Monday , September 25 2017
Home / Kolom / Meluruskan Klaim HTI tentang Kesamaan dengan NU

Meluruskan Klaim HTI tentang Kesamaan dengan NU

Artikel ini sebenarnya sudah saya tulis sekitar satu tahun yang lalu dan sudah dimuat di website www.nu.or.id. Namun, saya katakan perlu untuk mempublikasikan kembali karena banyak beredar di media sosial mengenai klaim-klaim dari kelompok Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) dalam rangka mencari pembenaran dan dukungan lebih-lebih pasca pengumuman pembubaran HTI oleh Menteri Politik, Hukum dan Keamanaan (Menkopolhukam) Wiranto pada Senin 8 Mei 2017, menyusul negara-negara mayoritas muslim lain yang terlebih dahulu tidak mengizinkan Hizbut Tahrir (HT) berdiri di negaranya, seperti Turki, Arab Saudi, Mesir, Yordania, dan Malaysia.

Pembubaran ini dilakukan dengan alasan, sebagaimana disampaikan oleh Wiranto dalam konferensi persnya, antara lain: pertama, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) tidak mengambil peran  positif untuk mengambil bagian dalam proses pembangunan guna mencapai tujuan nasional; kedua, kegiatan yang dilakukan HTI terindikasi kuat bertentangan dengan tujuan, azas, dan ciri yang berdasarkan Pancasila dan sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 17 tahun 2013 tentang Organisasi Masyarakat atau Ormas; dan ketiga, aktivitas yang telah dilakukan HTI secara nyata telah menimbulkan benturan di tengah masyarakat yang pada gilirannya dapat mengancam keamanan dan ketertiban masyarakat serta membahayakan keutuhan Indonesia.

Langkah pembubaran ini rupanya mendapat dukungan dari banyak ormas-ormas Islam di tanah air, termasuk Nahdhatul Ulama yang secara terus-menerus melakukan kampanye dukungan terhadap pembubaran HTI tersebut.

Dalam artikel ini, saya menulis berdasarkan pengalaman pribadi ketika berdialog dengan aktivis mahasiswa Hizbut Tahrir dan pengamatan saya terhadap berbagai wacana di dunia maya ketika berbicara tentang Nahdlatul Ulama dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Artikel ini juga tidak hendak menyudutkan atau mencemarkan nama organisasi HTI, melainkan sebagai upaya klarifikasi dan “menjaga diri” dari ideologi yang bertentangan dengan garis perjuangan NU. Sebab HTI sebagai organisasi yang bervisi besar, yaitu hendak mendirikan kekhalifahan Islam di dunia. Dalam ajakannya seringkali menggunakan penguatan argumen atau klaim dengan berupaya menghubung-hubungkan persamaan visi antara NU dan HTI. Argumen atau klaim-klaim tersebut antara lain:

Pertama, HTI mengatakan bahwa Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari memiliki keterkaitan pemikiran dengan Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani, penggagas rezim khilafah yang diusung oleh Hizbut Tahrir. Berawal dari sejarah ketika Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari belajar ke tanah arab (Mekkah) kemudian dikabarkan pernah berguru kepada Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani yang dikatakan sebagai kakek dari Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, -dalam publikasi sebelumnya saya membenarkan informasi tersebut, namun setelah saya telaah kembali, belum ada referensi kuat mengenai hal tersebut-.

Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani merupakan seorang ulama generasi akhir yang hidup pada masa kekhalifahan Turki Usmani. Beliau merupakan penulis kitab “Jami’u Karamatil ‘Auliya” dan “Afdholush Shalawat ala Sayyid Sadaat, Wasail Wusul ila Syamail al Rasul”, dan lain-lain. Kitab ini cukup populer karena menjadi rujukan utama banyak kalangan mengenai keutamaan sholawat nabi.

Syaikh Yusuf tinggal berpindah-pindah dari Mesir, Syam, Lebanon. Pada saat saat di Lebanon, beliau menjadi Ketua Pengadilan Tinggi (Qodhi) di Beirut. Beliau lahir pada tahun 1849 M, sementara Hadratussyaikh lahir pada tahun 1875 M, dengan selisih umur sekitar 26 tahun.

Sementara Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, dikaitkan nasab dengan Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani sebagai cucunya. Syaikh Yusuf sudah lama tinggal dan menjadi warga Lebanon, sementara Syaikh Taqiyuddin adalah warga Israel. Apakah karena sama-sama memiliki geral “An-Nabhan” dari Bani Nabhan? Sebuah gelar salah satu arab Badui yang tinggal di Desa Ijzim, bagian utara Palestina. Jika memang benar (Syaikh Taqiyuddin cucu dari Syaikh Yusuf bin Ismail), itu artinya Syaikh Taqiyuddin An-Nabhani telah membelok dan tidak mengikuti jalan pemikiran yang ditempuh oleh sang kakek yang berhaluan Sunni Syafi’i. Syaikh Taqiyuddin semula merupakan aktivis dan tokoh gerakah Ikhwanul Muslimin (IM) sebelum kemudian membelot dan mendirikan gerakan sendiri bernama Hizbut Tahrir (HT) yang secara metode dan mazhab fiqih berbeda dari Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja), apalagi Aswaja An-Nahdhiyah yang digagas oleh Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari.

Kedua, untuk menjaring simpatisan kalangan Nahdliyin, HTI biasanya mengatakan bahwa KH. M. Hasyim Asy’ari berkeinginan untuk menyatukan seluruh umat Islam dalam naungan sistem Islam yang satu (baca: khilafah). Hal ini mereka dasarkan atas gambar bola dunia dalam lambang organisasi NU. Saya rasa ini keliru besar. Karena diciptakannya lambang Nahdlatul Ulama berawal dari mimpi KH. Ridwan Abdullah Surabaya setelah lama berikhtiar dan shalat istikharah. Kiai yang bertugas membuat lambang NU tersebut bermimpi melihat gambar indah di langit biru yang jernih. Gambar itulah yang kemudian dijadikan lambang NU atas persetujuan KH. M. Hasyim Asy’ari. Sedangkan gambar bola dunia yang diikat oleh tali tambang dengan 99 lilitan tersebut bermakna kokohnya Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Insaniyah. Bukan penyatuan umat Islam dalam negara khilafah.

Ketiga, Komite Hijaz yang diketuai oleh KH. A. Wahab Chasbullah pun tak luput untuk dijadikan bahan argumen khilafah. Komite Hijaz dijadikan dalil bahwa embrio NU waktu itu mengakui dan berperan aktif pada kehilafahan Islam yang ada di Arab Saudi. Padahal Kiai Wahab dan kiai-kiai pesantren lainnya waktu itu bermaksud untuk melakukan upaya penolakan atas puritanisasi Islam oleh kelompok Wahabi di Arab Saudi khususnya pada rencana pembongkaran makan Rasululullah beserta keluarga dan sahabatnya. Sekali lagi, bukan soal dukung mendukung khilafah.

Argumentasi penyamaan visi NU dengan HTI tersebut dengan sendirinya runtuh ketika diselaraskan dengan fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945. Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari memfatwakan wajib membela tanah air (bukan membela agama) kepada masyarakat Surabaya dan sekitarnya yang berada dalam jangkauan radius 94 kilometer. Silakan pelajari latar belakang Resolusi Jihad NU. Di situ kita dapat melihat tingginnya nasionalisme dan patriotisme dalam diri Hadratussyekh KH. M. Hasyim Asy’ari yang tidak ada sama sekali dalam visi dan tradisi Hizbut Tahrir, yaitu menegakkan rezim Khilafah Islamiyah.

Penulis: M. Abdul Fatah (aktivis NU kultural, Pernah nyantri di Pondok Pesantren Darullughah Wal Karomah Probolinggo Jawa Timur)
Penyelia Bahasa: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

BERSAUDARA WALAU BERBEDA

Manusia diciptakan berbeda-beda, baik jenis kelamin, bangsa, suku bahkan kualitas intelektual dan segala sifat yang ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *