Monday , September 25 2017
Home / Buku / Menelusuri Jaringan Keilmuan Ulama Bawean
cover depan dan belakang buku

Menelusuri Jaringan Keilmuan Ulama Bawean

Sudah banyak literatur yang membahas tentang jejak para ulama di Nusantara, namun tidak demikian dengan ulama Bawean. Sedikit sekali buku-buku yang mengulas jejak ulama Bawean.  Pulau yang secara administratif masuk wilayah kabupaten Gresik ini kurang banyak didengar gaung ketokohan ulamanya.

Berdasarkan bukti arkeologis,  Islam masuk ke tanah Bawean diperkirakan tahun 1267. Hanya saja tahun ini tidak bisa dipastikan apakah Hijriyah atau Masehi.  Namun demikian angka tahun tersebut sebagaimana yang tertulis pada sebuah inskripsi yang ditemukan di Bawean tersebut mengisyaratkan bahwa penyebaran Islam ke Bawean sudah terjadi sejak dahulu.

Petunjuk lain menyebutkan bahwa Sunan Bonang (yang diperkirakan lahir tahun 1465 M) dan Nyai Gede Maloka pernah mendatangi pulau Bawean dan memyebarkan Islam di sana.  Bahkan sebuah cerita rakyat telah berkembang di tengah masyarakat konon sunan Bonang dimakamkan di Bawean tetapi sayang jasadnya diambil oleh santri-santrinya di Tuban sehingga yang tersisa si Bawean hanya kain kafannya saja.

Memasuki rentang waktu antara abad XIX – XX, Islam di pulau Bawean menampakkan wajah yang nyata.  Antara tahun 1601 – 1789 M, Bawean berada dalam otoritas kerajaan Islam, mulai Sayyid Maulana Umar Mas’ud hingga Raden Panji Prabunegoro.  Dalam catatan pemerintahan Belanda tahun 1831 disebutkan bahwa di Bawean telah ada 109 lembaga pendidikan Islam tradisional.

Pesatnya penyebaran Islam di pulau Putri ini (sebutan lain untuk pulau Bawean) tidak terlepas dari jaringan ulama-ulama Nusantara.  Hingga abad XIX di Bawean muncul ulama kharismatik seperti K.H. Muhammad Hasan Asy’ari al-Baweani al-Pasuruani.  Sebelum hijrah ke Makkah,  K.H. Muhammad Hasan Asy’ari bepertualang mencari ilmu ke Marokko. Kemudian pergi ke Makkah untuk berguru kepada Syaikh Nawawi al-Banteni.  Pada akhirnya K.H. Muhammad Hasan Asy’ari menetap di sana dan mengajar sampai menjadi rujukan santri-santri Nusantara.

Pengaruh Kiai Asy’ari terhadap santri-santri Nusantara bisa dilihat pada dua sosok kiai ternama,  yaitu Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan K.H. Wahab Hasbullah (salah satu pendiri NU). Keduanya pernah nyantri kepada Kiai Asy’ari untuk memperdalam ilmu falak.

Generasi ulama Bawean lainnya yang tidak bisa dilepaskan dari jejaring keilmuan dengan ulama Makkah (haramain) adalah K.H. Khatib Syahar (Pekalongan), Kiai Muhammad Amin (Sukaoneng), K.H. Muhammad Yasin (Kepuh Teluk), Kiai Abdurrahman Khalil (Teluk Dhelem), Kiai Hatmin (Laccar), Kiai Abu Bakar Asyik (Teluk Kalompang) dan Kiai Asyik Mukri (Gelam). Jejaring keilmuan mereka terbangun melalui akar mata rantai yang terjalil dalam hubungan guru-murid lintas generasi melalui rangkaian sanad keilmuan ulama Nusantara alumni haramain.

Begitulah buku ini mengulas jejaring ulama-ulama Bawean dalam konteks tradisi keilmuan Nusantara antara abad XIX – XX yang berujung pada jaringan ulama haramain.  Buku ini semakin melengkapi kajian tentang jejaring ulama-ulama Nusantara dalam konteks geneologi keilmuan dalam dunia inteleltual Islam. Selamat membaca!
Judul: Ulama Bawean dan Jejaring Keilmuam Nusantara Abad XIX – XX
Penulis: Burhanuddin Asnawi
Penerbit: LBC Press
Cetakan: November, 2015
Peresensi: M. Faisol Fatawi
Pemeriksa Bahasa: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

MEMBANGUN KESADARAN BERLITERASI

Menulis itu membutuhkan keterampilan dan ketekunan. Tidak hanya menuangkan ide atau gagasan saja, tetapi memberikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *