Sunday , October 21 2018
Home / Kolom / TEHRAN, PESONANYA SEMPURNA
Foto: Penulis ketika di salah satu universitas

TEHRAN, PESONANYA SEMPURNA

Mendapat kesempatan berkunjung ke Iran sungguh menyenengakan. Negeri yang dalam sejarah sering disebut Persia ini memiliki daya tarik tersendiri bagi saya dan beberapa orang yang penasaran dengan kekuatannya dalam mengimbangi kekuatan asing yang berusaha melemahkan bahkan mungkin ingin menghancurkan. Iran dengan kelebihannya pada Turats Islami dan sumber daya alam seperti minyak, gas alam, batu bara, bijih besi, tembaga, kromium, mangan, gipsum, timah, seng, dan bauksit (biji aluminium) cukup memiliki nilai tawar karena berada di jalur strategis Asia dan Eropa.

Negeri yang 99 % penduduknya muslim ini mampu berdiri sama tinggi dengan negara super power sekalipun. Bahkan ketika pertama kali  saya berkunjung, atas undangan Universitas Guilan di Kota Rast, tiga tahun silam, bertepatan dengan peringatan revolusi, saya menyaksikan sendiri bagaimana rakyat tumplek blek didampingi pemimpinnya menunggu bukti ancaman yang kenyataannya tidak pernah terbukti bahkan sampai hari ini. Sungguh, nasionalisme masyarakat Iran tidak terkalahkan. Saya membayangkan, andaikan rakyat Indonesia bersama pemimpinnya bisa memiliki perasaan serupa, tentu kekuatannya melebihi mereka.

Kunjungan kali ini atas undangan Universitas Tehran untuk berpartisipasi dalam konferensi Budaya Asia. Kesempatan ini harus saya manfaatkan demi memenuhi hasrat yang tidak mudah terpenuhi karena jarak yang terbilang jauh. Saat tiba di bandara Internasional Imam Khomeini di Tehran, suasana memang belum banyak berubah, hampir sama seperti tiga tahun silam. Bedanya kalau dulu saat datang kebetulan salju turun sehingga merasakan seperti di bumi Eropa, kali ini hanya dingin yang di bawah 10c. Sayang kedatangan saya tidak sejak kemarin, sehingga tidak bisa mengikuti city tour yang telah dipersiapkan panitia sejak pagi tadi. Di sepanjang jalan menuju kedutaan RI di Tehran, saya menyaksikan pemandangan alam yang unik bila dihubungkan dengan bergaining position Iran dengan Negara Teluk lainnya. Tidak seperti ibu kota negara lain, Tehran sebagai Ibu Kota Iran cukup bersahaja. Jangan berharap berjumpa mall dan rumah makan cepat saji yang begitu marak di negeri kita, Tehran menata diri sedemikian rupa agar tampak sebagai milik rakyatnya sendiri. Kemandirin dan kepercayaan diri Iran yang kuat menjadikan negeri ini tetap memiliki wibawa, karena memang memiliki sejarah panjang bagi terbentuknya peradaban yang matang di dunia Islam.

Tehran dengan panorama alam yang unik, berada di kaki pegunungan Albozr dengan penduduk mencapai jumlah sekitar sebelas juta jiwa. Komunitas masayarakat terdiri dari  berbagai kelompok etnis dan suku, seperti Azerbaijan Turki, Kurdi, Lur, Bakhtiaris, Arab, Qashqai, Baluchi, dan Turkoman.

Tidak seperti yang diberitakan oleh media mainstream, Tehran aman bahkan saat ramai-ramai soal demonstrasi beberapa hari yang lalu, “hanya petasan kecil,” kata seorang mahasiswa di Universitas Tehran. Berbeda juga dengan yang tersebar di berita, fakta di Tehran, sebagai representasi Iran, bermacam tempat ibadah untuk berbagai umat beragama tersedia. Gereja, Sinagog untuk kaum Yahudi, bahkan tempat ibadah untuk penganut Zoroaster, yaitu agama orang Persia kuno masih bisa disaksikan. Bagaimana masjid ? kalau itu tidak perlu ditanyakan karena dari nama negara dan simbol yang digunakan sudah menandakan bagaimana keislaman masyarakat Iran, yang bisa dikatakan berhasil menyatukan konsep beragama dan bernegara sekaligus. Hanya sedikit beda dengan kita, kalau di sini tampak bergemuruh dengan hiruk pikuk yang luar biasa dalam keberislaman, di Iran seperti dalam kesunyian yang mengakar dan penuh penghayatan.

Memang patut sangsi bila tidak menyaksikan dengan mata kepada sendiri bagaimana damai dan ramahnya masyarakat Iran. Keraguan akan toleransi dan keamanan di Iran juga dialami oleh delegasi Negara lain. Teman dari Vietnam, Korea, dan Filipina mengutarakan dengan terang-terangan bagaimana kekhawatiran mereka sebelum terbang ke negeri para Mulla ini. Saya mengalami sedikit hambatan ketika mau masuk ke Singapura hanya karena di paspor tertulis pernah berkunjung ke Iran. Begitu juga saat kembali ke tanah air waktu itu, pertanyaan ganjil dari petugas bandara terlontar,sebagai bukti mereka termakan media. Bahkan saya terheran-heran ketika berkeliling melihat pemandangan kota, ternyata ada juga toko yang menjual simbol agama lain sebagai bukti bagaimana Iran memberi ruang bagi non muslim. Keheranan yang luar biasa juga saya alami ketika berkunjung ke Qum, sebagai kota suci di Iran, saya menyaksikan simbol yang sama di sebuah toko dekat masjid di mana makam Sayyidah Fatimah dimakamkan.

Sebenarnya ada taman yang menarik di Tehran, taman Mellat dan Sa’i yang menjadi primadona tourits maupun masyarakat Tehran, di samping tempat wisata lainnya, yaitu monumen nasional, yaitu Tugu Shahyad, atau Tugu kebebasan (Freedom Monument), peninggalan masa pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi. Sayang karena waktu, tempat-tempat tersebut hanya bisa saya dengar dari cerita dan tayangan yang saya saksikan di media. Satu-satunya tempat wisata yang sempat saya kunjungi dalam agenda kunjungan ini adalah Tehran Milad Tower, menara yang eman jika tidak dijadikan salah satu destinasi jika berwisata ke Iran. Menara ini baru selesai dibangun beberapa tahun silam dan tercatat sebagai menara tertinggi nomor enam di dunia. Dari puncak Milad Tower ini, kita bisa menyaksikan pemandangan luas kota Tehran yang menjadi Ibu Kota Negara yang pernah dikuasai oleh Kekaisaran Media pada 728-550 SM.

Soal toleransi dan keramahan, jangan ditanyakan karena itu sudah tercermin dari sang sufi yang selalu menggunakan bahasa Persia dalam bait-bait syairnya, Jalaluddin Rumi. Simaklah sebagian liriknya “Perindu itu tidak harus muslim atau kristiani, tidak juga bagian dari keyakinan apapun. Agama cinta tak terikat madzhab, kemarilah, meskipun engkau telah beribu kali mengingkari janji. Kemarilah, mari berbincang tentang Tuhan. Akhirnya, saya bergumam sendiri, andai saja bisa, saya akan ajak mereka yang berkata tidak sesuai dengan fakta ini. Agar mereka tahu bahwa negeri ini menyajikan keindahan luar dalam, dan tidak bisa dipungkiri, Persia dalam pengertiannya yang tidak sebatas negara, memiliki kontribusi besar bagi kemajuan sains dan peradaban dunia.

Penulis : Ahmad Kholil (Dosen Fakultas Humaniora UIN Malang)
Penyelia bahasa: Abdur Rahim

About Admin

"Dari aswaja untuk bangsa" | Admin Utama | tasamuh.id@gmail.com | i.g @tasamuh.id | Lakpesdam Kota Malang

Lihat Juga

Telaah Pemikiran KH. Masjkur Singosari (Bagian 2)

Pada Rapat PPKI yang diselenggarakan pada tanggal 18 Agustus 1945, KH Masjkur berpendapat bahwa dasar ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *