Thursday , November 23 2017
Home / Buku / Mengurai Wajah “seram” Islam Transnasional di Indonesia
http://img.yumpu.com

Mengurai Wajah “seram” Islam Transnasional di Indonesia

Setelah lama berjuang dari segala penjajahan yang menimpa nusantara—mulai dari penjajahan oleh negara-negara Eropa seperti Belanda hingga Jepang—akhirnya kita meraih kemerdekaan sebagai bangsa dan negara, tepatnya pada 1945. Atas nama Bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan.

Meski demikian, bukan berarti sudah tidak ada masalah lagi, justru makin banyak masalah dan tantangan yang harus dihadapi. Dari catatan sejarah, kita tahu bahwa pasca kemerdekaan, muncul gerakan-gerakan yang berpotensi merusak integritas ‘ke-bhinneka tunggal ika-an’ Indonesia. Salah satu contohnya adalah kasus Darul Islama (DI/TII). Gerakan ini pada dasarnya tidak sepakat atas bentuk negara republik, sebaliknya justru menghendaki Khilafah Islamiyah atau negara agama bagi Indonesia. Mereka berkeyakinan Negara Agama adalah sistem yang paling ideal. Sehingga, mereka—yang biasanya dikenal dengan golongan garis keras (Islam radikal)—berusaha dan memaksakan untuk mengganti sistem Negara Bangsa (dengan Pancasila sebagai asasnya) dengan sistem Islam (ala mereka).

Gerakan DI/TII pun pada akhirnya tidak lama dapat ditaklukkan. Pada dasarnya, menghadapi DI/TII atau gerakan garis keras lainnya tidak jauh beda dengan melawan imperialisme Belanda atau Jepang, bahkan mungkin bisa dikatakan lebih berat. Sebab yang dihadapi adalah ‘saudara’ sendiri. Dan ditaklukkannya gerakan DI/TII bukan berarti juga hilangnya ideologi atau paling tidak nalar mereka. Layaknya virus, sebuah ideologi—apa lagi garis keras (ekstrem)—sulit dimusnahkan.

Di kemudian hari, terutama menjelang tumbangnya rezim Orde Baru, gerakan Islam garis keras (Islam formalis) kembali menjelma. Indonesia kembali resah. Keutuhan bangsa kembali diuji. Kali ini ‘virus radikal’ mempunyai wujud yang bermacam-macam; ada yang bersifat destruktif revolusioner dan ada juga yang secara samar-samar (evolusioner). Gerakan ini lebih sistematis dan tentunya lebih kuat. Berbagai lini kehidupan mereka masuki; mulai level bawah hingga elit. Dan, salah satu efek dari gerakan (ideologi) ini adalah munculnya wacana ‘terrorisme’ dalam Islam.

Karena itulah, dengan didasari kesadaran historis, dan juga i’tikad baik, maka Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia hadir sebagai ‘obat’ luka Pancasila. Buku ini berusaha memperbaiki ‘wajah seram’ Islam-Indonesia; berusaha menghadirkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Secara terang-terangan, buku—hasil penelitian selama lebih dari dua tahun—ini mengurai dan mengungkap genealogi (alur) gerakan Islam radikal atau dikenal juga dengan ‘Islam transnasional’. Beberapa organisasi pun tercatat di dalamnya; seperti HTI, PKS, JI, KAMMI dll. Gerakan ini juga melakukan ilfiltrasi (penyusupan) ke dalam beberapa organisasi religius-nasionalis seperti NU dan Muhammadiyah.

Karena mungkin terkesan blak-blakan, vulgar, maka di kemudian hari buku ini menuai banyak protes. Ilusi Negara Islam dinilai profokatif, sehingga sempat dilarang terbit. Dalam kesempatan ini, kami sengaja ‘menawarkan’ buku ini, paling tidak sebagai bahan renungan atau ‘evaluasi’ realitas ke-bangsa-an dan ke-beragama-an kita saat ini. Dan akhirnya, atas dasar i’tikad baik serta dengan semangat ‘qul al-haqqo walau kaana murron’, peresensi mengajak membaca buku ini.
Selamat membaca…………
Selamat berjuang…………….

Judul buku : Ilusi Negara Islam Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia
Penulis : Tim Peneliti The Wahid Institute, dkk.
Penerbit : Kerjasama Gerakan Bhinneka Tunggal Ika, The Wahid Institute Jakarta dan Ma’arif Institute
Cetakan I : April 2009
Tebal : 322 halaman. ; 21, 5 cm.
Peresensi : Winartono

About winartono

Lihat Juga

MEMBANGUN KESADARAN BERLITERASI

Menulis itu membutuhkan keterampilan dan ketekunan. Tidak hanya menuangkan ide atau gagasan saja, tetapi memberikan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *