Sunday , October 21 2018
Home / Hikmah / MEWUJUDKAN SHALAT YANG KHUSUK
http://simasaktiumroh.com

MEWUJUDKAN SHALAT YANG KHUSUK

Salah satu amal yang paling besar pengaruhnya terhadap kehidupan manusia adalah shalat. Shalat mempengaruhi perilaku seseorang, sikap, bahkan pola pikir dan cara menyampaikan kepada orang lain. Jika shalatnya baik dan khusyuk, tentu orang itu akan mempunyai perilaku dan sikap yang baik. Pun sebaliknya.

Hal ini termaktub dalam firman Allah Swt. yang berbunyi: Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar”. (QS. Al ‘Ankabut: 45).

Selain berpengaruh dalam perilaku dan sikap, shalat juga menjadi indikator penting bahkan bisa jadi yang terpenting bagi umat manusia dalam timbangan amaliyah pada hari penghisaban (yaumul hisab) kelak. Jika shalatnya diterima dan diridlai, maka amal ibadah lainnya juga akan diterima.

Sesuai dengan firman Allah Swt., “Sesungguhnya bagi orang Mukmin shalat itu adalah merupakan suatu Kewajiban yang telah ditentukan waktunya.” (Q.S. An Nisa : 103).

Dikuatkan oleh sabda Rasulullah Saw., “Amal perbuatan seseorang yang pertama kali akan dihisab (diperiksa), di hari kiamat nanti adalah shalat, maka barangsiapa diterima shalatnya, akan diterima seluruh amalnya, dan jika shalatnya ditolak akan tertolak seluruh amalnya.” (HR. At Thabrani, Mundzir dan At Tirmidzi).

Sungguh sangat luar biasa manfaat dan hikmah dari perintah menjalankan kewajiban shalat, yaitu menjadi penentu baik dan buruknya perilaku seorang hamba dihadapan Allah Swt dan dihadapan manusia serta menjadi indikator utama diterimanya amal ibadah lainnya. Di samping itu, perintah shalat menjadi utama karena diperintahkan langsung kepada Rasulullah melalui perjalanan isra’ dan mi’raj yang menjadi penentu dari perintah shalat 5 (lima) waktu.

Maka menjalankan perintah shalat adalah sebuah kewajiban yang tidak dapat ditawar dan tidak boleh digantikan dengan ibadah-ibadah yang lainnya. Oleh karenanya, dalam keadaan apa pun, seseorang tetap wajib melaksanakan shalat: apabila tidak bisa berdiri maka boleh dengan duduk, apabila tidak bisa dengan duduk maka boleh dengan berbaring, dan apabila tidak bisa dengan berbaring maka boleh dengan menggunakan isyarat.

Tentunya shalat tidak hanya menggugurkan kewajiban, tetapi harus mengamalkannya secara sungguh-sungguh dan khusuk. Shalatlah atas nama Allah Swt dengan segala kerendahan hati dan bentuk penghambaan kepada-Nya dengan meniadakan unsur-unsur apapun. Mengharap keridlaan-Nya dengan meluruskan niat dan ikhlas terhadap pengamalannya. Merasa rendah di hadapan-Nya dan lemah tak berdaya di atas kuasa-Nya.

Banyak cara atau trik yang dapat dilakukan agar shalat itu khusyuk, tetapi bukan berpacu kepada cara dan trik tersebut sebenarnya agar khusukan dalam shalat di dapatkan. Tetapi lebih kepada penyatuan dan peleburan diri terhadap kemahaagungan dan kemahaesaan-Nya seraya ikhlas dan taat dengan mengamalkannya dengan semata-mata untuk mendapatkan keridlaan-Nya.

Shalat khusyuk tidak dapat disederhanakan hanya dengan trik dan teknis. Tetapi kepribadian dan posisi batin juga harus mengikuti langkah hati yang tertuju hanya kepada Allah dalam kondisi apa pun, yang terlepas dan melepaskan diri dari belenggu maksiat atau pun syubhat.

Semua orang bisa mencapai tahap khusyuk seperti yang dijelaskan di atas, tetapi membutuhkan proses dan keyakinan yang kuat. Terus berusaha dan belajar untuk mewujudkan shalat yang khusyuk dalam shalat dan mendapatkan ridla-Nya atas segala amal perbuatan yang dilakukan. Wallahu a’lamu.

Penulis: Hayat (Dosen Universitas Islam Malang; Peneliti di Lakpesdam NU Kota Malang; Anggota Sahabat Pena Nusantara)

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

JEMBATAN KESUKSESAN DAN KEBAHAGIAAN

Kebahagiaan dan kebaikan merupakan salah satu tujuan bagi hampir seluruh lapisan masyarakat. Dalam kalimat lain, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *