak pernah statis melainkan fleksibel dan selalu berubah. Ambil kitab suci sebagai contoh. Sebagai sebuah tradisi, kitab suci bukanlah sesuatu yang statis, karena ia selalu terbuka untuk dibaca, ditafsirkan, dan diejawantahkan.

Karena wataknya yang lentur, tradisi dapat diarahkan sesuai dengan keinginan penggunanya. Mereka yang konservatif secara kultural—semisal fundamentalis relijius—sering menggambarkan tradisi sebagai tuntunan yang kaku. Di sisi lain, mereka yang memahami tradisi sebagai sesuatu yang lentur, memperlakukannya sebagai piranti yang sarat makna untuk mengungkapkan gagasan-gagasan, baik di dalam komunitasnya sendiri atau di komunitas yang berbeda. Bagi aktivis politik dan sosial, misalnya, tradisi kerap digunakan sebagai simbol kebanggaan, perlawanan, dan identitas.

Dalam perspektif ini, definisi yang menggambarkan tradisi sebagai semata “warisan masa lalu” (what is handed down), sudah tidak bisa diterima lagi. Memang benar, semua orang lahir ke dalam tradisi. Tidak ada seorangpun yang lahir ke ruang hampa tradisi. Mereka menggunakan bahasa yang bukan ciptaan mereka sendiri, melainkan disiapkan oleh tradisi. Tata pemerintahan tertentu sudah siap, betapapun sederhananya, sejak seorang bayi lahir. Sederetan hukum sudah menanti, bahkan jauh sebelum seseorang akan dikenakan atau menggunakan klausul-klausulnya. Dan seterusnya. Dalam perspektif yang berbeda, banyak terjadi perubahan dan pembaruan dalam kehidupan ini, tetapi perubahan dan pembaruan dimaksud terjadi dalam dan berangkat dari tradisi. Meski demikian, perubahan dan pembaruan tidak menggerus tradisi sepenuhnya; ada ada bagian-bagian dari tradisi itu yang, menurut Shils (1984), masih bertahan.

Atas dasar itu, anti-tradisionalisme adalah sikap yang tidak bisa dibenarkan, karena manusia tidak bisa sepenuhnya independen dari tradisi. Anti-tradisionalisme, menurut Shils, tidak mungkin, baik secara fisiologis, linguistis, teknologis, dan secara intelektual. Setiap orang tumbuh berdasarkan tradisi yang melingkunginya. Mereka memperoleh identitas dan makna dalam hidupnya dari kepatuhannya atas tradisi yang membesarkannya. Kepatuhan terhadap tradisi tidak dirasakan sebagai beban, karena tradisi menyediakan tatanan sosial yang membuat kehidupannya berjalan dan bermakna. Sebaliknya, ketika menghadapi masalah kehidupan, manusia kembali kepada tradisi, meskipun sekadar untuk mencari pembenaran atas apa yang tidak disukainya. Kepastian dan tatanan sosial masih lebih menguntungkan ketimbang relativisme atau nihilisme. Kenyataan ini menjelaskan mengapa sebagian masyarakat tetap mematuhi institusi-institusi atau keyakinan-keyakinan yang boleh jadi dipertanyakan secara saintifis atau rasional.

Pemahaman Baru atas Tradisi
Paparan di atas, menuntut cara baru untuk memahami tradisi. Marian Kempny (1996) berpendapat bahwa pemahaman lama atas tradisi, yang menjadikannya sebagai sinomim dari keseluruhan elemen kultural masa lalu, tidak bisa dipertahankan lagi. Sebagai alternatif, Kempny memperlakukan tradisi sebagai proses berpikir, yaitu interpretasi terus menerus atas masa lalu. Dalam pemahamannya itu, tradisi bukanlah kumpulan artifaktual, yang diwariskan oleh masa lalu ke masa kini, seperti benda-benda. Tradisi adalah mekanisme kontinuitas kultural. Karena itu, kecenderungan jaman modern yang hendak memutus hubungan dengan masa lalu atau tradisi tidak mungkin dilakukan. Alasannya adalah karena tradisi adalah suatu hal, dan manusia, sebagai pengemban dan pengembang tradisi adalah hal lain. Pada gilirannya, masayarakat pemilik tradisi memiliki peran yang penting dalam mengelola tradisi yang ada. Dalam konteks ini, tradisi dipahami bukan sebagai sesuatu yang siap saji, yang diwariskan secara mekanis. Tradisi, menurut Shils (1981), tidak secara independen menciptakan dan mengelaborasi dirinya sendiri; tetapi manusialah, dengan kehendak dan pengetahuan mereka, yang menegakkan dan memodifikasinya. Dalam perspektif ini, tradisi berada dalam “proses menjadi” secara terus menerus (undergoes a process of a continuous becoming). Transformasi tradisi terjadi jika pemiliknya melakukan reevaluasi. Telaah atas tradisi mungkin saja berujung pada pembuangan aspek-aspek tertentu, dan menggantinya dengan hal-hal yang lain; tetapi hal demikian dilakukan dalam otoritas yang diberikan oleh tradisi itu sendiri. Tradisi akan dievaluasi jika tantangan baru muncul, dan jawaban atas tantangan itu tidak ditemukan dalam tradisi. Perubahan dalam tradisi adalah sesuatu yang alamiah, tetapi sering tidak dipahami atau bahkan ditolak keberadaannya. Hal demikian merupakan akibat dari kesalahan memahami tradisi sebagai sesuatu yang jumud. Padahal dalam kenyataan, setiap klaim yang mengatasnamakan tradisi selalu merupakan tindakan penafsiran, yang karenanya selalu bergerak sesuai kebutuhan. Perubahan atas tradisi bisa terjadi dalam berbagai skala, dari yang paling kecil hingga yang revolusioner. Tetapi pada prinsipnya, betapapun pentingnya tradisi dalam memberikan identitas dan pemaknaan dalam kehidupan, ia tidak pernah sepenuhnya statis. Wallahu a’lam.

Penulis:
Achmad Tohe (Lakpesdam NU Kota Malang)

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Meluruskan Klaim HTI tentang Kesamaan dengan NU

Artikel ini sebenarnya sudah saya tulis sekitar satu tahun yang lalu dan sudah dimuat di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *