Monday , September 25 2017
Home / Kolom / Ngalap Berkah Mbah Munif Zuhri Mranggen
https://i.ytimg.com/vi/-p-9kUkY-SY/maxresdefault.jpg

Ngalap Berkah Mbah Munif Zuhri Mranggen

Saya sebenarnya sudah ngantuk saat tiba di Mranggen Demak pada kamis malam di awal Maret yang lalu. Ini perjalanan pertama saya ke kota yang konon punya keistimewaan. Mranggen adalah nama sebuah kecamatan yang lokasinya berdekatan dengan Semarang. Jaraknya cuma sak-kilan atau satu jengkal untuk sampai ke Ibu Kota Provinsi Jawa Tengah tersebut. Ndak perlu naik bus. Orang Mranggen cukup sak jangkah saja sudah sampai ibu kota.

Di tengah hiruk pikuk perkotaan, Mranggen tetap menjaga tradisinya. Pesantren masih berdiri tegak kokoh tak tertandingi. Suasana khas lingkungan pesantren di kecamatan tersebut saya rasakan, terlebih saat malam jum’at kala itu.

Kawan saya mengajak untuk Ngaji malam jum’at. Tempatnya, di pondok Mbah Munif. Saya yang awam tentang kiai akhirnya nurut saja. Rumah seorang kawan dengan kediaman Mbah Munif tidak begitu jauh. Jalan menuju ke lokasi pengajian pun kami lalui bersama. Dengan mengendarai motor yang knalpot-nya sedikit brong.

Di perjalanan saya biasa saja. Tidak ada yang beda. Tapi kian dekat dengan lokasi pengajian, saya merasa ada yang aneh. Seorang remaja berbonceng tiga menyalip motor kami. Mereka bersarung tapi tetap mengenakan kaos oblong. Kaos hitam bergambar metal.

Ternyata bukan satu motor saja yang menyalip. Remaja berboncengan lainnya pun saya lihat dengan tujuan lokasi yang sama. Remaja itu juga ingin mengaji sepertinya. Saya semakin kaget saat tiba di lokasi pengajian. Ratusan motor sudah terparkir. Mobil pribadi hingga angkutan umum pun juga berjubel untuk parkir. Bahkan bus.

Tapi, tak ada satupun spanduk informasi mengenai pengajian apa yang diselenggarakan pada malam itu. Dan, setelah kami mencari informasi ternyata pengajian rutin yang diselenggarakan setiap malam jum’at.

‘’Setiap minggu ya kayak ngene,’’ ujar kawan saya.

Motor kami parkir. Kaum bersarung sudah berjajar menata duduk. Pasar malam kecil-kecilan menambah kemeriahan malam itu. Dipandu seorang kawan, saya menyusuri deretan jamaah yang sudah duduk. Bermodal kata ‘amit’ kami diberi jalan. Seorang kawan ingin memilih duduk di dekat sumber suara sepertinya.

Sajadah pun kami beber di tanah berbatu. Kami bertiga duduk menatap sang kiai. Kiai yang masih muda. Wajahnya bersih. Beliau berkacamata. Suaranya sedikit serak. Alunan salawat diba’ dibaca pada malam itu. Pengajian tengah berlangsung. Mbah Munif, begitu orang memanggilnya. Malam itu jam di hape saya menujuk pukul 22.00 WIB.

Saya memang sudah lama tak pernah di tengah-tengah forum pengajian seperti itu. Mungkin lama hidup di jalanan. Pengajian dengan Mbah Munif kembali membawa aura yang berbeda. Kalam-kalam kisah rosul itupun sedikit menggoyak hati.

“Mahalul Qiyam,’’ seseorang melafalkan.

Kami pun berdiri. Suara terbang ditabuh. Jamaah hanyut dengan derai air mata. Salawat demi salawat kami lantunkan bersama. Isak tangis kecil terdengar di belakang saya. Tak saya toleh. Kami semua bersalawat malam itu. Jam sudah lewat pukul 12 malam. Haripun telah berganti.

Mbah Munif usai memimpin membaca diba’. Do’a pun dipanjatkan. Kata amin pun bersautan. Berdo’a selesai. Orang-orang lantas mengambil botol air mineral yang sudah sejak tadi diletakkan tak jauh dari tempat duduknya. Semua botol itu terbuka.

Bukan hanya satu orang saja yang membawa. Tapi, nyaris semua orang ikut membawa air botol. Semua sama. Ditaruh di dekat tempat duduk dalam keadaan terbuka. Teguk demi teguk air dirasakan oleh pemiliknya. Termasuk saya. Bahkan, saking ngantuknya air botol itu juga saya gunakan untuk membasuh muka. Seger. Mata kembali terang.

Orang-orang yang sengaja datang membawa air botol itu sepertinya ingin mendapatkan do’a. Ya, do’a. Dan saya percaya do’a yang dilantunkan pada pengajian itu akan membentuk struktur kristal air yang indah. Karena memang secara metafisik air bisa terpengaruh oleh ucapan seseorang. Bahkan hal ini sudah di ilmiahkan oleh salah satu ilmuwan Jepang.

Semoga saja, air kelak tak dimonopoli oleh orang-orang berduit saja. Dengan begitu membawa air ke tempat pengajian di Mranggen tak perlu membeli air yang mahal. Saya khawatir kalau sumber-sumber air nanti hanya dikuasai oleh pemodal. Lha nanti kalau mau mandi mereka harus bayar mahal bagaimana? Oke. Soal air saya cukupkan.

Malam itu, suara Mbah Munif sedikit pelan atau memang telinga saya yang sedang error. Tapi, yang pasti rasa kantuk tak bisa dihindarkan di tengah-tengah jalannya ceramah. Sebagai orang santri garis lemah saya hanya bisa menangkap sedikit dari apa yang didawuhkan Mbah Munif malam itu. Sabar dan Syukur.

Dua pesan yang sebenarnya sering disampaikan oleh semua kiai. Tapi, sepertinya ucapan Mbah Munif begitu makjleb di malam itu. Seolah Mbah Munif memberi pesan secara pribadi. Saya juga mbatin apa ya Mbah Munif tahu soal yang sedang saya batin.

Sabar. Mungkin kalimat ini tepat bagi saya dan kawan-kawan saya yang sedang diberi ujian. Ujian menunggu nasib yang tidak pasti. Atau kepastian yang lain. Sabar memang gampang diucapkan namun sulit dijalankan. Tapi, sabar selalu menjadi alat untuk membuat batin menjadi tenang. Meski hanya sebagai ucapan.

Syukur. Pesan yang biasa itu menjadi tidak biasa saat disampaikan Mbah Munif. Lha ya kurang apa coba kalau melihat kondisi diri kita masing-masing. Semua masih utuh. Ambekan tinggal nyedot gratis. Lha kok masih sambat. Kata Mbah Munif, kadang orang memang kurang neriman. Sudah dikasih masih kurang terus. Bahkan, menyalahkan yang sudah memberi.

Ada pesan yang lamat-lamat saya dengar. Barokah. Ini kata yang dulu sering saya diskusikan dengan kawan-kawan saat kuliah. Barokah itu bentuknya seperti apa dan pertanyaan nakal lainnya.

Kini, saya memang benar-benar harus bertekuk lutut. Bila barokah itu memang bisa dirasakan. Sitik rapopo sing penting berkah. Tinimbah akeh tapi ora berkah. Sebab, kata Mbah Munif, hidup dengan keberkahan itu lebih nikmat.

Usai mengaji mata saya justru semakin melek. Saya memaklumi karena saya masih termasuk santri garis lemes. Jadi, kalau pas ngaji ngantuk usai ngaji ngantuknya ilang. Seperti di pesantren pada umumnya. Usai ngaji yang dilakukan adalah berebut mencium tangan kiai. Berdesak-desakan untuk mendapatkan berkah. Malam itu di Ngajinya Mbah Munif juga sama. Para jamaah turut antri. Merengsek ke depan. Saling berebut untuk menyentuh tangannya. Bak lorong yang berdinding manusia Mbah Munif melintasi di sela-selanya.

Saya yang tidak kebagian sungkem sadar diri. Selain faktor tubuh yang tidak bisa nyelempit akhirnya saya memilih untuk merekamnya saja. Sebagai dokumentasi perjalanan. Konon, sebagian masyarakat menilai Mbah Munif itu wali. Tapi ada juga yang bilang Mbah Munif adalah orang biasa saja. Bagi saya, kedua memang tak perlu diperdebatkan. Yang jelas. Mbah Munif orang baik. Lha tapi kok ikut politik? Kata teman saya.

Oke. Saya yang sudah jengah soal politik akhirnya harus angkat bicara bila ada kiai baik yang jadi pengurus parpol. Padahal, biasanya saya risih kalau ada kiai ikut politik. Bagi saya, keikutsertaan Mbah Munif dalam parpol adalah cara menutupi kebaikannya. Atau menutupi ke-alimannya. Jur aneh kan?

Menurut saya ini tidak mustahil. Sepertinya Mbah Munif khawatir bila masyarakat terlalu mengkultuskannya. Sehingga, melibatkan diri di parpol adalah cara menarik tur ampuh untuk menutupi sebuah kesempurnaan. Ini pendapat saya. Bagi yang tidak setuju ndak apa-apa. Tapi, bagi situ yang sekarang jadi politisi ndak usah pakai alibi ini. Alim wae ora kok arep ditutupi.

Lalu apa partai Mbah Munif? Kalau soal itu saya saranken bertanya ke kawan-kawan saya, Rifqi Gozali atau sesepuh M Fu’adi Luthfi. Bisa juga ke agitator cum sastrawan Arief Nur Handika.

Kewibawaan Mbah Munif banyak saya dengar dari beberapa kawan saya asli Mranggen. Dia pernah bercerita saat Gus Dur akan nyalon jadi presiden salah seorang kiai yang dipamiti adalah Mbah Munif. Apa jawaban Mbah Munif? Gus Dur diminta untuk tak mencalonkan diri.

Usai menyampaikan pendapat agar Gus Dur tidak nyalon, malam harinya Mbah Munif mimpi ditemui Gus Dur. Tak berfikir panjang Mbah Munif langsung menghubungi Gus Dur lalu memberikan restu. Gus Dur pun melanjutkan langkahnya.

Jelang lengsernya Gus Dur, kata kawan saya, Mbah Munif sempat berpesan agar tak mengeluarkan dekrit. Namun, Gus Dur tetap melakukannya, dan akhirnya lengser.

Teranyar, jelang Pilpres 2014 si Joko juga menyempatkan diri untuk sowan. Entah apa yang dibicarakan. Yang jelas kini dia punya jabatan mentereng: orang nomor wahid. Saya berdo’a semoga Mbah Munif selalu sehat. Amien….

Penulis:
Amrullah AM (santri-kolumnis yang tinggal di Tuban-Bojonegoro-Blora)

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Meluruskan Klaim HTI tentang Kesamaan dengan NU

Artikel ini sebenarnya sudah saya tulis sekitar satu tahun yang lalu dan sudah dimuat di ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *