Thursday , November 23 2017
Home / Kyaiku / Prof. Dr. KH. Achmad Mudlor, S.H. (1937-2013 M)
Sumber: pesantrenluhur.com

Prof. Dr. KH. Achmad Mudlor, S.H. (1937-2013 M)

Abah Mudlor, begitu para santri memanggil Prof. Dr. KH. Achmad Mudlor, S.H., seorang kiai kharismatik, intelektual, organisatoris nan alim di bidang ilmu balaghoh ini. Seorang guru yang dikenal tegas dalam mendidikan terlebih dalam pendidikan spiritual dan keintelektualan. Kiai Achmad Mudlor dilahirkan pada 09 Agustus 1937 dari pasangan H. Muchdlor dan Hj. Nasiyah yang berasal dari Desa Kauman, Babat, Lamongan. Kiai Achmad Mudlor adalah anak keenam dari sepuluh bersaudara. Abhad Mudlor dilahirkan dari keluarga pejuang dalam bidang pendidikan. Berbagai jasa keluarga besarnya adalah mendirikan Madrasah At-Tahdzibiyah dan Madrasah Bintang Sembilan, selain juga mendirikan koperasi. Tak heran jika darah pejuang pun turun pada sosok Abah Mudlor.

Pendidikan dan Kiprah Organisasi
Pada saat berumur sembilan tahun, Abah Mudlor mondok di pesantren Sawahan, Babat. Selama tiga tahun yaitu sejak tahun 1948 sampai dengan 1951 mengabdikan diri kepada Kiai Mudloffar. Tepat pada 1 Januari 1950, Abah Mudlor menyelesaikan pendidikan formalnya di SR Islam di Babat yaitu MI At-Tahdzibiyah. Sejak masa itulah bakat berorganisasinya tumbuh. Bersama teman-temannya mendirikan sebuah orkes Bunga Tanjung yang terdiri dari lima personel. Pada setiap pementasan, Abah Mudlor yang kala itu masih kecil selalu ditunjuk sebagai MC sekaligus personil yang memainkan arkodion.

Tamat dari MI, Abah Mudlor melanjutkan pendidikan formalnya ke SGAI 4 (selesai tahun 1954) kemudian melanjutkan ke PGA Atas Muhammadiyah Bojonegoro selama tiga tahun. Dan setahun setelahnya, Abah Mudlor mengabdikan diri di sebuah lembaga pendidikan milik Muhammadiyah sembari menuntut ilmu di Pesantren Kendal yang terletak di daerah Dander Bojonegoro asuhan Kiai Abu Dzar. Setelah dari Kiai Abu Dzar inilah Abah Mudlor menentukan pilihannya untuk ngansu kaweruh ke Pesantren Langitan Tuban.

Pada tahun 1954, Abah Mudlor hijrah ke Semarang untuk melanjutkan sekolah di SMA C Semarang Jurusan Ekonomi Sosial. Selama dua tahun Abah Mudlor belajar di sekolah ini dan tinggal di masjid dekat kediaman Kiai Kholik yang saat itu menjadi tokoh NU Semarang. Kiai Kholiq sendiri masih kerabat dari Abah Mudlor. Hingga pada tahun 1955, Abah Mudlor memutuskan untuk kembali belajar di Langitan.

H. Muchdlor, ayah Abah Muhdlor, mendatangi pesantren Langitan untuk sowan pada pengasuh pesantren tersebut untuk matur bahwa putranya akan mondok di Langitan lagi. Menurut ketererangan, H. Muchdlor juga meminta secara pribadi agar putranya dapat mengabdi dan diberi kesempatan untuk mengajar. Akhirnya, Abah Mudlor kemudian diberi wewenang untuk mengajar kelas 4, 5, dan 6 MI Falahiyah Langitan.

Hal positif yang dilakukan Abah Mudlor di Langitan adalah memberikan ide untuk mendirikan sebuah forum halaqoh. Adapun ide tersebut diisi dengan adanya beberapa disiplin ilmu yang cakupannya antara lain tasawuf hingga filsafat, pembahasan hukum hingga ekonomi, dan juga kimia dan berbagai ragam disiplin ilmu yang lain. Dengan demikian, ilmu-ilmu yang diraih oleh santri bertambah dan terbentuk sikap ilmiah dengan adanya forum halaqoh tersebut.

Ketika Abah Mudlor membaca riwayat filsuf Imam al-Hakim at-Tirmidzi, Abah Mudlor tertarik untuk terus memperbanyak guru. Abah Mudlor memiliki cara yang cepat untuk mendapatkan ilmu. Awalnya mendekati kiai-kiai di kampung sampai ke seorang pengasuh pesantren bernama Kiai Ali Maksum. Setelah akrab dengan beberapa kiai tersebut, Abah Mudlor meminta untuk dibacakan kitab untuknya dengan imbalan bisyaroh sekadarnya. Hampir empat kitab selesai yang beliau pelajari dalam waktu kurang lebih satu minggu. Disamping itu, Abah Mudlor juga mempelajarai berbagai hizib di pesantren yang diasuh oleh Syaikh Muhammad al-Idris Cirebon.

Kemudian, disaat hasrat intelektualnya memuncak dan saat itu masih berada di Langitan, Abah Mudlor bertemu dengan Sayyid Muhammad Al-Jufri. Sayyid Muhammad al-Jufri memberikan pilihan tiga tempat untuk berjuang, yaitu Semarang, Jogjakarta, atau Malang. Abah Mudlor pun akhirnya memilih untuk pergi ke Kota Malang untuk memulai perjuangannya.

Ketika Abah Mudlor hendak pergi ke Kota Malang, beliau dititipi selembar surat oleh ayahnya untuk disampaikan kepada seorang tokoh kharismatik bernama Kiai Abdur Rahim. Saat itu, Kiai Abdur Rahim adalah Ro’is Syuriyah NU Kodya Malang. Kemudian oleh Kiai Abdur Rahim, Abah Mudlor dikenalkan dengan Rektor UNNU yaiti Prof. Dr. Moch. Choesnoe dan diangkat sebagai wakil staf Tata Usaha (TU).

Tidak hanya sebagai staf Tata Usaha, Abah Mudlor juga diangkat menjadi asisten pribadi Prof. Moch. Choesnoe. Dengan keseriusannya dalam bekerja beliau berhasil lolos tahap propedous saat mendapat kesempatan menempuh ujian pendidikan doktoral dengan tahap Propedous (lulus 1961), Kandidat (lulus 1962), Bakaliorat (lulus 1963), Doktoral I dan Doktoral II (lulus 1966) tanpa harus mengikuti perkuliahan. Beliau menikuti ujian tingkat lanjut yang diadakan APAI (Akademi Pendididikan Agama Islam), yaitu ujian kandidat dengan spesifikasi ujian yang sama yaitu filsafat umum.

Begitu banyak pengalaman yang dilalui abah Mdlor dimasa muda. Bersamaan dengan kelulusan, Abah Mudlor diamanahi dengan dua tanggungjawab sekaligus yaitu sebagai Bi’tsatul Hajj oleh Departemen Agama pusat dan ditunjuk sebagai pelaksana misi dakwah Islam di Gunung Agung Pulau Dewata Bali. Diwaktu beliau menjalankan amanah pertamanya, Abah Mudlor mendapatkan amanah tambahan dari Fakultas Tarbiyah Wa Ta’lim UNNU Malang untuk melakukan observasi dan studi banding ke Perpusatakaan al-Jami’ah al-Islamiyah di Madinah. Tujuannya adalah untuk mengetahui kondisi lapangan dan tata kelola perpusatkaan tersebut.

Abah Mudlor dinyatakan lulus ujian Bakaliorat dari Fakultas wa Ta’lim UNNU Malang pada tahun 1963 kemudian dipercaya untuk menjadi Panitia Perbaikan Haji (P3H) ke tanah Haram karena dinilai sebagai orang yang cukup bertanggungjawab. Selain itu, pasca kelulusan ini, Abah Mudlor diminta menjadi asisten rektor UNNU Malang dan jika rektor berhalangan hadir dalam suatu acara atau kegiatan tertentu maka Abah Mudlorlah yang mewakili. Abah Mudlor juga sempat menjadi asisten dosen Sholeh Waqi’ dalam mata kuliah ilmu balaghoh. Tiga tahun setelah lulus bakaliorat, Abah Mudlor diminta oleh Prof. Moch Choesnoe untuk mengikuti ujian selanjutnya. Akhirnya, ujian Doktoral I dan Doktoral II berlangsung selama beliau menjadi asisten dosen di IAIN Malang.

Karena pengetahuan dan kecerdasan Abah Mudlor yang telah teruji ini menarik perhatian rektor IAIN Surabaya yang saat itu adalah Drs KH. Abd. Jabbar Adlan (periode jabatan 1992-2000) untuk menobatkan Abah Mudlor sebagai guru besar filsafat pendidikan di IAIN. Untuk mencapai gelar tersebut, beliau harus mengikuti ujian penyetaraan setaraf doktor dengan mengajukan judul untuk disertasi. Sekitar pada tahun 2000, saat itu tidak perlu mengikuti perkuliahan untuk memiliki gelar doktor, cukup dengan menulis karya ilmiah setaraf doktor seperti yang dilakukan Abah Mudlor. Kemudian Abah Mudlor didatangi oleh Prof. Choesnoe dan memberikan titik terang, Prof. Choesnoe memberikan dua judul untuk proyek penulisan karya ilmiah setaraf disertasi tersebut. Setelah berdiskusi lama dengan Prof. Choesnoe, akhirnya Abah Mudlor memilih judul “Analisis Tansendental tentang Eksistensi Jin menurut Al-Qur’an dan Pengaruhnya Terhadap SDM”. Dipilihnya judul tersebut karena pendekatan studi yang dilakukan adalah studi literatur sementara judul yang lain adalah studi lapangan.

Dalam waktu yang cukup singkat, proposal telah selasai dibuat dan mendapat disetujui (accI). Dari pihak kampus di Malang diajukan ke IAIN Surabaya. Selanjutnya, beliau pergi ke Jakarta menemui tim guru besar yang ada di Departemen Agama, AIMS Jakarta. Proposal tersebut ditujukan kepada tim penyeleksi karya ilmiah. Setelah membaca judul proposal tersebut, tim AIMS langsung menolak dengan alasan justifikatif. Menurut mereka, transedental tidak menggunakan metode penelitian. Dibalik semua itu ada alasan yang paling mendasar, yakni konflik aliran. Anggota AIMS yang kebanyakan menganut faham Hanafiah hampir semuanya mengetahui bahwa Abah Mudlor merupakan tokoh Syafi’iyah yang berpengaruh di IAIN Malang pada masanya. Dengan menyetujui proposal terebut, sama halnya dengan membantu popularitas Abah Mudlor sebagai tokoh NU.

Abah Mudlor kembali ke Malang dengan perasaan kecewa begitu juga Prof. Choesnoe. Akhirnya Prof. Moh. Choesnoe menghubungi salah satu temannya di Universitas Leiden Belanda – Presiden Harvard International University bernama Harris Robert. Cabang univeritas ini dibuka di Jakarta dan Singapura. Prof. Chosnoe meminta agar Universitas Harvard bersedia menguji disertasi yang diajukan oleh Abah Mudlor. Prof. Choesnoe menegaskan bahwa bukan jin yang diteliti melainkan relasi kebradaan jin dan pengaruhnya bagi sumber daya manusia. Alhasil, mereka pun menyetujui untuk menguji Abah Mudlor.

Abah Mudlor di depan penguji Harvard International University memaparkan disertasinya dengan gaya tutur yang tenang dan dinyatakan lulus dengan gelar doktor pada 10 Desember 2000. Sertifikat kelulusan tercatat dikirim dari San Francisco, California, United State of California.

Darah perjuangan pendidikan dalam diri Abah Mudlor terus mengalir hingga akhir hayatnya. Salah satu amanah besar yang beliau emban sejak diterbitkannya SK Mendiknas No. 146/0/0/2000 yang terbit pada tanggal 10 Agustus 2000 berisi tentang persemian Universitas Islam Lamongan yang sudah kali ketiga berada di bawah kepemimpiannya. Semenjak menjabat sebaai rektor sampai akhir hayatnya, UNISLA mengalami perkembangan yang sangat pesat.

Abah Mudlor dilahirkan sebagai seorang pejuang, bersama Prof. Moch. Choesnoe dan KH. Oesman Mansur, terlibat dalam mendirikan IAIN Sunan Ampel Malang atau yang sekarang terkenal dengan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Oleh usul menteri agama, berdirinya IAIN Sunan Ampel Malang ini dipelopori oleh UNNU (sekarang UNISMA) dan Pesantren Luhur. Sehingga pembangunan dan perkembangan IAIN Sunan Ampel Malang ini melibatkan UNNU dan Pesantren Luhur. Selain mempelopori berdirinya IAIN Sunan Ampel Malang, Pesantren Luhur dan UNSURI membuat Fakultas Hukum yang kemudian berubah nama menjadi Sekolah Tinggi Hukum Islam (STIH) UNSURI Malang, Abah Mudlor dikenal sebagai guru yang sangat mahir bertutur lisan dalam menyampaikan ilmu pengetahuan di ruang kelas.

Saat memimpin UNISLA, Abah Mudlor diminta untuk menjadi pimpinan tim peneliti yang menyumbangkan pikiran dan tenaganya untuk menemukan artefak-artefak sejarah peninggalan Sunan Giri yang masih terpendam. Tanpa tim ini, besar kemungkinan sejarah peninggalan tersebut hilang seiring dengan perkembangan zaman.

Khidmad di Pesantren Luhur
Awal mula berdirinya pesantren Luhur berada di Claket Kota Malang, hingga akhirnya Abah Mudlor memilih jalan Sumbersari sebagai lokasi Pesantren Luhur sampai saat ini. Semasa hidupnya Abah Mudlor sering menyumbangkan uang pribadinya untuk kepentingan pesantren. Pernah salah satu putra beliau mengusulkan untuk menempati rumah yang sengaja dibeli untuk memperlebar area pesantren, namun Abah Mudlor tidak begitu saja mengiyakan. Putra beliau diijinkan untuk menempati bagian bawah yang sempit, sedangkan bagian atas digunakan untuk pelebaran pondok untuk santri putri.

Untuk menambah kemampuan spiritual dan intelektualitas santrinya. Abah Mudlor mengajarkan dan membiasakan berwirid, selain itu untuk memaksimalkan intelektualitasnya dengan halaqoh. Halaqoh ini bertujuan untuk berbagi ilmu yang merupakan strategi belajar dengan cara bandongan yang diterapkan di pesantren-pesantren. Menurut cerita dari para santri, halaqoh tersebut didampingi langsung oleh Abah Mudlor. Metodenya, setiap santri harus memberikan ceramah ilmiah di atas mimbar dengan makalah yang sudah disiapkan sebelumnya. Apabila makalah tersebut dinilai tidak sesuai, maka santri yang menyampaikan makalah tersebut diminta untuk merevisi bahkan terkadang ada yang langsung diturunkan dari mimbar. Metode ini sangat baik untuk melatih para santri untuk selalu menyampaikan kebenaran ilmiah, tidak asal ngarang.

Abah Mudlor adalah teladan yang amat konsisten pada tujuan utamanya dalam rangka berjuang li i’lai kalimatillah. Dalam hidupnya, selalu memprioritaskan kemanfaatan pada orang lain. Untuk mencapi cita-cita besarnya, Abah Mudlor memiliki semboyan hidup yaitu Hum Rijaalun Nahnu Rijaalun (mereka lelaki kita juga lelaki). Ada sebuah ungkapan lain yang terkenal di kalangan para santri (dan mahasiswa).

“jangan takut mati karena belum makan dan minum tapi takutlah mati karena tidak berjuang”.

Keseriusannya dalam berjuang, Abah Mudlor menjadi salah satu tokoh muslim terkemuka di Jawa Timur. Dalam sehari-hari, Abah Mudlor selalu mempelajari dan mempraktikkan apa yang ada dalam kitab Ta’limul Muta’alim. Beliau merasa cocok dengan dua bait yang ada pada kitab tersebut, yang pertama “Likulli yaumin ziyadatun minal ‘ilmi washbah fi buhuuril fawaidi”, (tiap hari bertambah ilmu dan bergelimang dalam lautan yang berfaedah). Bait berikutnya berbunyi, “Bijiddin laa biijiddin kullu majdin fahal jaddun bilaa jiddin bimujdi” (segala sesuatu bisa dicapai dengan semangat, kemmpuan, dan juga kearifan Tuhan). Kedua bait tersebut dijadikan semboyan dalam kehidupan Abah Mudlor, terdapat dua hal yang sangat berpengaruh pada rahmat dari Allah SWT yaitu usaha (ikhtiyar) dan do’a.

Sumber:
Percikan Kenangan dan Perjalanan Alm. Prof. Dr. Kyai H. Achmad Mudlor, S.H. 2013. Malang.
www.moslemwiki.com

Penulis: Siswi Mufti Arifina
Penyelia: Abdur Rahim Ahmad

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

KH. Rusydi bin Abdullah Poncokusumo Malang (1928 – 2006)

KH. Rusydi bin Abdullah dilahirkan pada 27 Nopember tahun 1928 di Desa Ketitang Poncokusumo. Beliau ...

2 comments

  1. Koreksi, untuk alamat Website pesantren luhur yg benar ini, pesantrenluhur.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *