Monday , September 25 2017
Home / Buku / Mengamalkan Ideologi Pancasila
bukukita.com

Mengamalkan Ideologi Pancasila

Pengamalan terhadap nilai-nilai pancasila diakui banyak surut dalam kehidupan masyarakat modern kini. Nilai-nilai dalam pancasila hanya menjadi slogan tanpa aksi. Seyogianya, Pancasila dengan kesaktiannya menjadi cambuk bagi masyarakat Indonesia untuk mengamalkan lima sila di dalamnya. Pancasila harus diamalkan dalam kehidupan yang semakin kompleks, rumit, krisis moral, etika dan perilaku yang semakin lemah serta berbagai problem bangsa yang terus membelenggu. Apakah ada hubungannya dengan pengamalan terhadap pancasila?

Yudi Latif dalam buku Mata Air Keteladanan mengajak seluruh masyarakat Indonesia untuk mengamalkan nilai-nilai yang terkandung dalam lima sila pancasila. Mengembangkan pemahaman dalam pengamalannya dengan berbagai ilustrasi keteladanan dari para pejuang bangsa dalam  memperjuangkan bangsa dan negara dari penjajahan. Usaha menjernihkan perilaku dan sikap dari pejuang kemerdekaan melalui  pengamalan nilai-nilai pancasila dikompilasi dengan nilai perjuangan. Penulis mengurainya secara matang dan komprehensif dengan referensi yang sangat eksploratif dengan kuantitas ketebalan buku mencapai 658 halaman.

Yudi menguatkan dalam aplikasi pengamalan nilai-nilai pancasila ke dalam bukunya dengan meletakkan ruh kesaktian lima sila dalam pancasila, yaitu pengamalan nilai mata air keteladanan dalam pengamalan ketuhanan, mata air keteladanan dalam pengamalan kemanusiaan, mata air keteladanan dalam pengamalan persatuan, mata air keteladanan dalam pengamalan kerakyatan, dan mata air keteladanan dalam pengamalan keadilan. Inilah indahnya bingkai yang terdapat dalam buku ini, memberikan penafsiran yang komprehensif terhadap lima sila dalam pancasila dengan pengamalan-pengamalan yang dilakukan oleh para aktor sejarah kemerdekaan bangsa yang tak lekang oleh waktu dengan berbagai penguatan dan pelekatan terhadap nilai-nilai sejarah.

Elaborasi penafsiran, pemaknaan, pengintegrasian dan pengamalan terhadap lima sila dalam pancasila dalam kehidupan masyarakat modern menjadi anjuran yang diharapkan oleh Yudi. “Perjalanan panjang pergulatan para pendiri bangsa dalam “menemukan” Indonesia sebagai kode kebangsaan baru, sejalan dengan pergulatan mereka “menemukan” Tuhan. Banyak cara dalam meniti jalan Tuhan, ada yang menempuh jalan lurus; ada yang keluar masuk jalan Tuhan; ada yang tetap di jalan Tuhan meski jalanan berkelok; ada yang masuk lewat suatu jalan menuju Tuhan tetapi belajar juga cara masuk dari jalan lain; ada yang mencoba masuk dari berbagai jalan tetapi ujungnya menemukan jalur yang pas menuju Tuhan; ada pula yang mencoba keluar dari jalan Tuhan meskipun tak bisa sepenuhnya.” (halaman 11).

Para pendiri bangsa dalam mengamalkan nilai Ketuhanan Yang Maha Esa dengan berbagai cara untuk mencapai sebuah ke-Esa-an Tuhan dengan menjunjung tinggi ke-Indonesia-an. Para pahlawan mengamalkan sila kesatu dalam kehidupan beragama dengan saling menghormat satu sama lain untuk tujuan bersama dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan satu kesatuan dalam perbedaan melalui Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan yang aplikatif.

Rasa cinta sesama manusia dengan saling menghargai perbedaan dan saling menghormati adalah sebuah keniscayaan. Cinta tanah air adalah salah satu konsepsi yang dikembangkan oleh Yudi untuk menguatkan jiwa raga kita sebagai masyarakat Indonesia. Hatta menulis pada era 1930-an tentang kecintaan terhadap tanah air yang tertanggal 20 Juni 1934 di Daulan Ra’jat. “ke mana kita dibawa oleh nasib, ke mana kita dibuang oleh yang berkuasa (=penguasa, pemerintah), tiap-tiap bidang tanah dalam Indonesia, itulah juga tana air kita. Teluk yang molek dan telaga yang permai, gunung yang tinggi dan lurah yang dalam, rimba belantara dan hutan yang gelap, ataupun pulau yang sunyi serta pun padang yang lengang, semua itu gian Tanah Air yang sama kita cintai. Semuanya itu tidak boleh asing bagi kita. Dan kita bersedia menempuhnya satu per satu, di mana perlu.” (halaman 256).

Cinta tanah air menumbuhkan kebersamaan. Nilai persatuan dan kesatuan dalam kehidupan harus terus dikobarkan pada dimensi zaman modern saat ini. Perpecahan tidak akan menghasilkan apa, hanya cerai berai antara sesama. Persatuan dan kesatuan dalam bangsa Indonesia harus dilakukan dan diamalkan berdasarkan nilai kerakyatan dan keadilan. Kerakyatan dan keadilan sebuah kerangka signifikansi dalam pembangunan kesejahteraan bagi masyarakat. Nilai-nilai kerakyatan dalam kehidupan masyarakat memberikan irisan yang tajam bagi Yudi dengan mengutip Reeva (2013), bahwa dalam pandangan Ki Hajar Dewantara, perkembangan manusia, budaya, dan bangsa harus berlaku menurut asas “tri-kon” (kontinu, konvergen, konsentrasi): kontinu dengan alamnya sendiri, konvergen dengan alam di luarnya, untuk  menuju kearah persatuan konsentrasi yang universal, yaitu bersatu dengan alam besar, namun tetap memiliki “kepribadian” sendiri.

Buku ini sarat dengan nilai-nilai historis, penuh sejarah, nilai perjuangan, semangat persatuan, penyatuan pemikiran dari berbagai referensi, penekanan terhadap nilai sejarah yang dilakukan oleh para pahlawan bangsa dari  Sabang sampai Merauke, memberikan titik kobaran api semangat perjuangan dalam membaca buku ini. Dentuman semangat dan gempuran motivasi yang di padu oleh analisis kritis penulisnya memberikan ruh tulisan yang menyentuh hasrat untuk mengamalkan nilai-nilai pancasila dalam kehidupan. Melihat sampulnya saja menjadikan seperti “hidangan” yang siap santap. Menyelami kedalam pemikiran, analisis, kajian, eksperimen, dan nilai-nilai pengamalan yang disampaikan dalam buku ini menjadi daya tarik yang khas untuk dinikmati, dikaji, dan diamalkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Judul              : Mata Air Keteladanan: Pancasila Dalam Perbuatan
Penulis           : Yudi Latif
Penerbit         : Mizan
Cetakan          : 2, Juli 2014
Tebal               : xxii + 658 Halaman
Ukuran           : 14,5 x 21
ISBN                : 978-979-433-830-8
Peresensi       : Hayat (Dosen Universitas Islam Malang)

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

MEMBANGUN KESADARAN BERLITERASI

Menulis itu membutuhkan keterampilan dan ketekunan. Tidak hanya menuangkan ide atau gagasan saja, tetapi memberikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *