Thursday , November 23 2017
Home / Buku / Kritik Atas Khilafah Islamiyah

Kritik Atas Khilafah Islamiyah

Akhir-akhir ini, gerakan Islam (islamic movement) menampakkan wujud yang nyata, terlebih setelah arus reformasi yang berujung pada tumbangnya penguasa Orde Baru. Salah satu wujudnya adalah gerakan Islam Hitbut Tahrir Indonesia (HTI). Sebagai organisasi sosial dan politik, HTI menjelmakan diri sebagai kelompok yang bercita-cita mencipta ulang negara Islam (khilafah islamiyah), sebuah sistem pemerintahan yang sesuai dengan syari’ah Islam.

Dalam pandangan gerakan ini, sistem pemerintahan Indonesia sekarang ini bukan termasuk sistem yang sesuai dengan syari’ah Islam. Oleh karena itu, cita-cita khilafah islamiyah harus diperjuangkan di negeri yang majmuk ini. Mendirikan khilafah islamiyah merupakan suatu kewajiban paling agung bagi umat Islam. Khilafah islamiyah menjadi doktrin mendasar dalam gerakan HTI.

Buku ini merupakan kritik atas proyek khilafah islamiyah yang diusung oleh HTI. Proyek khilafah islamiyah memiliki kelemahan yang sangat mendasar. Setidaknya, kelemahan itu dapat dilihat dalam tiga aspek, yaitu aspek filosofis, normatif dan historis.

Secara filosofis, kesimpulan HTI yang menyatakan bahwa khilafah merupakan suatu keniscayaan bagi Islam adalah suatu ketergesaan yang dipaksakan. Adalah benar bahwa Islam merupakan landasan sempurna bagi kehidupan umat manusia. Agar Islam bisa dijalankan maka butuh ketertiban dunia. Kesejahteraan di akhirat tidak dapat dicapai kalau ketertiban agama tidak bisa diwujudkan. Ketertiban dunia menjadi syarat yang harus dipenuhi jika ingin mencapai kesejahteraan di akhirat.  Oleh karena itu, untuk mewujudkan ketertiban dunia dibutuhkan seorang pemimpin atau institusi yang mampu mengelola ketertiban.

Ada perbedaan yang mendasar antara kebutuhan masyarakat muslim terhadap institusi yang mengelola ketertiban dengan institusi politik. Dalam perspektif politik khilafah masuk dalam kategori salah satu bentuk institusi politik, bukan satu-satunya bentuk. Faktanya, terdapat banyak ragam bentuk institusi politik, mulai bentuk kerajaan sampai republik, dan semuanya ditolak oleh HTI karena diangap tidak sesuai dengan syari’ah Islam (hal. 159). Harus dibedakan antara kebutuhan Islam terhadap institusi yang mampu mengelola dan mengatur masyarakat muslim dengan institusi politik.

Secara normatif, khilafah dianggap oleh HTI sebagai ijmak para sahabat (ijma al-sahabah). Anggapan ini mengandung kelemahan yang sangat mendasar dan menyesatkan. Istilah khalifah pertama kali muncul setelah sahabat Abu Bakar dibaiat. Pengertian khalifah yang disematkan kepada sahabat Abu Bakar ini memiliki pengertian sebagai ‘pengganti, yakni bahwa Abu Bakar adalah pengganti Rasulullah Saw. Jadi, pengertian khalifah tidak memiliki keterkaitan dengan kekuasaan atau politik. Dalam domain kajian ijma al-sahabah, tidak ditemukan adanya indikasi para sahabat telah melakukan ijmak terkait dengan khalifah. Oleh karena itu, dapat ditegaskan bahwa persoalan khalifah atau khilafah merupakan masalah ijtihadi, bukan ijmak.

Sementara itu dalam perspektif historis dapat dikatakan bahwa tidak ada satu kesatuan khilafah dalam Islam, meskipun para aktifis gerakan HTI menyakini kesatuan itu. Fakta sejarah Islam menyebutkan bahwa sejak munculnya khilafah Bani Umaiyah di Spanyol, yang dibangun oleh Abdurrahman ad-Dakhil, kepemimpinan dunia Islam tidak dapat disebut tunggal. Kekuasaan Bani Umaiyyah di Spanyol ini menolak kepemimpinan Bani Abbasiyah.

HTI mengakui konsep khilafah tunggal. Tidak ada dua ke-khalifah-an dalam satu pemerintahan. Jika ada dua khalifah yang dibaiat, maka khalifah  yang dibaiat terakhir tidak sah dan harus dibunuh.  Namun faktanya, literatur sejarah Islam menegaskan bahwa tidak ada kekuasaan Islam yang tunggal dan kontinyu. Dinasti-dinasti Islam selalu ada dalam sejarah Islam masa lalu, namun tidak berada dalam satu kesatuan komando kekuasaan. Justru, yang kerapkali terjadi adalah saling serang antara satu dengan lainnya.

Demikianlah buku ini menelanjangi konsep khilafah HTI. Menariknya, buku ini ditulis oleh seorang mantan aktivis HTI itu sendiri. Pengalamannya sebagai ‘orang dalam’ (insider) dan sekaligus peneliti, menjadikan buku ini memiliki nilai lebih. Argumentasi dan kritik yang dibangun cukup obyektif dan tidak dipenuhi kecurigaan. Selamat membaca!

Judul: Proyek Khilafah: Perspektif Kritis
Penulis: Dr. Ainur Rofiq Al-Amin
Penerbit:  LkiS – Yogyakarta
Cetakan I:   Juli 2015
Tebal:   xiv + 282 halaman
Peresensi: Khoirul Anas

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

MEMBANGUN KESADARAN BERLITERASI

Menulis itu membutuhkan keterampilan dan ketekunan. Tidak hanya menuangkan ide atau gagasan saja, tetapi memberikan ...

One comment

  1. well done , utopis memang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *