Monday , September 25 2017
Home / Kolom / Musyawarah Sebagai Soko Guru Pesantren dan NU
KH. Roghib Mabrur - Rembang

Musyawarah Sebagai Soko Guru Pesantren dan NU

Dalam pesantren dikenal istilah  musyawarah atau bahtsul masail. Musyawarah merupakan salah satu soko guru (tiang utama) Pesantren. Musyawarah juga merupakan salah satu ciri khas jami’iyah kita Nahdlatul Ulama’ (NU). Perintah untuk bermusyawarah ini langsung datang dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. “Dan bermusyawarahlah dengan mereka pada setiap masalah” (QS. Ali Imron : 159)

Nabi Muhammad yang berakal sempurna, mempunyai kecerdasan yang luar biasa saja masih diperintahkan Allah untuk bermusyawarah. Bagaimana dengan kita yang mempunyai akal dan pemahaman yang pas-pasan? Tentunya kita lebih diperintahkan lagi untuk bermusyawarah.

Ada berbagai kemanfaatan yang bisa kita dapatkan dari bermusyarah, diantaranya:

1- Menggali pendapat dari anggota musyawarah (Musyawirin). Dengan banyaknya pendapat yang masuk maka semakin luas pula cara pandang kita terhadap suatu permasalahan yang berpengaruh pula terhadap jawaban atas permasalahan tersebut.
2- Melatih keberanian untuk mengeluarkan pendapat dengan cara yang baik, santun dan dikemas dalam wadah yang baik pula yakni musyawarah itu sendiri. Sayyidina Ali pernah berkata, “Tidak akan rusak seseorang karena melakukan musyawarah “.
3- Ilmu yang dihasilkan dengan cara susah payah (musyawarah) akan lebih menancap (rasikh) dalam hati seseorang, dibanding dengan ilmu yang dihasilkan melalui belajar sendirian.
4- Selain melatih mengeluarkan pendapat. Musyawarah juga melatih kita untuk malu (mengakui kesalahan) jika pendapat kita ditolak (radd) oleh anggota musyawarah yang lain. Kita tidak boleh gengsi dan terus ngotot mempertahankan jawaban kita yang salah.

Dari faidah yang ada, maka sungguh benar apa yang disabdakan Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya “Tidak akan rugi orang yang melakukan istikharah, tidak akan menyesal orang yang melakukan musyawarah”. Santri yang masih berkenan musyawarah, insya Allah tidak akan menjadi teroris.

Fenomena teroris yang semakin ramai hari ini, karena memang mereka tidak mempelajari agama melalui jalur yang benar ; berguru di pesantren dan bermusyawarah atas segala permasalahan. Orang yang menjadi teroris adalah mereka yang hanya belajar lewat internet, berguru  kepada Mbah Google. Tentu hal ini akan menjadikan pemahaman yang salah, dan tentunya jauh dari kata berkah.

Hendaknya kita menjaga dan meningkatkan tradisi musyawarah ini. Karena bagaimanapun ilmu yang diberikan kepada kita hanyalah sedikit. Allah SWT berfirman, “Tidak aku berikan kepada kalian kecuali ilmu yang sedikit”. Wallahu A’lam Bi Showab.

Penulis :
Abdul Mujib AS ( Santri PP.MIS Sarang Rembang)

*Tulisan ini disarikan dari Mauidzoh Hasanah KH. ROGHIB MABRUR dalam acara Malam Muwaddaah dan Tasyakkuran Forum Musyawarah Fathul Qorib dan Alfiyah (FMQA) Pondok Pesantren Ma’hadul Ilmi Asy-Syar’ie (PP.MIS) Sarang- Rembang- Jawa Tengah

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Meluruskan Klaim HTI tentang Kesamaan dengan NU

Artikel ini sebenarnya sudah saya tulis sekitar satu tahun yang lalu dan sudah dimuat di ...

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *